15. Pertikaian saudara

138 7 0
                                        

Selamat membaca


Author POV

Motor Daniel terhenti tepat di depan gerbang, banyak murid yang berlalu lalang mengalihkan atensi mereka. Penampilan Daniel yang sedikit mencolok-berbeda dari yang lain- membuatnya semuanya penasaran.

Zarel turun dan sedikit membenahi anak rambutnya yang berantakan.

"Bagusan berantakan, biar ada kesan cool."

Zarel menyentak tangan Daniel yang mengacak kembali rambutnya. Gadis itu cemberut, "Lo mah kebiasaan."

Daniel terkekeh gemas, tak bisa menahan diri untuk tidak mencubit pipi Zarel yang terlihat lucu baginya. "Ututu, gemes banget sih adek gue. Udah ah sana keburu di tutup gerbangnya."

Mengusap pipinya yang sakit, Zarel mencebik, "sakit tahu."

Daniel malah terkekeh mendengarnya aduannya masih sama seperti dulu, Zarel tetep menjadi bocah di matanya.

"Kalau ulangannya dapet lebih dari delapan gue kasih hadiah." seru Daniel saat Zarel sudah mulai menghilang dari pandangannya. Gadis itu terlihat berbalik dengan senyum sumringah.

"Terserah gue ya?"

Daniel mengangguk mantap, senyum Zarel semakin mengembang dibuatnya. Ia jadi bertekad menjadi yang terbaik kali ini, Daniel slalu bisa membuat gadis itu senang dengan caranya sendiri.

"Seenggaknya perjuangan lo butuh apresiasi rel," guman Daniel. Dia tahu, sejak semalaman Zarel belajar sampai gadis itu tertidur di sofa. Prinsipnya masih sama, Zarel harus bahagia bagaimana pun caranya. Jika Darren sudah tak bisa menjadi sumber kebahagiaan nya maka Daniel siap menjadi penggantinya.

"Wih pagi ini udah seneng banget perasaan, kenapa sih?" Bella merangkul pundak Zarel akrab.

"Dianterin doi ya?" tuduh Bella berniat menggoda.

Zarel malah terbahak membuat gadis itu bingung dengan respon yang diluar dugaannya. Bella melepas rangkulannya dengan pandangan bertanya.

"Mana ada doi, ngaco lo." Zarel menggeleng heran, mendahului langkah Bella yang kini berada di belakangnya.

"Loh, trus siapa dong?" tanyanya penasaran.

"Kak Daniel."

Jawaban singkat Zarel membuat Bella tersedak ludahnya sendiri. Ia mensejajarkan langkah nya dengan langkah Zarel, "kak Daniel? Siapa?"

Zarel memilih diam, karena tahu kalau sekali ia menjawab Bella akan terus melontarkan pertanyaan yang lain mengingat gadis itu memiliki tingkat kepo yang tinggi. Tanpa sadar keduanya sudah berjalan sampai ke depan kelas, Zarel berniat menyimpan tasnya terhenti karena intrupsi dari sang ketua kelas.

"Buat semuanya langsung ke lab buat praktik bawa bahan yang di suruh be Willy Minggu lalu, sampai sana langsung gabung sama kelompok nya masing-masing, cepetan Bu Willy udah stand by dari tadi."

"Anjir baru aja sampai," gerutu Yaya yang memang masih di depan kelas dengan menenteng tas nya, bahunya merosot lelah. Murid yang lain juga sama menggerutunya, pasalnya bel jam pertama juga belum mulai.

Azharel (On Going)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang