Arta masuk kedalam kamarnya dan sedikit terkejut saat membuka pintu ternyata di ranjangnya sudah ada Hasa yang sedang berguling-guling disana dengan selembar kertas dan pensil warna yang berhamburan.
Membuka jaket dan menaruh tas di kursi Arta pun berucap. "Ngapain kamu di kamar aku, Sa?" Tanyanya.
Hasa memamerkan senyum lebar saat melihat si pemilik kamar sudah pulang. "Iseng aja sih, habisnya dirumah sepi banget." Ujarnya.
Arta mengangguk kecil. Ibu pergi pemotretan selama dua hari, Juna ada kerja part time, Senja ada tugas kelompok dan sudah izin pulang sampai malam, lalu Gemilang..
"Loh, Kak Gemi emang kemana?" Arta bertanya bingung.
Hasa menatap Arta sebentar sebelum memfokuskan pandangannya pada gambar yang sedang dia buat. "Tadi pergi sama Ayah...nggak tau kau kemana soalnya kaya di seret gitu masuk ke dalam mobil."
"Tapi mereka rapih kok, pakai baju formal.. Kak Gemi juga pake jas, mungkin mau datang ke acara yang ada di kantor Ayah." Ucapnya lagi.
Yang paling sering di ajak oleh Ayah itu hanya Gemilang dan Arta terkadang Juna...dan yang paling jarang di ajak itu Hasa dan Senja. Mungkin karena mereka berdua cacat mangkanya Ayah malu mengajak mereka jika ada pertemuan antar pemimpin perusahaan.
Mendengar itu membuat kepala Arta mengangguk lagi, Arta membuka tas ranselnya. Mulai mengeluarkan buku dan kotak bekal dari sana.
Pandangan Hasa teralihkan saat melihat Arta berjalan menuju sebuah laci. "Widih, piala apalagi tuh, Ta?" Tanyanya penasaran.
"Oh..ini lomba renang." Sahut Arta.
"Juara berapa?"
"Satu."
Hasa tentu bersorak heboh, lalu mulai mencibir karena respon Arta yang biasa saja.
Selain pintar di bidang akademik dan selalu mengikuti olimpiade Arta juga pandai melakukan kegiatan ekstrakurikuler lain seperti silat, renang dan pramuka.
Tidak jarang Arta mengikuti lomba-lomba yang diadakan di sekolah maupun di luar sekolah.
Piala di kamar Arta sudah begitu banyak sampai tidak muat di tampung di rak dan meja belajarnya.
Terkadang itu membuat Hasa iri, piala Hasa juga lumayan banyak namun Hasa benar-benar ingin memiliki piala dari hasil menang lomba sepakbola.
"Enak ya, Ta. Kamu hobi silat dan piala silat kamu banyak..lah aku, satu pun nggak ada piala lomba sepakbola." Hasa berucap kecil sebelum mengalihkan tatapannya pada Arta yang berdiri tepat di depannya.
"Nggak boleh gitu, Sa." Arta berucap, memegang kedua pundak Hasa lalu merematnya sebentar. "Kamu itu hebat, hebat banget kalau masalah main bola. Skill aku aja kalah loh."
Hasa itu hebat saat bermain bola, skill Hasa sudah begitu bagus namun kekurangannya hanya satu... Hasa lambat saat berlari, bermain bola itu butuh kecepatan dan Hasa tidak punya itu.
Melihat wajah murung Hasa tentu saja membuat Arta diam-diam sedih. Sekelebat ide tiba-tiba datang di kepalanya, dengan cepat Arta menarik tangan Hasa membuat si bungsu menatapnya heran.
"Ayo main bola di halaman depan!" Ucap Arta.
🏠🏠🏠
Senja berjalan dengan kepala menunduk lantaran kepala yang berdenyut pusing serta badan yang remuk karena kemarin habis di pukul oleh Ibu menggunakan gagang sapu.
Kepalanya berdenyut pusing karena banyaknya tugas yang menyerang, berada kelas akhir benar-benar menyiksa..belum lagi semua nilai harus sempurna karena kedua orang tuanya tidak menerima kegagalan, Senja harus dapat beasiswa agar bisa membanggakan dan mengharumkan nama Ayah dan Ibu selaku orang yang membesarkannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our House [END]
FanfictionLima saudara namun tidak sedarah. Ini kisah Juna, Senja, Gemilang, Arta dan Hasa. Lima anak malang yang tidak pernah tau apa arti kebahagiaan. Kelimanya saling menutupi luka satu sama lain, bergandengan tangan dengan begitu erat tanpa niat melepas...
![Our House [END]](https://img.wattpad.com/cover/353692527-64-k504576.jpg)