I Feel You

515 52 5
                                        

Seorang gadis dengan gaun putih, bercak darah memenuhi bagian bawahnya, mengalir melewati betis.

"Semua salahmu!"

Suara-suara itu lagi, tatap menyalahkan itu lagi.

Dari arah belakang seorang pria dengan luka di perut dan paha, wajah pucatnya terlihat letih.

"Win...." Suara itu----

"Tuan, anda bisa mendengar saya?"

Mata Gawin terbuka lebar dengan nafas tercekik di kerongkongan. Mimpinya terlalu menakutkan hingga jalan nafasnya seakan tersumbat.

"Tuan, bernafaslah pelan-pelan. Anda aman."

Gawin menemukan dirinya berada di kamar rumah sakit, tapi orang yang bicara padanya sama sekali tak ia kenal. Pria berkumis tipis yang tampak sabar.

"Bernafaslah, tuan. Dokter akan segera datang."

"Kau, siapa kau? Dimana Joss?" Mata Gawin menjelajahi kamar berukuran sedang, yang ia temukan hanya dirinya sendiri dan pria tersebut.

"Saya asisten Nyonya Davika. Anda berada dalam perawatan karena mengalami syok atas matting mendadak dan suntikan obat tidur secara bersamaan. Anda tidur selama-"

"DIMANA JOSS?" Tukas Gawin tak sabar.

"Saya tidak tahu. Saya hanya ditugaskan menjaga anda sementara Nyonya Davika tidak bisa mendampingi."

Gawin memaksa tubuhnya bangun. Ia tidak tahu berapa lama ia terbaring tapi seluruh sendinya terasa lunglai. Untuk beberapa saat ia hanya bisa duduk sambil memejam.

"Tuan, tolong tunggu hingga dokter memeriksa, jangan terlalu banyak bergerak."

Begitu matanya tak lagi berkunang-kunang, ia memandangi tanda di pergelangan tangannya. Persis seperti luka yang Joss buat untuk meneteskan darah padanya.

"Syukurlah kau sudah bangun." Seorang wanita masuk ke ruangan bersama seorang pria yang Gawin tebak adalah dokter.

"Dimana Joss?" Gawin bersikukuh dengan pertanyaannya.

"Sebaiknya tanyakan bagaimana kondisimu sebelum bertanya soal orang lain. Atau bahkan mungkin kau ingin tahu dimana kau sekarang, atau bagaimana keadaan papamu."

"Kalian sama sekali tidak membantu." Gawin menarik jarum infus di tangan dengan kasar. Darah menetes dari sana.

"Dia mati."

Gawin reflek meremat tanda di lengan. Ia ingat terakhir kali dirinya melihat Joss, alphanya itu mendapat tembakan di bagian mematikan.

"Kau bohong. Aku tahu dia masih hidup."

Si perempuan mengambil kursi dan duduk di samping ranjang.

"Dia pantas mati. Adikku mempercayainya untuk menjalankan rencana dan mengantarmu hidup tenang, dia malah menipu dengan menandaimu. Lihat, kau bahkan tak peduli dengan dirimu sendiri."

"Katakan dimana Joss, setelah itu kau tak perlu mengurusiku lagi."

"Sudah kubilang, dia mati. Tembakan itu mengenai organ vitalnya."

Gawin merasa membuang waktu dengan meladeni orang asing. Ia beranjak bangun dari tempat tidur, berniat mencari sendiri.

"Kalau kau yakin dia masih hidup, jangan bersikap seperti orang gila. Setidaknya tanyakan keadaan Kana sekarang!"

Gawin tidak peduli. Ia tetap turun lalu berniat keluar dari kamar itu tanpa alas kaki.

"Papamu dihukum mati!"

Fall For YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang