35. Abang Cerewet 😣

6.8K 438 21
                                        

"Adek?!"

Uhuk!

Uhuk!

Panggilan Rendi bagaikan guntur di siang bolong bagi Viona. Gadis kecil yang sedang lahap makan katsu itu refleks menelan makanannya bulat-bulat hingga membuatnya tersedak.

Viona terbatuk-batuk sambil menepuk-nepuk dadanya dengan wajah yang sudah memerah. Mata bulat hitamnya berkaca-kaca, siap menumpahkan air hujan.

Dari belakang Viona, bunyi langkah kaki cepat terdengar. Hingga kemudian sebuah telapak tangan besar dengan lembut menepuk punggung kecil gadis itu.

"Minum dek," perintah Rendi dengan suara rendah.

Setelah suara Rendi turun, sebuah tangan putih dan ramping muncul dari samping Viona sambil memegang segelas air.

Tanpa melihat siapa pemilik tangan itu, Viona segera mengambil air tersebut dan meminumnya untuk meredakan rasa tidak nyaman di tenggorokan dan dadanya.

Dengan tepukan Rendi di punggungnya dan segelas air, batuk Viona akhirnya mereda.

"Gimana dek? Udah enakan?" Tanya Rendi saat melihat Viona sudah tidak batuk-batuk.

Gadis kecil itu mengangguk dengan hidung mungil yang sesekali mengendus. Dua mata merahnya membuatnya terlihat seperti kelinci kecil yang telah dianiaya seekor serigala besar. Sangat lucu.

St..

Viona menoleh saat mendengar kekehan yang datang dari samping kanannya. Gadis kecil itu baru ingat kepada pemilik tangan cantik yang memberikan air untuknya tadi.

Mengikuti pandangannya dari bawah ke atas, Viona akhirnya melihat seorang laki-laki tampan yang usianya kira-kira sama dengan Rendi, sedang menutup mulutnya dengan tangannya yang putih dan ramping.

Viona mengangkat alisnya saat melihat pria asing yang sedang berusaha menahan tawa itu.

"Ini teman abang dek. Namanya bang Tomi," ujar Rendi yang sudah berdiri di samping Tomi.

Dampak visual dari dua pria tampan yang berdiri berdampingan membuat mata para kaum hawa yang dari tadi memperhatikan mereka menjerit kesenangan. Siapa yang tidak suka hiburan gratis setelah dari pagi menghadapi terjangan rumus-rumus sains.

"Tom, kenalin adek gue. Viona," ujar Rendi.

Pria itu dengan lembut mengusap rambut adik kecilnya.

Tomi tersenyum kepada Viona. Saat dia tersenyum, dua cekungan kecil muncul di pipi putihnya.

Viona juga tersenyum ke arah Tomi. Dia merasa teman abangnya ini sangat tampan, tidak kalah bila disandingkan dengan papa dan ketiga abangnya.

"Ren. Gue duduk sama yang lain aja ya. Abang pergi dulu ya Vi, bye!" Pamit Tomi sambil melambaikan tangannya ke arah Viona.

"Bye bang Tomi," sahut Viona yang juga balas melambai.

Setelah pamit kepada kedua bersaudara itu, Tomi pergi menghampiri teman-teman satu jurusannya yang duduk di meja lain.

Setelah temannya pergi, Rendi pun duduk di depan Viona. Pria tampan itu memandang adik kecilnya dengan tatapan datar.

Viona menundukkan kepalanya karena merasa bersalah. Di dalam hati, gadis itu bertanya-tanya apa yang akan dikatakan abangnya.

"Dek, kenapa ke sini sendiri?" Tanya Rendi datar.

"Adek pengen makan chicken katsu yang pernah abang bawa pulang," cicit Viona.

"Kenapa gak bilang abang? Kan bisa abang jemput," tanya Rendi lagi.

"Kemarin abang bilang kalau abang lagi sibuk, makanya adek gak mau ganggu abang," jawab Viona. Setengah benar dan setengahnya lagi salah.

Viona (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang