"Halo, Om," sapa Jevian kala melihat papanya Nadia menunggu di pagar rumah. Sudah menjadi kebiasaan di keluarga itu, jika sang anak akan pulang ia wajib memberi kabar pada papanya sehingga sang papa, dan mungkin mama, akan menunggu di depan rumah.
"Halo, Jevian, apa kabar?" tanya pria itu seraya tersenyum.
"Kabar baik. Om dan Tante juga baik?"
Suasana terdiam lama hingga Nadia melihat papanya mengangguk patah-patah.
"Syukur kalo gitu, Om. Oh ya, Tante mana?"
Jevian memang biasanya melihat kedua orang tua Nadia ketika ia mengantar anak gadisnya pulang. Namun saat ini yang ia temui hanya papa Nadia, jadi ia bertanya.
"Ada di dalam."
Jawaban singkat papanya membuat Nadia membuka suara.
"Mampir dulu yuk? Udah lama gak makan bar—"
Ucapan Nadia dipotong oleh sang papa.
"Sudah mendung. Mampirnya kapan-kapan aja ya, Jev. Hati-hati di jalan."
Kalimat terakhir itu seakan meminta Jevian untuk segera angkat kaki dari rumahnya.
Lelaki itu melihat Nadia mengomel pada sang papa karena dirinya langsung disuruh pulang. Tapi mungkin sekarang memang bukan waktu yang tepat untuk mampir walau jujur saja dirinya lapar.
"Mari, Om."
Jevian melajukan motornya dari pekarangan rumah Nadia.
Gadis itu berjalan masuk ke rumah, meninggalkan sang papa yang masih berdiri di sana. Sesaat memasuki rumah, ia melihat bibi—yang bekerja—sedang membersihkan pecahan kaca di lantai. Ia melamun sejenak membuat sang bibi menatap ke arahnya.
"Ada apa, Bi?" tanya Nadia dengan muka penasarannya.
"Bibi gak sengaja jatuhin gelas, Neng," balas bibi tanpa menghentikan kegiatannya.
Gadis itu mengangguk dan segera pergi ke kamarnya, merebahkan diri di kasur lalu menutup matanya dengan lengan. Gadis itu menghela napas pelan.
Udah dimulai, ya?
.
.
"NADIA!"
Teriakan Hisan menggema di ruang kelas fotografi. Beruntung masih ada sisa 5 menit sebelum kelas dimulai dan dosen pun belum datang.
Nadia menoleh, agaknya lelaki itu menahan kesal karena dicueki. Fyi, semakin hari ia dan Hisan semakin berteman dekat hingga keduanya sudah tau karakter asli masing-masing.
Seperti yang dijelaskan sebelumnya, Hisan adalah orang yang ekspresif sehingga Nadia tau kalau lelaki itu kesal.
"Kenapa sih, San, teriak-teriak? Malu noh cewek-cewek yang suka sama lo bisa jadi ilfeel."
Hisan melempar tasnya ke kursi di depan Nadia, tentu membuat gadis itu terkejut bukan main, bagaimana kalau tasnya tidak mendarat di meja melainkan di wajah cantiknya? Hisan memang benar-benar!
"Apa sih?!" geram gadis itu. "Kalo punya mulut tuh ngomong anjir jangan sok silent treatment tapi gedebak-gedebuk."
"Lagian lo gue panggil gak nyaut-nyaut," katanya. "Kamera gue mana? Minggu lalu lo pinjem buat tugas semesteran ya! Sekarang mana?"
Gadis itu mengalihkan perhatiannya ke tangan Hisan yang disodorkan ke hadapannya. Ia tiba-tiba lupa pernah meminjam kamera pada Hisan.
"Di mana ya? Wait.. gue lupa minggu lalu minjem kamera lo," balasnya seraya memikirkan kapan terakhir kali ia memegang kamera lelaki itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Beloved Friend [END]
Teen Fictioncw // harsh words Bagi Nadia, berteman dengan Jevian adalah hal yang patut ia syukuri. Jevian adalah orang yang baik dan tidak pernah memandang rendah orang lain. Sifatnya itulah yang perlahan membuat Nadia jatuh suka. Di samping itu, ada sosok lela...
![My Beloved Friend [END]](https://img.wattpad.com/cover/352949875-64-k815624.jpg)