Nadia mengawali pagi seperti biasanya, kini ia sedang bersiap untuk sarapan bersama kedua orang tuanya sebelum berangkat kuliah.
"Papa sama Mama gak ada yang mau dibicarain sama Nadia?" Nadia bertanya sebelum memulai sarapan.
"Kamu ada yang mau dibicarain, Nad? Habis sarapan ya," balas sang mamah.
Nadia memutar bola matanya. Ia memperhatikan keduanya memakan sarapan masing-masing sementara ia sangat tidak berselera. Ia meminta bibi membuatkannya bekal untuk di kampus.
"Nadia mau sekarang," keukeuh gadis itu yang tentunya tidak ditanggapi. Tidak ada cara lain selain berkata, "Tentang perceraian kalian."
Sang mama tersedak ketika mendengar ucapan yang keluar dari mulut anak semata wayangnya. Ia buru-buru minum lalu menoleh ke arah Nadia. Ekspresinya sangat jelas terlihat penasaran. Seakan bertanya, "Tau dari mana?"
Sementara sang papa menggebrak meja. "Diam dan makan sarapan kamu."
Ya, sudah dibilang kan kalau mereka terbiasa makan dengan khidmat.
Tentu suara tegas dari sang papa membuat gadis itu terdiam, sedangkan mamanya melanjutkan makan tanpa bicara apa pun. Setelah bibi memberikan kotak bekal, ia langsung beranjak dengan sedikit kasar.
"Selamat menikmati perceraian, Nadia gak akan pulang," ucap Nadia sebelum mengambil koper ke kamarnya.
"Nadia!"
Gadis itu pergi tanpa menghiraukan panggilan sang papa. Suasana pagi di keluarga itu tidak lagi harmonis. Nadia yang dulunya selalu menurut akhirnya memutuskan mengambil pilihannya sendiri.
Ia meninggalkan rumah setelah taksi online (taksol) yang dipesannya datang. Nadia tertawa miris, mamanya bahkan tidak menahan untuk pergi. Sangat lucu.. seorang ibu yang melahirkannya justru mengabaikannya begitu saja.
Gadis itu memutuskan ke kos Salsa setelah semalam menceritakan rencana perceraian orang tuanya. Mulai saat ini ia akan membebaskan kedua orang tuanya, membiarkan mereka menyelesaikan urusannya sendiri.
Kakinya melangkah sambil menyeret koper. Nadia melihat tatapan bingung dari para penghuni kos di tempat Salsa. Mungkin mereka akan mengira kalau dirinya menjadi penghuni baru.
Tok tok
"Sal, ini gue."
Salsa membuka pintu kala mendengar ketukan dan suara yang ia kenali. Gadis itu memeluk Nadia dengan erat seraya mengusap punggung temannya.
"Sini masuk."
Nadia memasuki kamar Salsa setelah diizinkan. Kos itu agak sempit untuk mereka berdua karena memang dikhususkan satu orang. Oleh sebab itu Nadia membiarkan kopernya ditinggal di luar.
"Makasih, Sal, gue izin nginep beberapa hari ya," ucap Nadia sambil bersandar di tembok kamar.
"Santai. Lo nginep dua minggu juga boleh sekalian nunggu kamar di sini kosong."
Gadis itu mengangguk saja. Sebetulnya ia masih belum tau akan sewa kos di sini atau tidak.
"Siapa aja yang tau tentang ini?" Salsa bertanya setelah membuka beberapa camilan dan minuman di hadapan Nadia.
"Cuma lo sama Zaid."
"Jevian?"
Gadis itu menggeleng, tidak tau kapan ia bisa memberitahu sahabatnya itu.
"Gak dikasih tau?" tanya Salsa lagi.
"Tadinya mau," jelas Nadia. "Tapi dia lagi sibuk anter jemput pacarnya."
KAMU SEDANG MEMBACA
My Beloved Friend [END]
Teen Fictioncw // harsh words Bagi Nadia, berteman dengan Jevian adalah hal yang patut ia syukuri. Jevian adalah orang yang baik dan tidak pernah memandang rendah orang lain. Sifatnya itulah yang perlahan membuat Nadia jatuh suka. Di samping itu, ada sosok lela...
![My Beloved Friend [END]](https://img.wattpad.com/cover/352949875-64-k815624.jpg)