14. Dia kembali

145 8 0
                                        

Selamat membaca


"Seseorang yang terlihat jauh namun dekat dalam sebuah ikatan."

_Daniel Elbian Trihasa


Author POV

Seseorang menyeret satu koper memasuki kediaman saudara sepupunya. Langkahnya kian semakin cepat kala telinganya mendengar kerusuhan di dalam. Tanpa salam dan ucapan lainnya, dia menerobos masuk beruntung pintu utama tidak dikunci pemilik rumah.

"ZAREL," Daniel berseru kaget dan segera menghampiri Zarel yang sudah bersimpuh di hadapan Darren.

"Om apa-apa an sih," sentak Daniel dengan raut tak ramah, siapa pula yang akan tetap ramah kalau dihadapan situasi begini.

Zarel mencekal ujung baju cowok itu dan menggeleng lemah, melarang nya untuk ikut campur.

"Enyah dari kehidupan saya Azharel," kata Darren sebelum pergi entah kemana. Sama sekali tidak menganggap kehadiran seseorang disana.

Satu goresan lagi untuk hatinya yang sudah hancur, Zarel tidak menangis, air matanya sudah terkuras habis untuk hari-hari sebelumnya.

"Zarel ini kenapa bisa gini? Cerita sama gue apa yang sebenarnya terjadi?" Nada yang digunakan Daniel amat lembut, dari sorot matanya Zarel bisa melihat kekhawatiran yang tulus.

"Kak Daniel kapan sampai? Kenapa nggak kabarin gue dulu?" Zarel balik bertanya, mengalihkan pembicaraan.

Lihat? Bahkan saat sekujur tubuhnya terluka gadis itu masih bisa tersenyum simpul, ekspresi wajahnya cepat sekali berubah. Seperti nya Zarel sudah terbiasa hingga Daniel tak melihat satupun cairan bening yang keluar.

"Jangan ngalihin pembicaraan."

Zarel malah terkekeh kecil, "udah ah, lo baru dateng kak, ceritanya nanti aja."

Menggeleng tegas, menyusul Zarel yang sudah berlalu. Daniel tidak mendesak, ia hanya mengikuti langkah Zarel sesekali ekor matanya mencuri pandang pada Zarel yang terlihat biasa saja, tapi dalam hatinya Daniel tahu gadis itu pasti menggeram menahan sakit di kakinya.

"Jangan di paksain jalannya, nanti malah bengkak." Daniel berjongkok di hadapan gadis itu yang malah tertawa. "Naik, adek gue nggak boleh kesakitan."

Zarel mengangguk, "terus gini aja ya kak, gue kangen sama lo," ujarnya.

Dalam hati Daniel merutuki dirinya yang lalai, dua tahun terakhir kali bertemu seperti nya banyak terjadi perubahan pada gadis kecilnya.  Terlihat jelas dari fisiknya yang terdapat beberapa luka, tidak bisa ia bayangkan betapa hancur hatinya.

"Woy malah bengong,"

"Eh apa?" tanya Daniel sedikit tersentak kaget. Pikirannya terlalu berisik hingga tak mendengar suara dari luar.

Merolingkan bola matanya namun Zarel tetap mengulang perkataanya, "So? Kenapa nggak pernah ngabarin gue lagi?"

"Bukannya lo yang nggak bisa dihubungi?" ucapan telak Daniel membuat Zarel sedikit meringis, lupa kalau memang dulu ia mengganti nomor ponselnya dan tidak mengingat lelaki itu.

"Tungguin gue, jangan kemana-mana."

Daniel berlalu setelah meletakkan tubuh Zarel di atas kasur. Ia kembali dengan beberapa obat merah juga kompresan di tangannya. Mengobati luka di kaki Zarel yang membiru.

"Sejak kapan om Darren main tangan sama lo?" tanya Daniel di sela-sela kegiatannya.

Mendongak, Daniel tidak mendengar sedikitpun suara yang di keluarkan gadis ini. Ia menghela nafas, menaruh kembali kompresan nya di atas nakas saat selesai.

Azharel (On Going)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang