Di sini lah Nadia berada, mengikuti kelas pak Arif dengan Salsa yang duduk di sebelahnya. Sementara Zaid memutuskan duduk jauh darinya. Begitu pun Jevian yang memilih duduk di belakang.
Tentunya kejanggalan itu terlihat jelas oleh gadis di sampingnya. Sedari tadi Salsa berusaha menahan rasa penasarannya karena ini masih di jam kelas.
"Sstt, lo bertiga kenapa sih?" bisik Salsa yang mulutnya sudah gatal dan tidak bisa menahan lebih lama. Padahal kelas pun akan selesai 10 menit lagi.
"Siapa?" tanya balik Nadia, pura-pura tidak paham.
"Lo, Jevian, Zaid."
"Kenapa emangnya?"
"Jauhan gitu duduknya, biasanya kan deketan?"
Nadia mengedikkan bahunya, lalu ia menyuruh Salsa fokus dengan perkataan pak Arif sebelum dosen itu menciduk keduanya yang mengobrol.
Salsa berdecak, kalau begitu ia akan bertanya di luar kelas sampai mendapat jawaban dari gadis itu.
Kelas pun ditutup dengan closing statement dari salah satu mahasiswa yang menyampaikan kesimpulan kuliah hari ini. Pak Arif memang menerapkan pembelajaran seperti itu agar seluruh mahasiswa mau tak mau harus mendengarkan kuliahnya.
Satu per satu mahasiswa mulai keluar dari kelas. Sesekali banyak pasang mata yang menatap Nadia dengan aneh. Mungkin karena pernah ada video hoax yang beredar.
Oh, Salsa sudah memberitahu Nadia kalau video itu sudah di-takedown. Namun ia tidak memberitahu tentang Selina yang meloloskannya. Sejauh ini Nadia termasuk orang yang cukup dekat dan berteman baik dengan Selina.
Nadia itu gadis yang lugu. Sekalinya diperlakukan baik oleh orang, gadis itu akan seterusnya menganggap bahwa orang tersebut baik. Tanpa mempertimbangkan hal lain yang mungkin membuat orang itu bersikap aneh.
Sama seperti sekarang, gadis itu sudah didatangi Selina yang memasang senyuman manis. Bagaimana mungkin Nadia tau kalau itu senyuman palsu. Biarlah mereka berteman dan Salsa yang menjadi pemerhati.
"Nad, jujur gue ikut kesel kemarin ada berita hoax tentang lo. Tapi gue yakin 100% kalo lo gak gitu orangnya. Lo anak baik-baik, jadi gak mungkin gitu. Ya kan?"
Huek.
Rasanya Salsa ingin muntah.
Beda halnya dengan Nadia, gadis itu tersenyum ramah. "Thank you udah percaya sama gue, Lin. Yang di video itu bokap gue."
Selina mengangguk. "Iya, gue udah denger dari Salsa."
"Kalo gitu gue balik duluan ya, abaikan aja orang-orang yang jahat sama lo," kata Selina seraya menepuk bahu Nadia.
"Iya, Lin, hati-hati."
Nadia membereskan perlengkapan kuliahnya lagi sementara Selina berjalan keluar kelas seraya mengobrol dengan Caca.
"Ke kosan gue dulu gak? Kelas lo masih lama kan?" tanya Salsa setelah keduanya meninggalkan ruangan.
"Nggak ah, mager. Gue nunggu di kampus aja. Tapi temenin makan siang dulu ya?"
"Ayo gue juga laper."
.
.
Jevian memilih berkumpul di ruang HIMA bersama teman-temannya. Lelaki itu sekalian rapat mingguan dengan anak-anak PSDM.
"Bang Jev?"
Beberapa anggota Jevian berusaha memanggil lelaki itu yang terlihat melamun.
Jevian masih belum sadar dengan sekitarnya. Pikirannya berkelana mengkhawatirkan Nadia yang mungkin saja bertemu dengan gadis-gadis yang melabraknya kemarin. Ya meskipun ia sudah tau kalau video di base sudah di-takedown.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Beloved Friend [END]
Novela Juvenilcw // harsh words Bagi Nadia, berteman dengan Jevian adalah hal yang patut ia syukuri. Jevian adalah orang yang baik dan tidak pernah memandang rendah orang lain. Sifatnya itulah yang perlahan membuat Nadia jatuh suka. Di samping itu, ada sosok lela...
![My Beloved Friend [END]](https://img.wattpad.com/cover/352949875-64-k815624.jpg)