15
"Aku sering melihatmu melamun dan bicara pada diri sendiri. Tapi melihatmu tersenyum sendiri, aku tidak yakin. Apa yang sedang kamu pikirkan, Adriana?" Diandra memasuki kamar mandi begitu saja. Membuat semua hal yang bertaburan di kepalaku buyar, menghilang seperti uap sup yang mulai dingin.
"Keluarlah, Diandra... Aku belum pakai baju," kataku. Menutupi semua yang bisa kututupi dengan dua tanganku. Mataku memindai ke sekitar untuk mencari handuk.
Diandra mengatupkan bibir menahan senyumnya. Setelah agak tenang, ia mulai bicara, "Aku sudah berdiri 5 menit di sini dan kamu bersikap biasa saja. Sekarang kamu ingin aku pergi?"
"Diandra... Aku ini anak di bawah umur," kataku sambil bercanda. Suasana hatiku memang sedang baik.
Tentu, mendengar gurauan macam itu, Diandra langsung mengernyit jijik. "Sial sekali, Adriana. Kita sama-sama 19 tahun. Kita sudah dewasa."
Diandra mendekatiku. Kini aku merasa lebih nyaman dan rileks. Kulanjutkan kegiatan membersihkan wajah dengan kapas dan alkohol.
"Dengar, aku ada tugas malam ini. Apa kamu mau menjaga Karma untukku?"
"Apa itu alasanmu berbaik-baik padaku?" Tiga minggu sudah Diandra begitu fokus pada Karma hingga jarang mengobrol denganku. Sekarang, dia datang padaku dan memohon.
"Adriana..."
"Baiklah... Aku lakukan, asal kamu berjanji akan kembali dengan utuh ke sini. Karena aku dan Karma sepertinya bukan formula yang bagus." Aku berkomentar sambil masih sibuk dengan wajahku ketika Diandra menyeka sepercik busa yang tertinggal di leher belakangku, dengan sebilah pisau lipat. Tubuhku menegang dan waspada. Aku khawatir kalau salah bergerak, aku akan terluka. Cara bermain orang-orang di sini memang aneh.
"Apa kamu selalu terlahir seperduli ini?" tanya Diandra ketika membersihkan bekas busa di pisaunya dengan lenganku. Seketika pori-pori kulitku bereaksi dan mengembang. Aku mulai tak yakin kalau dia melakukan itu tanpa intensi.
"Dari mana kamu dapat pisau itu?" tanyaku mengalihkan perhatian.
"Selalu ada di tanganku," kata Diandra cepat.
Dari cermin, aku dapat melihat bagaimana matanya terfokus pada leherku. Aku tidak bisa mendeskripsikan kengerianku. Yang bisa kubayangkan hanya bagaimana pisau itu bisa menancap di leherku, kapan pun.
"Adriana..." Diandra bergumam.
"Ya?" Aku menjawab dengan cepat.
"Tidak, lupakan saja." Diandra berbalik dan meninggalkan kamar mandi dengan cepat.
Aku membuang sisa kapas yang telah kotor ke dalam bak sampah. Aku tak habis pikir, seharian ini orang-orang memanggil namaku. Tapi tak satu pun yang benar-benar menyampaikan maksud mereka.
Saat aku keluar kamar mandi, Diandra sudah lenyap. Aku memakai sepatuku, kemudian bergegas menuju kamar Karma.
"Bagaimana keadaanmu?" tanyaku saat memasuki kamarnya. Karma sedang berdiri menghadap ke luar jendela. Tubuhnya lebih kurus dari terakhir kali aku melihatnya. Aku baru menyadarinya karena selama ini selalu melihatnya berbaring di dalam selimut. Kini aku tahu, ia bermasalah dengan berat badan.
"Aku baik-baik, seperti hari-hari yang lalu," jawabnya. Ia belum juga menoleh padaku.
"Diandra sedang ada tugas. Jadi, malam ini aku yang akan menungguimu." Aku basa-basi. Kalau-kalau Diandra tidak mampir untuk memberitahunya. Aku tidak ingin Karma mengira kalau kedatanganku adalah kehendakku. Meski memang belakangan aku sempat mencari-cari alasan agar bisa datang ke kamarnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
7. Sembilan Belas GXG (END)
Romance18+ Siapa pun yang ada di sini, jika sedang sial, ketika tiba akan ditempatkan sekamar dengan seorang perempuan yang diduga, telah membunuh neneknya sendiri. Atau seorang kleptomaniak, atau seorang sosiopat yang terobsesi pada pisau, atau sesederhan...
