Pagi harinya, Viona berangkat sekolah bersama dengan Adit dan Selina yang akan akan pergi ke bandara.
"Dek, makan sayurnya jangan males selama mama sama papa pergi. Terus adek juga jangan bandel kalau dibilangin abang," pesan Selena kepada Viona.
"Adek gak nakal kok ma!" Bela Viona dengan bibir mengerut.
Selina tidak tahan untuk tidak menjitak pelan kepala kecil putrinya.
"Gak nakal dari mana? Yang kemarin pura-pura jadi pacarnya bang Rian waktu angkat telpon dari mahasiswa bimbingannya bang Rian siapa?" Tanya Selina sewot.
"Kan adek cuma bercanda ma," bela Viona lagi.
"Kalau yang tambahin saos ke sandwich strawberry-nya bang Radit siapa? Hantu?" Omel Selina.
"Ta.. tapi kan.."
"Yang ngotorin jok mobil bang Rendi sama coklat Jumat pagi siapa?" Sela Selina.
"Adek nggak sengaja ma!" Rengek Viona.
"Nggak sengaja gimana? Adek juga 3 hari yang lalu numpahin susu ke dokumen kerjanya bang Radit. Minggu lalu ganti kopi bang Rian sama Coca-cola. Terus tengkorak praktek di kamar bang Rendi kamu patahin lengannya. Kok kamu bandel banget sih dek?" Marah Selina sambil mencubit pipi gembul Viona.
"Tapi abangnya gak marah kok ma!" Protes Viona yang pipinya sedang dicubit Selina.
"Itu karena abang-abang kamu gak tega marahin kamu. Mama kesel banget deh dek. Capek mama suruh abang-abang tegur kamu kalau salah, ini kamu salah malah diketawain. Heran mama," keluh Selina. Wanita itu sangat kesal karena putra-putranya selalu memanjakan adik kecil mereka. Mereka bahkan tidak peduli separah apa kejahilan Viona, bagi mereka adik kecil mereka selalu lucu.
Namun, tiap ingin dibantu untuk menegur oleh Selina, Radit dan kedua adiknya malah selalu membela gadis kecil itu dengan cara melimpahkan semua kesalahan ke arah mereka. "Berasa jadi Mak tiri gue!" Batin Selina tiap kali hal seperti itu terjadi.
Adit mendengarkan perbincangan antara istri dan putrinya dari kursi depan. Pria tampan itu sesekali terkekeh dalam diam saat mendengar istrinya terus mengomeli putrinya.
Walaupun merasa lucu, namun Adit tidak bisa membiarkan putrinya disalahkan sepenuhnya.
"Ma, menurut papa adek nggak salah kok. Adek kan cuma main-main aja, nggak sengaja. Lagian anak-anak juga udah besar, harus bijaksana dong menanggapi becandaan adek. Masa udah besar masih baperan," komentar Adit yang duduk di kursi penumpang.
Ucapan Adit tidak hanya membuat Selina tenang, namun malah membangkitkan amarah Selina yang awalnya hanya ingin menasehati Viona.
"Lah kok jadi abang-abangnya yang disalahin? Sebenarnya aku paling kesal sama mas loh. Mas yang paling banyak manjain adek. Adek udah besar mas, bukan anak kecil lagi. Udah kelas 2 SMA dia.
Dulu waktu Radit, Rian, dan Rendi masuk SMA, mas bilang mereka harus mandiri. Nggak boleh diantar lagi, harus naik taksi atau ojol. Ini adek malah nggak boleh pergi sekolah kalau gak ada yang anter. Mas kok pilih kasih banget sih?" Amuk Selina.
Melihat amarah sang mama yang dipicu oleh papa, Viona geser ke pojokan dan berusaha menyembunyikan dirinya agar tidak terkena amarah sang mama.
Adit yang menjadi tersangka utama tersulutnya emosi Selina merasa sangat menyesal karena sudah ikut nimbrung. Pria itu menepuk keningnya dengan kesal.
Adit hanya bisa pasrah menerima omelan Selina dalam diam. Pria itu tidak dapat membantah satu katapun. Pertama, karena semua yang dikatakan Selina benar. Dan kedua, karena dia tidak berani membantah.
Sopir yang sedang menyetir juga mengecilkan bahunya, tidak ingin dimarahi bosnya karena sudah berani menyaksikan saat bos besarnya dimarahi oleh istrinya.
Setelah mobil berhenti di depan gerbang sekolah, Viona langsung turun dari mobil. Namun, sebelum masuk, Viona sempat menoleh ke arah Adit dan memberinya tanda semangat dengan menunjukkan kepalan tangan kecilnya. Setelah itu, gadis kecil itu langsung berlari masuk ke pekarangan sekolah.
Setelah masuk ke area lapangan, Viona langsung menghampiri panitia yang lain.
"Hai Vi," sapa Merlin.
"Hai Lin," balas gadis kecil dengan rambut diikat satu itu.
"Perlengkapan camping lo mana? Kok gak lo bawa?" Tanya Merlin.
"Nanti dibawain abang gue. Punya lo mana?" Tanya Viona.
"Ada tuh. Gue taruh di kelas," jawab Merlin sambil menunjuk sebuah kelas yang letaknya paling dekat dengan lapangan.
Saat mereka sedang asyik berbincang, Faiz berjalan menuju mereka dengan membawa tas besar di punggungnya.
Viona memandangi tas yang ukurannya setengah dari tubuh temannya itu dengan bingung.
"Iz. Lo kok bawa barangnya sekarang? Kenapa gak ambil nanti aja pas istirahat? Kan rumah lo di depan," tanya Viona.
Faiz menurunkan tas besarnya di samping kakinya. "E-euh. Bokap sama nyokap gue pergi ke rumah nenek siang ini, jadi rumah dikunci," jawab Faiz.
"Barang lo taruh di kelas 1-B aja sono. Barang-barang camping kita semua ada di sana," suruh Merlin.
"Oke," jawab Faiz dan menyeret tas gunungnya menuju kelas yang ditunjuk Merlin. Remaja itu langsung menyeret tasnya di tanah karena sudah tidak sanggup untuk membawanya lagi.
Beberapa panitia terlihat santai seperti Merlin dan Viona, karena ospek pada hari itu akan diadakan 10 menit lagi.
Arena tarik tambang dan tali juga sudah disiapkan di arena terbuka dekat kantin oleh panitia olahraga yang khusus akan bekerja dari hari ini hingga penutupan besok.
Saat mereka sedang asyik berbincang sambil menunggu Faiz selesai meletakkan barangnya, seorang siswa baru dari kelompok Viona datang.
"Selamat pagi kak Vio dan kak Merlin," sapa Allen, namun remaja itu hanya menatap Viona.
"Pagi Allen," jawab kedua gadis cantik itu.
"Kak Vio, ini aku ada bawain teh susu untuk kakak. Tapi aku cuma beli satu aja, soalnya aku gak tau kalau ada kak Merlin juga. Maaf ya kak," ujar Allen kepada Viona sebelum meminta maaf kepada Merlin.
"Oh iya gak apa-apa," jawab Merlin santai.
"Nih kak," ujar Allen lembut kepada Viona sambil memberikan sebuah paper bag bergambar minuman boba.
Viona menerima tas pemberian Allen dengan canggung. Gadis kecil itu tidak yakin apakah tepat baginya untuk menerima teh susu gratis dari adik kelasnya itu.
Setelah memberikan teh susu, Allen pun pamit pergi untuk bergabung dengan anggota kelompok yang lain.
Viona sedang memandangi kepergian Allen dengan pandangan rumit saat tiba-tiba sikunya disikut oleh Merlin.
"Eh Vi. Menurut gue anak baru yang namanya Allen itu sikapnya beda loh sama lo," analisis Merlin.
Viona memandangi Merlin dengan pandangan bertanya, menyuruh temannya itu untuk melanjutkan.
"Iya loh. Lo perhatiin deh, dia itu dingin banget kalau sama orang lain. Tapi sama lo dia jadi beda. Kayak apa ya bilangnya? Kayak lengket aja gitu," jelas Merlin.
"Menurut gue juga dia aneh. Gue juga bingung kenapa dia gitu ke gue," ujar Viona sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Gadis kecil itu memandangi Allen yang sedang berdiri diam sambil menatap datar teman-temannya yang sedang berdiskusi.
Seolah menyadari tatapan Viona, Allen pun menoleh ke arah gadis cantik yang sedang tidak sadar kalau masih menatap cowok itu dengan intens.
Remaja tampan itu menyunggingkan senyum lembut ke arah Viona yang sedang menatapnya, hingga mata tajamnya melengkung menjadi bulan sabit.
Cahaya matahari pagi menyinari sosok tampan di tengah lapangan itu. Membuat mata coklatnya menjadi transparan dan senyuman lembut di wajah yang biasanya datar itu semakin mempesona.
Viona meletakkan telapak tangan mungilnya di tempat jantungnya berada. "Ini gue kenapa? Masa masih muda gue udah sakit jantung?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Viona (END)
Teen FictionBagaimana jadinya kehidupan Viona, seorang gadis kecil yang hanya hidup bersama sang mama tiba-tiba punya papa baru dan 3 abang tiri? akankah hidupnya lebih bahagia atau justru makin pelik? Dan bagaimana kehidupan gadis cantik itu ketika cinta datan...
