Uhuk! Uhuk!
Sesak.
Ayah, ini sesak.
Tolong berhenti.. tolong!
Arta menangis dalam hati, air matanya keluar tidak berhenti menyatu dengan air didalam bak.
Hampir sepuluh menit kepalanya di masukkan kedalam bak berisi air, Arta sudah tidak kuat.
Tangan Arta meremat ujung ember, mencari-cari tangan Ayahnya agar berhenti mendorong wajahnya masuk kedalam bak besar berisi air dingin.
Kepalanya di angkat kasar dari bak, Arta langsung menghirup udara dengan rakus, menepuk-nepuk dadanya karena sesak yang menyerang. Arta menatap wajah Ayah sekilas sebelum menunduk karena takut.
Bibirnya menggigil hebat karena air dihadapannya benar-benar dingin.
Tubuhnya didorong sampai terbentur tembok, air dingin itu di siram kembali ke seluruh tubuh Arta membuat anak itu basah total dengan tubuh kurus yang menegang karena dinginnya air.
"Hukuman untuk kamu, Arta. Ayah tidak main-main soal hukuman. Nilai kamu benar-benar tidak memuaskan Ayah."
Ayahnya pergi dari sana, meninggalkan Arta di dalam kamar mandi lalu tanpa perasaan Ayah mengunci Arta disana, membiarkan anaknya kedinginan dengan baju basah entah sampai kapan.
Arta menatap itu dengan sedih, menangis terisak sambil menutup wajah. "Arta harus dapat nilai berapa, Ayah?" Isaknya kecil, kedua tangannya memeluk lutut menyembunyikan wajahnya disana. "Sakit..."
Arta menatap pantulan dirinya di cermin, tubuhnya kurus dan menggigil kedinginan. Apa begini yang di namakan fisik orang berkecukupan? Saat ini penampilan Arta seperti seorang anak pengemis yang kekurangan gizi.
Arta mengambil sesuatu di saku celana, sebuah pecahan cermin. Arta menatap serpihan kaca itu dengan rumit, tangannya menggeser celana panjang yang dia kenakan. Terlihat kaki penuh luka gores dan sayatan.
Arta mulai menggores pecahan kaca itu di kaki, membuat pola acak dengan air mata yang terus mengalir keluar. Ini tidak menyakitkan sama sekali, Arta sering melakukan ini dikala sedang sedih dan putus asa.
Menaruh luka diatas luka.
Saat perasaan sakitnya mereda Arta mulai berhenti menyayat kakinya, kedua mata sayu Arta menatap kedua kakinya dengan perasaan campur aduk. Meringis pelan itulah yang selalu Arta lakukan, kakinya buruk, terlalu banyak luka gores yang belum kering namun sudah ada luka baru lagi.
Entah sudah berapa tahun Arta menoreh luka di kedua kakinya itu.
"Maaf ya karena sering nyakitin kalian.." Ujarnya.
Arta selalu pakai celana panjang agar luka-lukanya tidak diketahui siapapun, takut saudara-saudaranya khawatir, dan takut ditanyai oleh mereka.
Arta tidak ingin membuat mereka khawatir.
Entah sejak kapan Arta mulai melakukan self-harm. Semenjak Ayah dan Ibu tau jika Arta genius dari situ dia sudah mulai tertekan, belajar terus menerus tanpa kenal waktu, Arta lelah.
Rasanya menyakitkan.
🏠🏠🏠
Juna dan Hasa baru saja sampai di rumah, keduanya bergandengan tangan masuk kedalam.
"Tadi Abang jemputnya tepat waktu kan?" Juna bertanya.
Hasa mengangguk, Abangnya menjemput tepat disaat bel sekolah berbunyi. "Tepat waktu kok. Kalau telat juga gapapa, Hasa tau Abang sibuk." Ucapnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our House [END]
FanfictionLima saudara namun tidak sedarah. Ini kisah Juna, Senja, Gemilang, Arta dan Hasa. Lima anak malang yang tidak pernah tau apa arti kebahagiaan. Kelimanya saling menutupi luka satu sama lain, bergandengan tangan dengan begitu erat tanpa niat melepas...
![Our House [END]](https://img.wattpad.com/cover/353692527-64-k504576.jpg)