"Tuanku, sarapan pagi ini ingin roti atau na-"
"Berhenti memanggilnya begitu, dia bukan lagi tunanganmu."
"Saya... Maafkan saya-"
"Jangan hanya minta maaf, tapi otak kecilmu itu harus mulai dibiasakan berguna. Hal sekecil itu kau selalu lupa?"
"Tapi Tuan, saya memang tunangan Tuan Ga-"
"Tutup mulutmu!"
Gawin memijit keningnya. Belum 100 hari sejak kematian papanya tapi ia bahkan tidak diijinkan berduka dengan benar. Rumahnya selalu dipenuhi perselisihan antara Joss dan Krist.
Krist memang terlihat penakut, tapi dia selalu menyela dan membela diri dengan kata-kata yang membuat Joss makin naik pitam. Perdebatan diantara mereka berdua menjadi menu yang selalu tersaji di meja makan, di ruang tamu, bahkan di hadapan para tamu penginapan.
"Pulangkan dia, Win. Aku tidak suka dia disini dan jadi parasit dalam rumah kita."
"Tuan Joss pasti bercanda. Saya adalah tanggung jawab Tuan Gawin sejak kami ditunangkan tempo hari." Sela Krist.
"Tanggung jawab apanya??" Nada suara Jos meninggi.
"Kepalaku sakit," keluh Gawin di tengah perdebatan.
Joss melompati sofa untuk mendahului Krist. Ia menempelkan punggung tangannya si kening yang lebih muda. "Kau tidak enak badan?" Tanyanya cemas.
"Kepalaku sakit karena perdebatan kalian berdua," Gawin menyingkirkan tangan Joss dari keningnya. "Dan kalau kalian berdua masih terus bertengkar, mungkin lebih baik kalian berdua menikah saja." Ujar Gawin meninggalkan rumah.
Baik Joss atau Krist kompak ingin muntah.
Jika tidak dengan pertengkaran, Joss akan melemparkan tatapan sengit pada Krist, lalu yang ditatap akan tersenyum polos seperti ia sedang mendapat tatap hangat, persis seperti bagaimana Joss menatapnya saat itu.
Gawin melangkahkan kakinya menuju penginapan. Kursi-kursi tertata rapi dengan bagian dapur yang sedang sibuk. Sisa konser mini semalam sama sekali tak bersisa, para pelayan membersihkan kekacauan dengan cermat.
Rombongan pelancong mengadakan pesta semalam, beberapa orang bernyanyi untuk menghibur, bergaya seolah mereka sedang melakukan konser dengan penonton berjumlah fantastis. Gawin berani bertaruh para tamunya masih pulas setidaknya hingga matahari meninggi nanti.
"Tuan ingin sarapan di sini saja?" Krist mengekori Gawin sejak Joss memilih untuk naik ke kamarnya alih-alih menyusul kekasihnya yang sedang marah.
"Aku tidak terlalu lapar. Kurasa aku baik-baik saja tanpa sarapan hari ini." Sahut Gawin.
"Setidaknya makanlah sesuatu meskipun hanya sepotong buah. Saya akan menyajikannya. Tuan bisa menunggu disini sebentar." Krist menggeser sebuah kursi.
"Apa kita bisa mengobrol saja? Kurasa kita tidak punya waktu untuk bicara serius. Joss selalu ada diantara kita dari waktu ke waktu."
"Bisa. Tuan ingin membicarakan apa?" Krist mengikuti Gawin duduk.
"Seseorang memberitahuku bahwa sebenarnya kau diantar pulang ke rumahmu saat aku masih di rumah sakit, tapi kau meminta agar bisa kembali bersamaku. Apa aku boleh tahu alasannya?" Tanya Gawin hati-hati. Ia tidak ingin terdengar seperti Joss yang terang-terangan mengusir. Tapi ia juga tidak bisa berdiam melihat Krist bicara seolah mereka masih bertunangan.
Krist menunduk, ia terdiam cukup lama.
"Kau tidak harus menjawab kalau tidak ingin," Gawin menambahkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fall For You
Fiksi Penggemar"kalaupun kita saling mencintai, apa darah yang mengalir di tubuh kita bahkan merestui?" Visual dan nama dari semua tokoh diambil hanya untuk kepentingan cerita yang bersifat fiksi, tidak ada hubungannya dengan kehidupan nyata apalagi bermaksud menj...
