Hari pertama sampai di Amerika, Viona langsung dijemput oleh ambulance di bandara untuk dibawa menuju rumah sakit yang sudah ditunjuk oleh dokter dari rumah sakit sebelumnya.
Ketiga abang Viona secara khusus mengambil cuti untuk menemani viona selama 2 Minggu.
Gadis kecil itu terbaring lemah di atas brankar. Gadis cantik berwajah pucat itu memandang langit-langit ambulans dengan tatapan kosong. Saat ini, dia hanya ditemani oleh petugas medis, karena Viona menolak keluarganya untuk menemaninya di dalam perjalanan menuju rumah sakit.
"Sist, will I be okay?" Tanya Viona lembut saat merasa bagian bawah tubuhnya mulai berdenyut lagi.
Perawat yang menjaga Viona tersenyum lembut sambil menyesuaikan infus di punggung tangan Viona.
"Of course honey. You will be alright after the treatment."
Viona hanya mengangguk kosong tanpa menjawab ucapan perawat itu. Pikirannya mengembara memikirkan hal-hal yang dialaminya beberapa hari ini. Pelajaran yang didapatkannya dari kejadian ini sangat membekas di hatinya.
Mobil keluarga Hermawan mengikuti di belakang ambulance. Saat ambulance sampai di depan rumah sakit, mereka segera turun dan menemani brankar Viona yang sedang didorong oleh petugas medis.
Viona pertama sekali berganti menjadi baju pasien. Setelah itu, gadis kecil itu dibawa menuju ruang X ray. Tubuh kecilnya dibaringkan di atas meja khusus.
Adit, Selina, dan ketiga abang Viona memperhatikan dari luar jendela kaca saat gadis kecil kesayangan mereka dimasukkan sedikit demi sedikit ke dalam mesin X ray.
Tubuh kurusnya terlihat semakin menyedihkan saat dikenakan baju pasien yang lebar, membuat gadis kecil itu seperti tengah diselimuti selimut tipis.
Radit mencengkram tepi jendela kaca dengan erat saat melihat tubuh adik kecilnya sudah masuk sepenuhnya ke dalam mesin.
Selina bersandar di dada Adit yang bermata merah, berselimut rasa sakit yang mendalam atas ketidakberdayaannya untuk melindungi putri kesayangannya.
Rendi menatap mesin besar itu dengan penuh perhatian, karena takut melewatkan detil sekecil apapun dari adik kecilnya.
Rian menggigit bibir bawahnya erat-erat, tangan dan kakinya gemetar saat melihat cahaya dari mesin yang menyelimuti adiknya tidak kunjung padam.
Ketika semua orang sudah tidak sabar, mesin menakutkan yang menelan gadis mungil itu akhirnya selesai melakukan tugasnya. Viona pelan-pelan keluar dari mesin itu.
Setelah proses X ray selesai, dokter keluar terlebih dahulu menemui mereka.
"Hy. I would like to have a conversation with the parents about Viona's condition and the suggested treatment," ujar dokter tampan itu.
"We are her parents," ujar Adit. Pria itu kemudian memeluk istrinya dan mengikuti dokter menuju ruangan.
Setelah Adit dan Selina pergi, tinggallah ketiga abang Viona untuk mengurus hal-hal selanjutnya.
Ketiga pria tampan itu dengan setia menunggu Viona menyelesaikan prosedur selanjutnya.
15 menit kemudian, Viona dibawa keluar dari ruangan. Gadis cantik itu terbaring lemah di atas brankar.
"Abang~" panggil gadis itu lembut saat melihat ketiga abangnya. Mata sayunya melengkung menjadi bulan sabit, sangat cerah hingga ketiga pria itu tidak kuasa menahan air mata.
"Adek!" Panggil ketiga pria itu serempak.
Rendi berlari mendahului kedua abangnya menemui adik kecilnya yang baru saja dibawa keluar. Gadis kecil itu masih harus berbaring lantaran belum sanggup untuk duduk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Viona (END)
Teen FictionBagaimana jadinya kehidupan Viona, seorang gadis kecil yang hanya hidup bersama sang mama tiba-tiba punya papa baru dan 3 abang tiri? akankah hidupnya lebih bahagia atau justru makin pelik? Dan bagaimana kehidupan gadis cantik itu ketika cinta datan...
