25. Adek Jadi Senior🔖

11.4K 635 21
                                        

Senin pagi, Viona membuka matanya saat seberkas cahaya masuk dari sela-sela tirai kamarnya.

Viona menutup mulutnya yang menguap sebelum bangun dari kasurnya untuk bersiap-siap pergi ke sekolah.

Gadis remaja berusia 16 tahun itu masih merasa linglung lantaran akan kembali bersekolah setelah 1 bulan lamanya libur.

Viona masih bingung antara kenyataan sudah kembali ke rumah atau masih tinggal di Jepang bermain ski dengan keluarganya.

Hari ini Viona akan memulai hari pertamanya sebagai senior tahun kedua di Hermawan High School. Bukan untuk belajar seperti biasanya, melainkan untuk memberikan ospek kepada anak baru.

Selesai peregangan, tidak ingin membuang waktu, Viona lantas bangun dan menuju kamar mandi untuk bersih-bersih.

20 menit kemudian, Viona keluar dari kamar mandi lengkap dengan kaos lengan pendek berwarna abu-abu bertuliskan "Senior Vibes of Hermawan HS" dan celana training berwarna hitam. Kaki mungilnya juga dipakaikan sneaker terbaru dari merek N**e.

Gadis cantik itu mengikat rambutnya menjadi ekor kuda dan mengoleskan sunscreen sebelum turun untuk sarapan.

Viona keluar dari kamar bersamaan dengan pintu kamar Rendi yang dibuka. Abang ketiganya itu keluar dalam keadaan rambut acak-acakan dan mulut yang terus menguap.

Saat Viona melihat Rendi, pemuda itu juga melihat adik kecilnya. Rendi memperhatikan penampilan Viona dari atas ke bawah, hingga tatapannya terpaku pada tulisan besar di baju Viona.

"Cieee yang udah jadi senior! Yang tahun lalu di-ospek sekarang udah nge-ospek!" Goda Rendi sambil menaik-turunkan alis tebalnya.

Laki-laki itu kemudian merangkul Viona menuju lift untuk turun menuju lantai 1.

"Gimana dek rasanya mau nge-ospek orang? Menurut kamu lebih seru mana dari di-ospek?" Tanya Rendi lagi.

"Biasa aja sih bang," jawab Viona jujur. Karena statusnya sebagai putri pemilik sekolah, tidak ada yang berani menyuruhnya macam-macam. Terlebih lagi, ketiga abangnya secara khusus mengingatkan para senior di hari pertama ospek bahwa kalau ada yang berani macam-macam pada adik mereka maka siap-siap saja ditunggu sepulang sekolah.

Oleh karena itu, bisa dikatakan bahwa tidak ada yang istimewa dari ospek Viona di tahun pertamanya, malah cenderung membosankan hingga gadis itu hanya mengikuti ospek di hari pertama dan bolos di dua hari berikutnya.

Saat sudah sampai di meja makan, Viona juga disambut antusias oleh keluarganya.

Radit yang memakai setelan jas warna abu-abu berjalan menghampiri Viona dan memeluk gadis kecilnya.

"Adek abang udah besar!" Ujarnya lembut. Dieratkannya pelukannya di tubuh mungil adiknya.

Viona juga balas memeluk sang abang.

Setelah Radit, kini tibalah giliran Rian yang memeluk tubuh mungil Viona ke dadanya.

"Adeknya abang udah jadi senior!" Kata Rian sambil mengecup puncak kepala Viona.

Setelah memeluk Rian, Viona menatap kedua orangtuanya yang juga menatapnya dengan lembut. Viona pertama sekali menemui Selina.

Selina dengan lembut memeluk Viona dan mencium kening putri kesayangannya. "Semoga semua lancar ya sayang!" Ujar Selina lembut.

Viona tersenyum lebar dan balas mencium pipi sang mama.

Setelah itu Viona melihat ke arah Adit yang sudah membuka lebar kedua tangannya, memberi kode agar putri kecilnya memeluknya.

Senyum di wajah Viona semakin lebar. Gadis kecil itu berlari menuju Adit dan langsung ditangkap oleh pria berjas hitam itu. Tidak sampai di situ, Adit kemudian mengangkat Viona dan mendudukkan putri kecilnya di bahunya.

"Papa!" Seru Viona yang membuat seluruh keluarga tertawa bahagia.

Untuk mengabadikan hari pertama Viona menjadi senior, Selina meminta seorang maid untuk mengambil gambar mereka. Viona tetap berada di atas bahu sang papa dan seluruh keluarga berdiri di dekatnya. Senyum cerah mereka menghiasi foto indah berlatarkan interior mewah kediaman Hermawan itu.

Setelah puas bersenang-senang, mereka pun mulai sarapan.

Selesai sarapan, Adit mengantar Viona ke sekolah seperti biasa.

Adit memandang jalanan familiar di depannya dengan perasaan campur aduk. Gadis kecil yang dulu masih berupa buntelan kecil yang diantarnya ke TK lima hari dalam seminggu telah berubah menjadi seorang remaja cantik yang dalam dua tahun ke depan mungkin tidak butuh diantar lagi olehnya.

Adit merasa sangat emosional, pria itu tidak tahu bagaimana harus menyingkapi perasaan sentimentalnya ini. Dia bahagia karena putri kesayangannya telah tumbuh menjadi sebaik harapannya, namun juga sedih lantaran pria itu takut kalau suatu hari nanti putrinya akan terbang menjauh dari sarang yang dibangunnya untuk bayi kecilnya.

Merasakan emosi berantakan Adit, Viona pun menoleh melihat sang papa yang wajahnya sudah mengerut.

"Papa kenapa?" Tanya Viona khawatir.

Adit hanya menggelengkan kepalanya seraya berusaha menunjukkan senyum sealami mungkin kepada putrinya.

"Papa gak apa-apa dek. Ini kita udah sampai di sekolah," ujar Adit yang kemudian menghentikan mobil mewahnya di depan gerbang.

"Okey papa," ujar Viona dan membuka sabuk pengamannya.

"Dek, uangnya cukup?" Tanya Adit tiba-tiba.

"Cukup pa. Uang bulanannya masih ada terus bang Radit sama bang Rian juga kasih adek uang kemarin," jawab Viona jujur.

Adit kemudian membuka dompet hitam mengkilatnya dan mengeluarkan 5 lembar uang berwarna merah.

"Nih buat tambahan. Nanti kamu pasti capek. Kalau gak mau makanan yang ada di kantin, pesan antar aja. Tapi jangan junk food ya!" Pesan Adit sambil menyerahkan uang yang dipegangnya kepada Viona.

Viona dengan senang hati menerima tambahan jajan dari Adit. Dia sudah memikirkan keranjang belanja mana yang akan dia check-out hari ini.

"Makasih ya pa jajannya. Adek masuk dulu. Bye papa!" Pamit Viona setelah keluar dari mobil. Gadis cantik itu melambaikan kedua tangan mungilnya ke arah Adit dari kaca jendela mobil.

"Bye sayang!" Balas Adit sebelum tancap gas menuju perusahaan yang sudah menunggunya untuk rapat bulanan.

Viona kemudian langsung masuk ke dalam sekolah, bergabung dengan kerumunan siswa berpakaian abu-abu hitam sepertinya dan pakaian putih hitam milik siswa baru.

Tanpa sepengetahuan Viona, seorang siswa tampan yang memakai kaos putih dan training hitam sedang melihat ke arah Viona dengan mata tajam dan senyum tipis yang terukir di wajah dinginnya.


Viona (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang