31. Darren dan kehidupan

99 2 0
                                        


Ayok vote komen dulu sebelum baca ;)

Selamat membaca


Author POV

Mendadak hatinya sesak, entah kenapa di area sana terasa sakit. Ini hampir sama saat kejadian dua tahun lalu, semoga saja firasatnya salah.

Tangan Zarel yang melingkar di pinggangnya terasa gemetar, Nabil mengusapnya pelan. Ia tahu ada ketakutan yang sedang menghampiri gadis itu.

Sekitar sepuluh menit, Nabil sudah tiba di parkiran. Mereka sedikit berlari ke lantai dua tempat Darren dirawat. Di depannya, hanya ada Daniel yang duduk dengan raut khawatir.

"Papa kenapa kak? Kenapa rumah sakit? Kak Daniel!" Zarel mengguncang bahu Daniel kuat. Lelaki itu hanya diam.

Nabil menjauhkan gadis itu dari Daniel, "Udah diem dulu, papa lo nggak papa."

"Perasaan gue nggak enak bil, ini kayak.. deja vu."

"DID, Om Darren ngidap penyakit itu itu udah lama."

"Mak-sud lo kak?" Zarel tidak bisa menyembunyikan raut terkejutnya.

"Orang yang selalu kasar sama lo, main kekerasan, nggak peduli, bahkan hampir ngebunuh anaknya sendiri. Itu orang lain rel, dia cuman orang lain yang hidup satu raga dengan papa lo," jelas Daniel lagi.

Ia tidak peduli jikapun nanti Darren akan marah padanya karena membicarakan hal yang ia larang. Daniel tidak bisa menyimpannya sendirian. "Papa lo sengaja nyembunyiin ini dari lo karena-"

"- dia nggak mau anaknya khawatir."

Zarel menggeleng pelan, kenyataan pahit yang ia terima membuatnya merasa semakin sesak. Zarel telah salah menilai sosok ayah. Nabil tidak terkejut lagi, dia memang sudah tahu semuanya.

"Dan satu lagi, alasan dia mau lo jauh darinya. Alasan dia terpaksa jodohin lo sama Nabil, itu karena dia nggak mau lo terus sakit rel. Dia sengaja nggak pulang karena om Darren takut, dia takut kalau hilang kendali dan nyakitin lo lagi."

"Sisi lain om Darren itu punya dendam yang besar, dia nggak akan segan nyakitin siapapun termasuk.. dirinya sendiri."

"Lo tahu dari kapan kak?! Jawab?! Kenapa lo juga nggak ngasih tahu gue, kenapa lo sama aja." Zarel mulai terisak, ia tidak kuat. Daniel memeluknya, tidak bisa ia ukur seberapa besar kecewa yang gadis itu tanggung.

Daniel tidak menangis, dia hanya ikut merasa sesak mendengar gadis yang ia anggap adiknya sudah terisak seperti ini.

"Lo bohong kak, papa juga. Gue benci dibohongin kak Daniel, gue benci!" Katanya.

"Gue minta maaf." Daniel tidak tahu lagi apa yang harus ia ucapkan.

Beberapa menit hening, pintu ruang akhirnya terbuka menampakkan dokter yang sudah menangani Darren.

"Ada yang bernama Zarel, pasien ingin bertemu dengannya," ucap dokter tersebut singkat.

Saat Zarel dan Nabil masuk, Daniel menghadang dokter itu untuk meminta penjelasan.

"Gimana kondisinya?"

"Ini sudah yang kesekian kalinya, maaf saya sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi," jelasnya merasa bersalah.

"Tidak apa-apa, terimakasih dok." Daniel kemudian ikut masuk. Keadaan sungguh canggung, saat ia masuk tidak ada satupun yang mengeluarkan suara.

Dia mengerti, butuh waktu untuk ayah dan anak itu setelah melewati hari yang membuat mereka terjebak lingkaran pertengkaran.

Azharel (On Going)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang