Crown Prince's Birthday-2

888 75 11
                                        

Ingatan soal cerita ibunya sangat melekat di benak Joss. Bahkan Ia ingat pagi itu ia sedang mengunyah sandwich sederhana buatan bibinya dengan isian sosis dan keju. Sarapan di meja makan kali itu berdua saja karena anak-anak dari kakak tertua mendiang ibunya itu sudah menikah dan tinggal terpisah.

Televisi menyala menemani udara yang mulai menghangat di hampir jam 7 pagi, menyiarkan kemegahan saah satu bangun di kota itu, serta kesuksesan yang diraih pemilik bangunan tersebut.

"Kalau ibumu masih ada, mungkin kamu akan mengayuh sepedamu di sekitar taman bunga matahari itu." Celetuk sang bibi sementara televisi menampilkan Bangunan dengan halaman luas, beberapa puluh meter tanah lapang penuh dengan bunga matahari di samping kiri bangunan tersebut.

"Itu perusahaan yang ada di ibu kota, apa dulu ibu bekerja disana?" Kala itu, Joss berbinar. Di usia 13 tahun ia mulai memahami banyak cerita dan ia selalu antusias jika ada yang menceritakan soal ibunya.

Joss Wayar dibawa oleh bibinya di usia 8 tahun, ia tidak ingat jelas dimana tepatnya rumah tempat ibunya membesarkan dirinya dulu, ia hanya ingat ibunya punya rumah dengan cat putih bersih serta lantai bercorak kayu. Rumah mereka tidak luas, tapi halamannya bisa Joss jadikan tempat berlari dengan bebas.

Rumah mereka mungkin adalah yang terkecil di lingkungan itu, tapi ibunya membuat tanah lapang di sekitar rumah mereka menjadi hijau dan segar dengan rumput dan berbagai jenis tanaman cantik.

Rumah mereka seperti taman kecil ditengah kepungan rumah megah dan bangunan tinggi.

Sang bibi tersenyum kecut.

"Dulu rumahmu disana sampai ibumu pergi." Sang bibi menyahut.

"Itu tidak terlihat seperti rumah ibu dalam ingatanku." Bantah Joss.

Si bibi menghentikan kegiatan mengunyah, "Mereka mengambil tanah dan rumah ibumu dengan paksa karena ingin membangun gedung tinggi dan taman bunga matahari."

"Bibi, bagaimana cara mereka mengambil paksa tanah ibu? Bukankah polisi akan menghukum orang yang merampok tanah orang lain?" Tanya Joss.

Sang bibi menghela nafas. Meski baru berusia 13 tahun, ia ingin keponakannya tahu kejadian yang merenggut nyawa adik bungsunya.

"Ibumu ditemukan mengambang di sungai dekat tempat kerjanya dalam keadaan meninggal. Polisi menyatakan dia mabuk dan tergelincir hingga tenggelam. Tapi bibi tahu polisi itu bohong."

"Ibumu benci alkohol. Hari dimana ia ditemukan di sungai, ibumu menelpon bibi bahwa ia sedang cemas karena pihak istana menginginkan rumah dan tanahnya tapi dia tidak bersedia menjualnya."

"Jadi bangunan besar itu milik istana?" Tanya Joss.

"Bukan. Bangunan itu adalah hadiah raja untuk pelacur kesayangannya. Demi pelacur itu, mereka tega menghabisi ibumu dan membuat akte jual beli palsu. Ibumu tidak menerima sepeser uang pun dari mereka."

Sulit mencerna informasi sebesar itu. Kata-kata bibi yang menampung dan mengakui dirinya sebagai anak itu terlalu 'drama' untuk otaknya.

"Bagaimana dengan ayah? Kenapa tidak ada yang menceritakan soal ayah padaku?"

"Ayahmu..."

.
.
.

"Apa kamu tidak ingin memeluk papa?" Kana merentangkan tangannya lebar-lebar melihat Gawin memasuki pintu penthousenya.

Alih-alih bergegas memenuhi pinta itu, Gawin malah menyelipkan kedua tangannya di saku celana.

"Orang yang baru saja pergi juga melakukan hal yang sama. Dia menyelipkan tangannya di saku celana agar tidak perlu memeluk papa," ujar Kana kecewa.

Fall For YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang