"besok adalah hari pernikahanku, jangan buat Calon suamiku mengira aku memiliki hubungan denganmu." Berapa kali Krist mengusir Joss hari itu? Joss tak ingat jumlahnya.
"Kau butuh pendamping pengantin saat berjalan menuju altar. Aku yang paling cocok untuk tugas itu." Sahut Joss tanpa mengalihkan fokus dari layar ponselnya.
"Terima kasih, tapi aku tidak butuh itu. Aku bisa berjalan sendiri, orang-orang sudah tau aku yatim piatu."
Joss bangkit dari duduk nyamannya, menghampiri Calon pengantin yang bersedekap dengan wajah gusar. Di mata Joss, wajah kesal itu patut mendapat sebutan lucu.
"Bapak dosenmu itu tidak akan cemburu padaku, karena kalau aku menginginkanmu, kau tidak akan menikah dengannya. Aku lebih dulu mengenalmu." Ucap Joss seraya meletakkan kedua tangannya di atas pundak Krist.
Krist Meringis, "kau bicara seolah aku mau padamu."
"Memangnya tidak?" Joss belum selesai dengan agenda menggoda Krist.
Sang omega menepis dua tangan yang membebani pundaknya, "tentu saja tidak. Aku bahkan bertanya-tanya kenapa Tuan Gawin jatuh pada orang sepertimu."
Wajah nakal Joss berganti sendu seketika. Senyumnya sedih dan kalah. Dari hadapan Krist, ia melarikan pandangannya pada deburan ombak di luar sana.
"Kau benar, aku menghabiskan seluruh keberuntunganku saat bersamanya. 'Kami' adalah satu-satunya hal baik yang pernah datang padaku."
Krist menghela nafas panjang. Tak seharusnya ia mengungkit Gawin di hadapan Joss.
"Hei, jangan memasang wajah sedih. Besok aku akan menikah, aku tidak mau energi bahagia di sekilingku berubah muram karenamu. Hormati aku sedikit," Krist merajuk demi mengembalikan suasana hati Joss namun tampaknya tak berhasil.
"Lagipula, sudah tiga tahun berlalu, Tuan Joss Wayar. Bukankah harusnya kau mulai melihat orang lain? Mungkin takdir kalian berhenti bersinggungan sejak hari terakhir kalian bertemu."
Hari di mana mereka runtuh karena kehadiran William.
Joss tidak menemukan keberadaan Gawin setelah ia kembali dari istana. Penginapan dijalankan Krist yang konsisten tutup mulut soal Gawin dan tempat tinggal barunya.
Ia mencari di semua tempat yang mungkin didatangi Gawin tapi hasilnya nihil. Setahun berjalan kesana-kemari mencari, ia memutuskan untuk tinggal dekat Nyonya Davika. Ia bekerja untuk wanita paruh baya itu dengan harapan ada hari di mana Gawin muncul dan memberinya kesempatan untuk minta maaf dengan benar, tanpa membela diri.
Keakraban terjadi secara alami antara Joss dan Krist setelah Joss menemukan bahwa Krist adalah tempat bercerita dan berkeluh kesah yang nyaman. Betapa beruntung Singto itu, dia mendapatkan seorang Krist yang lucu dan pengertian.
"Ketika koneksi antara kami perlahan memudar, yang ingin aku tahu adalah bagaimana dia melewati setiap prosesnya? Kudengar para alpha yang sudah ditandai tidak akan keluar hampir satu tahun lamanya sebelum darahnya bersih dan kembali murni." Pertanyaan serupa selalu meluncur dari Joss, Krist tidak pernah menjawabnya.
"Yang bisa kukatakan adalah aku bisa berbahagia seperti saat ini karena tuanku baik-baik saja. Lalu yang perlu kau lakukan adalah bergerak maju. Hampir dua tahun berlalu setelah tuanku mendapat kebebasannya sebagai seorang alpha, aku tidak akan terkejut jika besok dia datang ke pernikahanku dengan seseorang yang baru."
Mata Joss memejam mendengar kalimat terakhir. Kemungkinan paling buruk yang harus siap ia terima.
"Jangan sia-siakan waktumu, Tuan Joss Wayar. Kalender sudah berganti sebanyak tiga kali, dan kau masih terjebak pada kalender yang jejaknya saja tidak ada."
KAMU SEDANG MEMBACA
Fall For You
Fanfiction"kalaupun kita saling mencintai, apa darah yang mengalir di tubuh kita bahkan merestui?" Visual dan nama dari semua tokoh diambil hanya untuk kepentingan cerita yang bersifat fiksi, tidak ada hubungannya dengan kehidupan nyata apalagi bermaksud menj...
