19 - Have Words

12 3 0
                                        

Malam itu Jevian sampai di kos pukul 10 lewat. Lelaki itu tidak mampir ke asrama kekasihnya karena jam malam sudah terlewati. Berharap saja bahwa Rara tidak marah besar padanya.

Jevian memasuki ruang santai setelah bertanya pada Dimas melalui pesan. Ia melihat sekeliling yang isinya lagi-lagi hanya geng mereka.

"Thanks, Dim. Sori gue bawa motor lo kelamaan."

"Santai, asal lo isiin bensin aja sih, hahaha."

Jevian terkekeh. "Aman, aman."

"Lagian lama amat di rumah Nadia, ngapain aja?"

Jevian menoleh ke sumber suara, pertanyaan yang Zaid lontarkan terdengar tidak ramah di telinganya. Apalagi lelaki itu bertanya dengan ekspresi datar.

"Lo cemburu?" tanya Jevian pada lelaki yang duduk tak jauh darinya. Tanpa ia bertanya pun sebenarnya sudah jelas bahwa Zaid cemburu.

"Gue nemenin Nadia sama nyari penyebab videonya bisa direkam," kata Jevian kala tidak ada respons dari Zaid di pertanyaan sebelumnya.

"Udah ketemu?" tanya Amir.

"Dari hadiah yang dititipin ke gue kemarin, ada kamera CCTV yang disembunyiin di situ."

"Njirr."

"Terus gimana? Orangnya udah ketemu juga belum?"

"Bokapnya yang bakal turun langsung buat ngelurusin masalah sekalian laporin anak itu."

Mereka hanya mengangguk, semoga semuanya kembali baik-baik saja.

Jevian beranjak setelah pamit untuk ke kamarnya, ia cukup lelah dan membutuhkan istirahat yang banyak malam ini.

"Gue harap lo gak marah soal ini," bisik Jevian pada Zaid sebelum dirinya pergi.

.

.

Zaid memarkirkan motornya di pekarangan rumah Nadia. Semalam gadis itu menceritakan keseluruhan yang terjadi melalui sambungan telfon. Ia cemburu kala Jevian yang ada di samping Nadia dan bukan dirinya.

"Pagi, Zaid," sapa Nadia dengan senyumannya.

"Pagi, udah siap?" tanya lelaki itu yang langsung diangguki.

Nadia tersenyum lagi kala Zaid memakaikan helm lalu menurunkan footstep penumpang agar gadis itu mudah menaiki motornya. Hatinya menghangat menerima perilaku yang menurutnya sangat spesial. Tidak banyak yang bisa melakukan itu.

"Makasiihh."

Zaid mengangguk lalu membawa motornya membelah jalan raya yang cukup ramai.

"Nad?" panggil lelaki itu setelah lama mereka berdiam diri.

"Iya?"

Zaid menatap Nadia melalui spion, jujur ia agak ragu untuk meminta sesuatu pada gadis itu.

"Kalo lo ada apa-apa, bisa gak minta tolongnya ke gue aja?"

Nadia mengerti, ia paham kalau Zaid cemburu. Namun kejadian kemarin memang tidak terduga dan ia meminta Jevian datang pun untuk hal lain.

"Sorry.."

Hanya itu yang bisa Nadia ucapkan. Entahlah, rasanya lelaki di depannya seakan menyuruhnya untuk tidak berinteraksi banyak dengan Jevian.

"Can I ask you something, Nad?"

Gadis itu mengangguk. "Anything."

"Apa lo masih ragu sama perasaan lo sendiri?"

Diberi pertanyaan seperti itu membuat Nadia terdiam, ia ikut bingung dengan perasaannya. Apakah dirinya masih suka dengan Jevian? Lalu bagaimana dengan Zaid? Ia tidak tau cara membuktikan perasaannya sendiri.

My Beloved Friend [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang