Yang nggak suka bahasa vulgar boleh skip🔞
.
.
.
Satu pekan berlalu ketika Gawin untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di sebuah rumah dengan pemandangan pantai berpasir putih. Rumah dua lantai dengan hamparan pasir dan laut sebagai halamannya.
Tak jauh dari rumah itu sebuah area penginapan yang memiliki banyak meja dan kursi di halamannya membuat Gawin mengernyit.
"Itu milikmu, kau akan mengelola tempat itu untuk bertahan hidup." Ujar Joss mengerti arah tatap Gawin.
Gawin terlihat tak berminat, ia masuk begitu daun pintu terbuka.
"Rumah ini juga milikmu. Nyonya Davika sedang mengurus surat pengalihan kepemilikan semua properti yang Tuan Kana tinggalkan untukmu."
Langkah Gawin terhenti. Setiap nama Kana muncul Gawin tiba-tiba membeku. Joss yang menyadari hal itu buru-buru meletakkan koper dan menghampiri Gawin.
"Kita akan melewatinya. Kau akan baik-baik saja." Joss memeluk alphanya dari arah belakang, menautkan kedua tangan tepat di pusar lalu mendaratkan kecupan singkat di pundak.
Pelukan mereka berakhir di tempat tidur masih dengan posisi semula dalam versi nyaman di atas kasur.
"Kau tidak marah lagi. Aku bisa merasakannya." Ucap Joss lembut. Nafasnya membelai tengkuk Gawin.
"Aku tidak punya energi lagi untuk marah. Aku terbuang dan tak punya keluarga. Itu saja sudah cukup buruk." Gawin enggak mengatakan bahwa keadaannya akan bertambah buruk jika Joss juga ikut lari meninggalkannya.
Tangan Joss yang mulanya memeluk perut, mengambil tangan Gawin lalu mengelus bagian pergelangan tangan dengan tanda merah menyerupai luka, "kau tidak sendiri. Aku lebih dari sekedar keluarga untukmu." Ucapnya.
Gawin membuang nafas.
"Ikatan diantara para alpha tidak memiliki jaminan sebagaimana alpha dan omega. Kita bisa saling meninggalkan tanpa resiko dan kesulitan." Beban pikiran Gawin memang banyak, tapi melihat dirinya yang tak memiliki apapun tersisa selain Joss memunculkan ketakutan yang aneh.
Dia banyak melalui hari tanpa sandaran, tapi kali itu jika Joss memutuskan untuk menghilang, ia ragu bisa bertahan.
Keraguan itu dijawab dengan kecupan di tengkuk, lalu peluk yang lebih erat.
"Kau pikir manusia mana lagi yang bisa membuatku meninggalkan semua dendam yang kubawa sejak kecil selain dirimu? Kau tahu, aku adalah keturunan Jongcheveevat, lalu yang bisa membuatku tertarik hanyalah Jongcheveevat yang lain. Kalau aku tak salah ingat, kita berdua adalah alpha Jongcheveevat terakhir. Tidak akan ada yang bisa menyamai levelmu."
"Kau akan mati jika satu hari nanti aku melihatmu tertarik pada orang lain." Ancam Gawin.
"Cemaskan dirimu sendiri sebelum mencemaskanku. Kau membawa tunanganmu kesini kalau kau lupa," Joss mulai merajuk mengingat Krist akan tiba besok pagi di rumah itu.
Gawin mwndengus, "Kau pasti bercanda. Krist bahkan tidak berperilaku sebagai tunangan sejak awal. Dia hanya butuh terlepas dari tuntutan keluarganya."
"Tetap saja, kau tampak tertarik padanya. Aku melihat kalian sangat akrab di istana."
"Kau pasti sedang membicarakan dirimu dan Metawin." Sindir Gawin.
"Jangan ingatkan aku padanya. Dia mimpi yang menakutkan." Keluh Joss.
Hening. Gawin larut dalam pikirannya sendiri sementara Joss menebak apa yang terjadi dalam kepala Gawin dengan gelombang ketakutan dan kesedihan tipis mengalir ke kepala Joss.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fall For You
Fanfiction"kalaupun kita saling mencintai, apa darah yang mengalir di tubuh kita bahkan merestui?" Visual dan nama dari semua tokoh diambil hanya untuk kepentingan cerita yang bersifat fiksi, tidak ada hubungannya dengan kehidupan nyata apalagi bermaksud menj...
