🏠; BAB 24

2K 221 95
                                        

Kelimanya berkumpul di lantai tiga ruang bersantai bersama Haris setelah sekian lama.

Arta duduk disamping Haris, tangannya sibuk mencoret-coret buku tulis, menulis banyaknya rumus matematika. "Minggu lalu aku menang lomba renang, Om."

"Hebat dong, kamu mau hadiah apa, Ta?" Haris berucap, tangannya tidak berhenti mengusap pucuk kepala Gemilang yang sedang menonton televisi.

Arta berpikir sesaat sebelum berucap. "Hadiah ya..Arta gak mau hadiah apapun cukup Om ada disisi kita..itu udah lebih dari cukup." Ujarnya.

Mendengar itu membuat Haris begitu terharu, perasaan menyesal tersemat begitu saja saat meninggalkan mereka selama hampir tiga tahun.

"Om, nih makan buahnya tadi kita beli buah banyak." Senja menyodorkan piring kecil berisi buah kehadapan Haris. "Mangganya manis banget, Bang Juna gak berhenti makan dari tadi." Ucapnya lagi.

"Kamu juga ya." Juna yang sedang makan mangga menyahut.

Sudah begitu lama tidak bermain dan mengobrol ringan bersama sang Paman membuat senyum mereka terus merekah lebar.

"Om!" Hasa baru saja dari kamarnya yang berada di lantai satu, naik ke atas dengan senyum mengembang lebar, ditangannya terdapat selembar kertas. "Lihat deh." Ucapnya.

Haris dengan cepat mengambil kertas yang keponakannya sodorkan, melihat gambar itu dengan seksama sebelum menerbitkan senyum kecil. "Siapa yang buat?"

"Aku lah! Bagus gak Om?" Hasa bertanya dengan nada antusias.

"Bagus dong."

"Itu untuk Om...hari Ayah emang masih tiga hari lagi, tapi Hasa mau kasih sekarang aja hehe." Hasa berucap senang, baginya Haris itu benar-benar sosok Ayah yang sangat mengagumkan dan hebat.

"Untuk Om, serius?"

"Iya, aku bikin satu lagi.. niatnya sih mau aku kasih Ayah tapi.. tapi-"

"Gapapa, kasih aja, Sa." Haris menyela ucapan Hasa, melihat nada ragu dan khawatir dari si bungsu membuat Haris yakin jika kelakuan orang tua mereka begitu buruk.

"Gemi, mau kemana?" Senja menarik tangan Gemilang saat melihat kembarannya hendak turun kebawah.

"Aku...aku mau ke kamar, ngantuk."

Senja enggan melepas tangan Gemilang namun tidak tega juga ingin memaksa Adiknya untuk tetap singgah disini. Jadi dengan berat hati Senja melepas genggaman tangannya. "Yaudah, selamat malam.. mimpi indah, Gemi." Ujarnya.

"Om, yang yang lainnya..aku tidur duluan ya." Ucapnya sebelum turun kebawah.

"Tumben Gemilang udah tidur." Haris buka suara, seingatnya Gemilang sering tidur larut malam entah untuk belajar atau bermain game online di ponselnya.

"Kak Gemi mah gitu, kalau gak tidur siang jam segini udah tidur." Arta menyahut.

"Tapi tadi Gemi tidur siang kok." Juna buka suara, seingatnya tadi dia sempat melihat Gemilang ketiduran di teras belakang rumah.

Sementara itu Senja memperhatikan tangga dengan tatapan rumit, saat Gemilang turun entah kenapa perasaan sesak dan sakit menghantui Senja. Entah kenapa dadanya begitu sakit, tanpa sebab sesak.

Apalagi saat mengingat wajah Gemilang.

"Gemi..." Gumamnya kecil.

"Anak-anak coba kumpul sini, Om mau bilang."

Keempatnya mendekati Haris, dengan pandangan penasaran mereka tertuju pada Haris.

"Tadi Senja hampir kena culik." Haris berucap membuat Juna, Arta dan Hasa tersentak kaget.

Our House [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang