Sprout

387 30 6
                                        

Sembilan puluh tujuh hari setelah dua hari pemakaman berturut-turut dari pihak istana, mereka menghias kembali kediaman para raja itu dengan warna biru. Bunga-bunga mawar diwarnai dengan cantik agar menjadi secerah langit, lalu dipasang di setiap jengkal tangga, tembok, meja, dan lentera yang tersebar di seluruh bagian.

Tamu undangan diperkirakan akan mulai berdatangan pada jam sembilan pagi untuk menghadiri acara guna mendoakan kehamilan Metawin Jongcheveevat, satu jam sebelum acara dimulai.

Dapur istana adalah yang paling sibuk, sedangkan para penjaga meningkatkan kewaspadaan dua kali lipat mengingat tahun itu keadaan bisa berbalik begitu saja, pemakaman Joss dan Gawin contohnya.

Istana merilis pengumuman kehamilan Metawin yang memasuki usia 20 Minggu seminggu yang lalu.

Topik hangat bagi seluruh lapisan masyarakat.

Perilisan berita kehamilan yang sudah besar disertai dengan foto-foto pernikahan yang diklaim telah dilakukan sejak lama, hanya saja baru dipublish mengingat keadaan politik sedang tidak baik-baik saja.

Beberapa orang mengangguk percaya, sebagian besar bergosip tak puas.

Pernikahan bukan hal kecil apalagi jika menyangkut keluarga kerajaan. Gangguan politik seharusnya bukan alasan tepat. Namun mereka terpaksa menerima karena bukti Joss dan Gawin di hadapan pendeta sama sekali bukan rekayasa teknologi.

Setelah kabar kehamilan menyebar, media tidak diijinkan mengeluarkan berita yang memuat kontroversi mengenai hal tersebut. Laman berita diisi hal-hal positif dan sedikit ucapan duka karena penerus Jongcheveevat yang sedang dikandung akan lahir tanpa disambut sosok ayahnya, Joss.

Persis seperti saat Gawin ditemukan sekarat tempo hari di hotel. Media tak banyak menggoreng berita tersebut.

"Lihatlah, dia begitu cantik dan sempurna." Saint memuji pantulan cermin dihadapannya.

Metawin baru saja selesai dirias. Celana yang nyaman dengan kemeja biru pastel transparan, dilapisi jubah panjang bercorak matahari di punggung.

"Tersenyumlah anakku, hari ini kau adalah pusat perhatian. Dokter memastikan hari ini kau berada dalam masa tenang, rasa sakit tak akan menyerang." Saint menaikkan beberapa helai rambut yang jatuh di kening Metawin.

"Katakan saja bahwa aku akan memasuki fase lumpuh sebelum akhirnya melahirkan." Ucap Metawin sengit. Ia lelah terus dihibur dengan kata-kata tak jujur.

Total delapan Minggu ia disiksa dengan sakit yang hebat, haus akan pheromon yang samar ia ingat bagaimana aromanya.

Ia tidak mengalami penurunan fungsi kelenjar pheromon karena memang tak pernah ada yang menandai, tapi bayi tanpa pheromon ayahnya adalah siksaan.

Pantas saja para omega memilih untuk melakukan aborsi jika alpha yang menghamilinya tidak bertanggung jawab, sembilan bulan masa kehamilan sangat menyiksa.

"Segala hal butuh pengorbanan, anakku."

Dan kau berkorban terlalu banyak lalu berakhir menyedihkan, batin Metawin.

"Bagaimana kabar paviliunmu, ayah? Apa cukup nyaman?" Tanya Metawin mengalihkan topik.

"Sesak."

Metawin menyeringai.

Acara doa hari itu adalah langkah awal dari penobatan Metawin sebagai wali dari putra mahkota yang masih dalam perutnya. Mew Suppasit menggunakan hak sekali seumur hidupnya untuk membungkam dewan perwakilan dengan perintah mutlak bahwa anak dalam kandungan putra omeganya adalah penerus sah yang tidak bisa dikudeta dengan jalan apapun. Pemerintahan akan dipimpin oleh Metawin hingga putra mahkota mencapai usia legal sementara ia turun tahta saat Metawin melahirkan nanti.

Fall For YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang