Senja sudah rapih dengan seragam sekolahnya, berjalan menuju kamar sang kembaran lalu keningnya menyeringgit bingung saat pintu kamar Gemilang masih tertutup rapat.
"Tumben.. biasanya jam segini udah sibuk nyapu." Senja berucap heran.
Mengetuk beberapa kali tapi tidak ada sahutan dari dalam.
"Gemi?"
Pintunya memang tidak di kunci membuat Senja langsung menerobos masuk kedalam. Senja melangkah menuju ranjang, disana Gemilang masih menggumpal dirinya dengan selimut tebal.
Melihat itu membuat Senja berdecak sebal, padahal sekarang sudah hampir jam enam pagi namun bisa-bisanya Gemilang belum bangun tidur. Tangannya dengan cepat menarik selimut. "Gemi, bangun. Sarapan dan sekolah." Ucapnya.
Gemilang mengerjapkan matanya, menatap Senja sekilas sebelum kembali menutup mata dan menaikkan selimut lebih tinggi.
"Mas... hari ini aku izin." Ucapnya.
Senja diam beberapa detik untuk menyimak ucapan Gemilang karena suara Adiknya benar-benar kecil dan serak. "Gemi, suara kamu serak gitu.. ayo minum air putih dulu." Ucapnya.
Gemilang menggeleng kecil, lalu menyembunyikan wajahnya di dalam selimut. "Nggak mau..mulut aku sakit, sariawan."
Mendengar itu lagi-lagi membuat Senja terdiam, dia duduk di tepi ranjang Gemilang lalu mulai memegang kening si kembaran. "Hangat, Mas ambil obat penurun panas dulu."
Senja buru-buru keluar kamar untuk mengambil obat di bawah. Tubuh Gemilang sedikit hangat tanda-tanda ingin terjangkit demam.
Tidak ada lima menit Senja kembali dengan satu butir obat penurun panas dan sepotong roti strawberry kesukaan Gemilang. Tangan Senja menarik-narik selimut yang Adiknya kenakan. "Gemi, minum obat dulu." Titahnya.
Mendapati gelengan kepala dari Gemilang membuat Senja hela napas kecil apalagi saat mendengar suara teriakan Arta untuk turun dan sarapan bersama. "Mas taruh roti dan obatnya di atas nakas, nanti di minum ya."
Ucapnya sebelum keluar kamar Gemilang.
Saat dirasa Senja sudah keluar, Gemilang langsung membuka selimut, tatapan matanya jatuh pada sepotong roti dan obat diatas nakas. Tangan Gemilang terjulur mengambil obat lalu menelannya sekali teguk, tidak berniat untuk menyantap roti favoritnya karena mulutnya benar-benar sakit.
Gemilang berjalan, ingin mandi karena tubuhnya gerah dan lengket. Langkah kaki Gemilang terhenti saat menatap tubuhnya sendiri di sebuah cermin.
Sudut bibir Gemilang naik menampilkan raut wajah sedih.
Jari-jari tangannya menyentuh beberapa ruam merah di area tulang selangka.
"Menjijikkan dan.. kotor."
🏠🏠🏠
Senja duduk dan mulai mengambil sendok. Sarapan kali ini adalah bubur, Ibu yang membuatnya.
Mulai menyuap sesendok Senja langsung terdiam saat merasakan begitu hambar bubur buatan Ibu. Senja melirik kecil menatap ketiga saudaranya, melihat satu persatu mereka makan dengan terpaksa bahkan Hasa sesekali menunjukkan wajah ingin muntah
Suasana begitu hening, hanya ada dentingan sendok. Ada Ibu disana sedang menatap mereka makan dengan tangan menekuk di dada. "Enak?" Tanyanya.
"Enak, Bu." Juna selesai paling awal, tangannya dengan gesit mengambil mangkuk bubur milik Hasa. "Sini Abang yang habiskan." Ucapnya.
Mendengar itu membuat Ibu menaikkan satu alis bingung. "Hasa, kamu tidak suka masakan buatan Ibu?"
Hasa panik dan ingin merebut mangkuk bubur yang sudah ada pada Juna.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our House [END]
FanficLima saudara namun tidak sedarah. Ini kisah Juna, Senja, Gemilang, Arta dan Hasa. Lima anak malang yang tidak pernah tau apa arti kebahagiaan. Kelimanya saling menutupi luka satu sama lain, bergandengan tangan dengan begitu erat tanpa niat melepas...
![Our House [END]](https://img.wattpad.com/cover/353692527-64-k504576.jpg)