Vote sama komennya jangan lupa 🥲😞
Selamat membaca
•
•
•
Author POV
Zarel melenguh dalam tidurnya, ia merasa terganggu. Padahal hari masih gelap, bisa diperkirakan jam masih menunjukkan pukul 04.45. Dia sedikit mengucek matanya dan merubah posisi menjadi duduk bersandar. Terakhir kali dia ingat, saat gadis itu mengeluhkan sakit di perutnya dan itu masih diruang tamu. Sepertinya dia sampai ketiduran.
Seketika gadis itu tersenyum, rupanya suara yang membuat tidurnya terganggu adalah Nabil. Dia belum menyadari Zarel yang terbangun. Zarel sendiri memilih diam, mendengarkan alunan indah suara milik Nabil saat melafalkan Al-Qur'an. Menunggu cowok itu hingga selesai.
"Shodaqolloh hul adzim." Nabil menutup kembali Al-Qur'an miliknya, menciuminya sejenak lalu meletakkan kembali di nakas.
"Kebangun gara-gara gue ya? Maaf." Cowok itu menyadari Zarel saat berdiri dan melipat sajadah.
"Nggak papa, btw suara lo selalu bagus, enak di denger."
Nabil hanya tersenyum sebagai tanggapan. Mendekat ke arah Zarel. "Udah nggak sakit?" Tanyanya memastikan.
"Nggak."
Nabil manggut-manggut, syukurlah. Dalam hati dia berdoa semoga gadis itu tidak aneh-aneh lagi. Melihat Zarel yang kemudian menyingkap selimut di tubuhnya tapi kemudian kembali menutupinya, raut wajahnya seperti terkejut, bingung dan entahlah. Pokoknya sulit di deskripsikan.
"Gue bocor," ungkapnya.
Nabil menaikkan sebelah alisnya, seolah bertanya 'trus?'
Gadis itu terlihat kesal membuat Nabil menelan ludahnya kasar. Apalagi ini ya Alloh?
Ternyata cewek pms memang menyeramkan. Dulu ia menyangkal fakta itu tapi sekarang sepertinya dia mulai mengakuinya.
"Ck, kemarin harusnya gue beli pembalut. Lo sih nggak bangunin gue, ah," kesalnya. Persediaan miliknya memang habis, perkara sakit perut kemarin yang membuatnya tertidur juga melupakan hal penting itu sungguh diluar dugaan.
Sekarang bagaimana? Mana mungkin ia keluar disaat keadaannya kayak gini kan?
Nabil menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "Mana gue tahu."
"Ya harusnya lo tanya dong." Lagi, gadis itu membuatnya tak bisa berkutik. Pagi-pagi begini juga. Nabil memilih diam, tak mau bicara lagi.
"Beliin."
"Hah?" Nabil tak paham.
"Beliin gue pembalut," titahnya tak mau dibantah.
Zarel mendengus melihat cowok itu yang masih diam. Mendorong bahu Nabil agar segera, dia sudah tidak nyaman.
Sementara Nabil yang tampak tertekan tidak memiliki pilihan lain. Ia menyambar jaket serta kunci motonya. Kemana dia harus mencari benda itu pagi-pagi buta seperti ini.
Setelah keliling ke beberapa tempat, dia menemukan satu minimarket yang buka. Seumur-umur baru kali ini Nabil berniat membeli barang wanita itu. Ia sedikit bersyukur karena tidak banyak orang pada waktu ini, setidaknya malunya hanya pada kasir yang berjaga.
"Kok banyak banget," keluhnya. Dia tidak menyangka akan ada banyak macam seperti ini. Tau gini tadi dia bertanya dulu mana yang biasa gadis itu pakai.
Dia sedikit bergidik membayangkan reaksi gadis itu kalau Nabil menanyakan itu sekarang. Cari aman, Nabil membuka ponselnya. Mengetikkan pesan pada kontak yang ia cari.
KAMU SEDANG MEMBACA
Azharel (On Going)
Teen FictionHarap follow sebelum baca ya! PLAGIAT DILARANG MENDEKAT!! _____°°•°°_____ Bagi anak perempuan, ayah adalah cinta pertama mereka. Tapi terkadang masih banyak mereka yang tidak beruntung. Sama seperti yang dialami Azharel Natashen. Tentang Zarel yang...
