After Break Up

499 34 10
                                        

Itu bukan labirin.

Bahkan jika semua orang mengatakan takdir Gawin hanya berputar di satu tempat, Kembali pada garis awal untuk menjalani cerita yang persis, Gawin tetap berkeras masa lalu tidak akan terulang dengan jalan apapun, setidaknya saat dirinya masih bernafas.

Benar Gawin dibesarkan tanpa ayah. Benar ia diperlakukan bak pangeran karena harta yang berlimpah. Dan benar adanya banyak peran yang harusnya terisi dibiarkan kosong begitu saja. Peran Mew Suppasit misalnya.

Gawin tidak pernah menyukai kenyataan bahwa ia adalah darah daging Mew Suppasit adalah benar, tapi sosok ayah tetap saja ia damba.

Semakin dewasa, ia semakin menginginkan kehidupan dengan sepasang orang tua, di rumah yang hangat, tempat pulang lebih dari sekedar tempat tidur dan uang.

Semakin ia menyadari kerinduan pada 'keluarga', semakin malas tubuhnya untuk bangkit dari lantai kayu yang ia duduki.

Total 22 jam ia duduk di sana tanpa beringsut barang sejengkal. Yang hilang dari pandangannya hanya Joss Wayar, selain itu segalanya masih pada tempatnya.

Udara beramoma pasir asin, tempat tidur yang kusut di beberapa bagian, pecahan beling di lantai, noda tetesan darah yang menetes dari sudut bibir Joss, lalu pengap karena seseorang terpaksa Gawin dorong keluar mendominasi pikirannya.

Alpha dengan tinggi di atas rata-rata itu pergi tanpa mengemas apapun, seakan ia hanya ingin menghilangkan penat lalu kembali setelah pikirannya segar.

Semalaman, ribuan maaf dan berbagai alasan Gawin dengarkan tanpa menyahut. Penghiburan macam apapun tak akan mengubah kenyataan bahwa antara Metawin dan Joss ada seorang anak, bahkan jika Joss mati, hubungan itu akan tetap hidup.

Bajingan.

Seharusnya Gawin menjaga dirinya lebih baik lagi. Ia tidak diberkahi dengan hubungan percintaan yang mulus, harusnya ia sadar diri.  Selalu ada akhir yang buruk di ujung, tepat ketika ia berpikir bahwa seseorang dikhususkan menemaninya seumur hidup.

Bagaimana bisa ia percaya hal konyol semacam itu?

Pada akhirnya, setelah menangis dan berpikir berjam-jama lamanya, keputusan akhirnya adalah ia harus kembali hidup.

Joss mungkin sedang melakukan perjalanan pulangnya, dan Gawin tidak ingin menjadi pihak yang terus meratap hingga mendatangkan belas kasihan.

Hari berikutnya ia bangun seperti biasa, mandi lalu menghabiskan waktu melayani tamu, mengecek persediaan bahan makanan di dapur, bahkan merapikan kursi dan meja.

Dia banyak tersenyum pada tamu. Hanya saja, nafsu makannya berkurang lebih dari separuh. Hal yang tak bisa ia usahakan untuk terlihat normal terutama di mata Krist.

"Tuan, kau harus makan sesuatu." Krist menyodorkan nampan berisi sup daging sapi dengan sepiring nasi. Balkon kamar Gawin dilengkapi sepasang kursi kayu tapi Gawin membiarkan dirinya duduk di lantai, menghadap pantai berpasir.

"Aku kehilangan selera makan. Kau makanlah lebih dulu." Sahut Gawin tenang.

"Tuan Kana mengorbankan dirinya agar tuan tetap hidup. Setidaknya tuan harus menjaga titipan itu dengan baik," bujuk Krist.

"Jangan menggunakan papa untuk menekanku, aku tahu pengorbanannya lebih dari siapapun."

Krist meletakkan bokongnya di samping Gawin, ditatapnya alpha dengan hidung runcing dan mata teduh itu dalam. Krist setuju mata itu seribu kali terlihat lebih cantik ketika tertawa, tapi sepertinya mata itu mulai terbiasa dengan kesedihan.

Kesedihan menghiasi wajah Gawin lebih baik dari kebahagiaan.

Dua bulan lamanya Krist berdiam diri, memperhatikan Gawin lewat ekor matanya tanpa bertanya. Kesimpulan yang bisa ia dapat, tuannya terlihat baik tapi tidak benar-benar baik.

Fall For YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang