Di kunci, semua jalan keluar dikunci membuat mereka terkurung di ruangan kecil itu.
Juna berusaha sebisa mungkin membuka pintu namun sulit. Kakinya sakit menendang pintu namun pintu tidak kunjung terbuka.
"Sshh.." Senja meringis kecil, kakinya benar-benar sakit.
"Duduk, biar Abang yang dobrak." Juna menuntun Senja agar duduk di sudut bersama ketiga Adiknya.
Hanya Juna yang berusaha membuka, Senja dan Arta tertembak di bagian kaki sedangkan Gemilang kepalanya bocor terbentur lemari karena saat di tangkap berusaha berontak.
"Mas, aku takut." Hasa gemetar saat melihat kobaran api, entah kenapa dia jadi teringat kejadian gempa bumi yang menimpanya dulu.
Arta dan Hasa menempel pada Senja yang sedang berusaha menenangkan mereka. "Kita pasti selamat kok, tenang ya jangan panik." Senja berucap kecil. Jujur saja, dia juga tidak yakin dengan ucapannya tadi.
"Gemi.. Gemi buka matanya!" Senja histeris saat Gemilang memejamkan mata. "Jangan tidur!"
"Sakit, Mas...kepalaku sakit."
Arta merobek bajunya, melilitkannya pada kepala Gemilang yang bocor. "Tahan ya, Kak."
Suara grasak-grusuk dan tendangan pintu terdengar sangat nyaring. Juna berusaha sebisa mungkin membuka pintu yang terkunci rapat.
"Bajingan!" Juna frustasi saat kobaran api mulai membakar seisi ruang kecil ini. "TOLONG! Siapapun!" Teriaknya frustasi.
Tidak akan ada orang yang menolong, Juna tau berteriak pun sangat percuma karena sia-sia, rumah mereka itu jauh dari pemukiman... tidak akan ada yang menolong mereka.
Juna menoleh kebelakang, melihat Adik-adiknya yang sedang bergandengan tangan begitu erat dengan mata terpejam.
Tidak ada yang menangis, hanya tercetak wajah panik dan takut namun air mata mereka tidak ada yang keluar.
Perlahan Juna menghampiri, dia bersitatap dengan Senja lalu membuat gelengan kepala kecil.
"Nggak bisa kebuka."
Biarpun bisa namun kemungkinan keluar dari ruangan ini begitu kecil, mereka tidak memiliki apapun untuk menerjang kobaran api.
Senja tersenyum tipis, sudah menduganya.
"Duduk yu, buat bundaran." Gemilang buka suara setelah sekian lama diam.
Kelimanya mulai membuat bundaran kecil, bergandengan tangan lalu mulai memejamkan mata.
"Ayo berdoa. Minta sama Tuhan apapun yang kalian mau, kemungkinan ini adalah doa terakhir kita."
Mereka begitu tabah menerima nasib yang akan datang.
Tidak peduli akan asap dan hawa panas yang menyerang, mereka terus berdoa dalam hati. Mengungkapkan keinginan mereka selama ini serta menangis meraung kecil menertawakan nasib yang begitu menyedihkan.
"Aku mau peluk kalian." Suara serak Arta terdengar samar diantara berisiknya kobaran api yang perlahan membakar bangunan.
"Gak mau pisah sama kalian..kita harus sama-sama terus, Hasa sayang kalian..." Hasa menangis terisak, dadanya sakit sekali untuk melanjutkan kalimat selanjutnya.
"Ayo saling peluk." Senja berucap, pelukannya pada sang kembaran benar-benar erat. "Mas sayang banget sama Gemi. Kita akan segera menyusul Papa dan Mama di surga, Gemi senang kan?" Bisiknya kecil.
Kedua mata Gemilang mulai berembun, balas memeluk Senja dia pun menangis terisak. "Mas.. aku takut, Gemi takut." Ucapnya.
Tidak, Gemilang tidak takut mati dia hanya takut berpisah dengan saudara-saudara tangguhnya. Toh untuk apa takut mati... hidupnya sekarang pun sudah begitu rusak, Gemilang pasrah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our House [END]
FanfictionLima saudara namun tidak sedarah. Ini kisah Juna, Senja, Gemilang, Arta dan Hasa. Lima anak malang yang tidak pernah tau apa arti kebahagiaan. Kelimanya saling menutupi luka satu sama lain, bergandengan tangan dengan begitu erat tanpa niat melepas...
![Our House [END]](https://img.wattpad.com/cover/353692527-64-k504576.jpg)