Lima saudara namun tidak sedarah.
Ini kisah Juna, Senja, Gemilang, Arta dan Hasa. Lima anak malang yang tidak pernah tau apa arti kebahagiaan.
Kelimanya saling menutupi luka satu sama lain, bergandengan tangan dengan begitu erat tanpa niat melepas...
Happy 10k pembaca Heheh 😍 Jangan lupa vote dan komen!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Setelah memastikan para keponakannya tidur dengan nyenyak Haris baru beranjak keluar dari kamar inap Arta.
Berjalan keluar dari rumah sakit dengan wajah tidak bersahabat, Haris marah, benar-benar marah saat mengetahui cerita kelima keponakannya.
Tadi satu persatu keponakannya bercerita dengan wajah tegar seperti sudah begitu terbiasa dengan keadaan mengenaskan itu.
Memasuki mobil Haris mulai menjalankan mobilnya perlahan. Haris memijat keningnya saat mengetahui kondisi Juna. "Juna sakit bahkan mereka nggak tau."
Haris benar-benar tidak habis pikir dengan saudara serta Istrinya itu, jika tidak berniat menjadi orang tua maka tidak usah menyiksa mental mereka. Entah apa tujuan mereka, Haris pun tidak tau.
Kelimanya hanya anak kecil yang tumbuh dewasa begitu cepat faktor keadaan.
Haris benar-benar ingin merampas kelimanya dari tangan kedua iblis itu. Mereka benar-benar biadab dan tidak mencerminkan orang tua yang baik.
Sampai di tempat tujuan Haris langsung masuk kedalam rumah untuk menemui Theo, saudaranya.
Melihatnya sedang bersantai sambil minum teh membuat Haris begitu kesal dan marah. "Benar-benar kelewatan. Disaat anak sedang di rawat karena saingan bisnisnya sendiri dan orang tua ini malah asik bersantai sambil menikmati teh. Tidak tau malu." Sarkas Haris.
Ayah menoleh kebelakang, menatap Adiknya dengan satu alis terangkat satu. "Ada apa jauh-jauh datang kesini?" Tanyanya.
"Cepat pergi dari sini dan jaga para kerikil itu." Ucapnya lagi.
Mendengar itu sontak membuat Haris naik darah. "Jika begitu berikan hak asuh mereka padaku, kalian orang tua yang buruk."
Rahang Theo mengeras setiap kali Haris membahas perihal hak asuh. "Mimpi, saya mengasuh mereka atas keinginan dan tujuan saya untuk penerus perusahaan dan dengan sekejap ingin kau rampas? Mimpi saja sana."
"Oh, selain itu membuat mereka kesulitan sangat menyenangkan." Theo berucap dengan senyum kecil seakan sedang bernostalgia.
Haris duduk di depan saudaranya, menatap Theo selaku sang Kakak dengan tatapan rumit. "Kak, tindakanmu sudah keterlaluan, sangat-sangat keterlaluan. Saya tidak menyangka jika sepeninggalan saya semuanya menjadi semakin buruk."
"Siapa yang membuat saya jadi seperti ini?" Theo berucap dengan nada rendah.
Mendengar Theo seakan sedang membahas masa lalu, Haris kembali buka suara. "Kak, mereka tidak ada hubungannya dengan masa lalu. Mereka hanya orang asing yang tidak tau apapun, kelimanya hanya anak kecil."
"Tidak ada urusannya dengan kamu, cepat pergi dan jangan pernah ikut campur urusan keluarga saya." Ayah menatap Haris dengan geram, Adiknya ini begitu ikut campur urusannya.