🏠; BAB 16

1.9K 220 33
                                        

Sehabis makan malam kelimanya berkumpul di ruang bersantai lantai dua, mengerjakan pekerjaan sekolah sambil menonton televisi.

Yang paling serius menonton itu Senja, mulutnya bahkan sampai terbuka sedikit dan dengan usil terkadang Gemilang memasukan penghapusan namun itu sama sekali tidak menganggu konsentrasi menonton Senja.

Senja benar-benar suka dengan kartun.

"Batu gunting kertas!"

Arta dan Gemilang sibuk bermain suit, jika kalah maka harus mengambil minum dan makanan di dapur.

Arta berdecak kesal, sementara Gemilang langsung memerintahkan yang lebih muda. "Ta, ambil minum dong di dapur sekalian cemilan kacang ya."

Dengan malas Arta bangkit dari duduknya.

Juna duduk di samping Hasa, memperhatikan si bungsu yang sedang mengerjakan tugas menggambarnya. Mata Juna fokus pada pipi lebam Hasa. "Sa, lain kali langsung lapor guru aja ya?"

Demi Tuhan, Juna benar-benar khawatir dengan Hasa. Anak ini benar-benar memendam masalahnya dengan senyum ceria.

Hasa tidak menjawab, anak itu fokus pada selembar kertas didepannya, tangannya dengan gesit mengambil berbagai pensil warna dan menggoresnya di kertas. "Bang, dibully di sekolah itu wajar untuk anak cacat kaya aku."

Senja mengerjap kecil saat layar televisi mati disusul seluruh lampu di rumah mereka padam.

Juna dengan sigap mengambil ponsel, menyalahkan senter lalu mengarahkan pada Adik-adiknya. "Arta mana?" Tanyanya.

"Disini." Suara Arta terdengar dari arah tangga. "Gelap, Bang." Ucapnya lalu mengambil duduk disamping Gemilang.

"Cemilannya mana?" Gemilang bertanya saat Arta hanya menyodorkan minuman.

"Nggak kebawa, aku keburu lari soalnya gelap banget." Sahut Arta.

Senja menarik-narik kaos yang Juna kenakan. "Bang, nggak biasanya mati lampu." Senja berbisik.

Juna juga heran, rumah mereka tidak pernah mati lampu sebelumnya. Tapi dia mencoba berpikir positif, tidak boleh panik karena disini ada Adik-adiknya.

"Mungkin lagi jadwalnya padam, sekarang cari lilin di laci." Juna berucap membuat keempatnya langsung berpencar mencari lilin.

Menyalahkan lilin, lalu setelahnya terhanyut dalam keheningan. Rumah mereka itu besar, saat lampu padam akan terasa menyeramkan dan sunyi.

Hanya ada suara bisikan jangkrik dan cicak yang menemani mereka.

Juna yang paham pun langsung menyetel musik, mengambil kertas origami di laci lalu membuat beberapa bentuk hewan-hewan lucu. Lama-lama Adik-adiknya mendekat, tertarik dengan apa yang Juna lakukan.

Gemilang mengambil beberapa kertas, mulai membuat pesawat.

"Mau buat kelinci." Hasa berucap, mulai melipat-lipat kertas origami sampai membentuk kelinci.

"Lihat!" Arta memamerkan hasil buatannya kehadapan Senja. "Aku buat ayam, buatan Mas Senja mah jelek."

Senja mendelik tidak terima. "Ayam kamu ekornya patah tuh." Ucapnya.

" Ucapnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Our House [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang