Keesokan harinya Nadia terbangun dan sadar jika semalaman dirinya tertidur di kamar Jevian. Lelaki itu tidak ingin ditinggal setelah Nadia membawa Jevian ke kamarnya.
Nadia memandangi wajah lelap sang sahabat. Terlihat jelas kelopak mata lelaki itu bengkak, membuat Nadia tersenyum sendu. Ini pertama kalinya Nadia melihat Jevian terpuruk dan rapuh.
"Udah bangun?" tanya Jevian seraya mengerjapkan matanya.
"Udah," balas Nadia lalu beranjak dari kasur. "Gue duluan. Lo jangan lupa mandi terus ngompres mata ya."
Jevian mengangguk. Sebelum Nadia hilang ditelan pintu, Jevian berkata, "Makasih, Nad."
.
.
"Udah siap? Ketemu Ibu?" tanya Nadia memastikan keadaan Jevian.
"Sedikit gak siap, lo jangan tinggalin gue!"
Nadia mengangguk dan membawa Jevian ke makam ibunya setelah mereka sarapan. Itu permintaan Jevian yang ingin mengunjungi sang ibu.
Setelah sampai di makam, Jevian membawa Nadia mendekat dan meminta gadis itu untuk menemaninya.
"Ibu, maafin Jean," kata Jevian setelah keduanya menyapa. "Maaf Jean gak inget sama kejadian hari itu. Kalo aja Jean dengerin Ibu, pasti Ibu masih di sini kan?"
Nadia hanya mendengarkan pernyataan penyesalan lelaki itu. Tadi pagi, ayahnya Jevian bercerita jika sedari kecil Jevian menderita penyakit jantung.
Puncaknya ketika Jevian study tour ke Lombok waktu kelas 3 SMA. Di sana Jevian nekat melakukan diving. Dan berakhirlah ia di rumah sakit karena kesulitan bernapas.
Di saat itu pula jantung lelaki itu melemah. Hingga di mana Jevian hampir kehilangan denyut jantung, meskipun sepersekian detik. Namun, itu yang membuat ibunya khawatir dan menginginkan Jevian punya lebih banyak waktu, setidaknya untuk hidup bahagia dengan normal.
Dan entah kenapa setelah dilakukan transplantasi jantung, Jevian seketika melupakan masa kelamnya itu. Bahkan ia tidak ingat bahwa sang ibu pergi akibat menyelamatkan dirinya.
Ada pepatah mengatakan, "Jika seorang anak pergi, orang tua akan kehilangan masa depannya tetapi jika salah satu orang tua yang pergi, anak akan kehilangan masa lalunya."
Tentu, dari kedua pernyataan itu tidak ada yang lebih baik. Sebab, kehilangan seseorang itu sangat menyakitkan.
Nadia tersadar dari lamunannya ketika mendengar Jevian menangis. Dengan pilu gadis itu menepuk punggung Jevian, memberi kekuatan untuk terus mengungkapkan isi hatinya pada sang ibu.
Setelahnya, Nadia memutar tubuh lelaki itu. Dengan spontan Nadia mengusap air matanya. Jevian-nya terlihat sedih, sangat sedih, dan Nadia bisa melihat itu dari tatapannya yang sayu.
Nadia membawa Jevian ke dalam pelukannya. Ia mengusap punggung lelaki itu seakan bilang semua akan baik-baik saja.
Seraya memeluk Jevian, Nadia mengusap nisan sang ibu.
"Terlepas dari permintaan maaf Jean, Nadia mau bilang makasih banyak sama Ibu karena udah ngasih seluruh hidup Ibu untuk Jean. Nadia akan jaga dia seperti saudara sendiri. Jean pantas bahagia, Bu, kalo itu yang Ibu khawatirkan."
Nadia tidak lagi mendengar isak tangis dari Jevian.
"Tolong bilangin Jean, Bu. Nadia sayang dan gak akan ninggalin dia dalam kondisi apa pun."
.
.
"Sayang? Gimana, gimana?" tanya Jevian setelah keduanya sampai di rumah.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Beloved Friend [END]
Fiksi Remajacw // harsh words Bagi Nadia, berteman dengan Jevian adalah hal yang patut ia syukuri. Jevian adalah orang yang baik dan tidak pernah memandang rendah orang lain. Sifatnya itulah yang perlahan membuat Nadia jatuh suka. Di samping itu, ada sosok lela...
![My Beloved Friend [END]](https://img.wattpad.com/cover/352949875-64-k815624.jpg)