🏠; BAB 03

3.3K 343 35
                                        

***

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

***

Senja dan Gemilang, si kembar beda enam menit itu sedang mengerjakan tugas sekolah di teras belakang rumah. Menikmati suasana malam sambil ditemani dua cangkir teh hangat dan satu piring jagung rebus.

Duduk bersila di karpet sambil mengerjakan tugas matematika, sesekali menikmati hembusan angin yang menerpa, pemandangan rumah mereka bagus sekali karena halaman belakang diisi oleh tanaman serta bunga-bunga cantik. Nyaman dan sejuk.

Senja sudah selesai dengan tugasnya, mengambil jagung rebus dan mulai menikmatinya sambil memberi makan ikan hias di kolam. "Belum selesai, Gemi? Perlu bantuan Mas nggak?" Senja bertanya saat mendapati kening Adiknya mengkerut.

"Bisa kok, Mas." Gemilang berucap, keningnya mengkerut bukan pertanda tidak mengerti namun sekarang pikirannya sedang berkelana entah kemana, mata Gemilang menatap kedalam rumah. "Tumben sepi banget ya, Mas." Gemilang berucap.

Benar juga, padahal sekarang jam baru menunjukkan pukul tujuh malam namun suasana rumah terasa sangat sepi dan sunyi.

Juna yang baru datang langsung berucap. "Ayah lagi mabuk." Melihat banyak botol alkohol di ruang bersantai tentu Juna tau pelakunya adalah sang Ayah, memangnya siapa lagi.

Juna mengambil duduk di samping Gemilang, tangannya terjulur mengambil jagung rebus. "Yang lain mungkin lagi pada di dalam kamar karena takut, kalian santai di sini nggak takut nanti tiba-tiba Ayah datang dan pukul kalian?" Tanyanya pada si kembar.

Senja diam beberapa detik untuk menyimak apa yang Juna katakan, setelahnya dia kaget. "Kita udah lumayan lama di sini, Bang, jadi mana tahu kalau Ayah lagi mabuk." Ujarnya.

Senja buru-buru membereskan barang mereka, menggulung karpet dan menaruh piring serta gelas ke dapur.

Sepeninggalan Senja, Juna memperhatikan Gemilang sejenak, meneliti tubuh anak di depannya dengan seksama, seperti biasa Gemilang hanya diam dan malah menatapnya balik dengan satu alis terangkat bingung.

"Tadi kata Hasa kamu dipanggil sama Ayah, mau cerita?" Tanya Juna, jika di panggil oleh Ayah itu bukan suatu pertanda baik. Ayah memanggil mereka hanya untuk menghukum, memukul dan memaki.

Namun melihat Gemilang tidak memiliki luka apapun Juna benar-benar merasa lega.

"Gak ada yang perlu diceritain, Bang." Gemilang berucap kecil, tangannya sibuk memainkan pensil dan robekan kertas. "Katanya Bang Juna kena tendang Ayah karena lindungi Arta?" Gemilang bertanya dan langsung dapat respon anggukan dari Juna.

"Bang Juna baik banget ya.." Gemilang berucap dengan senyum kecil, merasa bangga memiliki sosok Abang laki-laki yang begitu dewasa dan kuat.

Juna mengusap bahu Adiknya. "Gemi, kalau Abang mampu lindungi maka akan Abang lindungi. Kalian itu Adik-adik kesayangan Abang, mana mungkin abang tega ngeliat kalian dipukul."

Our House [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang