🏠; BAB 35

2.6K 227 50
                                        

Tidak ada Haris lagi yang biasa berkunjung ke rumah dan bermain bersama mereka. Ayah melarang menemui Haris dan jika ketahuan menemui sang Paman maka ancamannya benar-benar menakutkan.

Ayah mengancam akan membunuh Haris.

Yang membuat Haris kecelakaan pun Ayah, dia menyewa seseorang untuk menabrak mobil yang Haris kendarai.

Gila memang, Ayahnya gila.

Juna saat itu berontak dan meneriakkan Ayahnya tidak waras. Ayah kesal dan langsung menghukum Juna di ruang kosong, dipukul dan ditendang tanpa ampun membuat si sulung terbaring di dalam kamar karena banyak luka lebam di tubuh.

Juna serta Arta terbaring di ranjang karena luka. Luka di kepala Arta belum kering alhasil Senja memaksa agar Adiknya beristirahat dengan benar di dalam kamar.

Saat ini Ayah lumayan sering berada di rumah membuat mereka sedikit sulit bergerak.

Hasa mengendap-endap berjalan menuju dapur, berusaha tidak menimbulkan suara karena dia tidak ingin Ayah melihatnya.

"Hasa."

Tidak berhasil.

Dengan langkah kecil dia menghampiri Ayah yang sedang duduk di kursi dengan laptop dan beberapa kertas.

"Ada apa, Ayah?" Tanyanya kecil.

Ayah menatap anak bungsunya dengan tajam. "Beberapa hari lalu Walikelas kamu menelpon Ayah, dia bilang kamu berulah di sekolah. Melapor yang tidak-tidak kepada kepala sekolah, apa itu benar?"

Kedua tangan Hasa saling meremat. "Aku..aku cuma melaporkan kasus bullying."

Iya, Hasa memberanikan diri untuk melapor kasus bullying yang selama ini dia derita. Melapor langsung kepada kepala sekolah tanpa ada perantara sang Walikelas, namun siapa sangka jika Walikelas nya akan tau dan memfitnah nya seperti ini.

Jika seperti ini pasti Hasa yang celaka karena akan dimarahi Ayah.

Ayah bangkit dari sofa. "Jangan bohong! Selain itu kamu juga sering mencontek, kan? Bagaimana bisa melakukan hal memalukan seperti itu, mencoreng nama baik keluarga saja!"

Tamparan kuat mendarat tepat di pipi Hasa membuat Hasa sedikit terhuyung kebelakang.

"Aku nggak pernah mencontek, Ayah." Hasa membela diri, tentu saja dia tidak terima di bilang mencontek! Selama ini dia belajar dengan giat untuk mendapat nilai bagus agar Ayah tidak menghukumnya.

Tamparan kedua melayang begitu ringan membuat sudut bibir Hasa berdarah.

"Alasan! Sudah pintar berbohong rupanya. Ayah lebih percaya ucapan Walikelas kamu dibanding anak tukang bohong ini."

Walikelas nya itu masih kerabat salah satu anak yang merundung Hasa, tentu saja dia tidak akan membela Hasa.

"Ini sakit Ayah, Hasa minta maaf.." Tubuh Hasa bergetar hebat saat Ayah mencekik lehernya sampai sulit untuk bernapas.

Senja datang dengan takut-takut, melindungi Hasa di belakang tubuhnya lalu berucap. "Ayah, jangan kasar gitu sama Hasa. Lagipula yang Hasa bilang bener kok, Hasa nggak pernah nyontek dia belajar dengan giat di rumah. Kita berempat saksinya."

Ayah mendengus kecil lalu menyuruh kedua anaknya pergi dari hadapannya. "Cepat pergi sebelum Ayah gampar kalian."

Senja buru-buru menggiring Hasa menjauh dari hadapan Ayah.

Ayah kembali fokus pada laptopnya sebelum atensinya kembali teralih menatap anak ketiganya yang baru pulang sekolah.

"Sopan melewati orang tua begitu?" Suara Ayah terdengar membuat tubuh Gemilang gemetar takut.

Our House [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang