(Author janji deh di bab ini gak ada part meweknya ✌️)
Di sebuah ruang tamu luas nan mewah, seorang gadis cantik yang memakai toga sedang fokus melihat layar komputernya. Layar datar itu dipenuhi dengan ratusan orang yang juga berpakaian sama sepertinya.
Senyuman manis terus menghiasi wajahnya yang telah didandani tipis oleh sang mama. Bibir merahnya terbuka dan tertutup ketika memberikan pidato kelulusan di depan 500 lulusan dari seluruh dunia.
Melihat penampilan menawannya saat ini, siapa sangka jika gadis cantik itu pernah terpuruk selama 4 tahun lamanya akibat kecelakaan yang menimpanya.
Prosesi terus berlanjut hingga yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba.
"Viona Zara Hermawan, Indonesia. Graduated with GPA 3.98..."
Panggilan pembawa acara membuat gadis itu tersenyum semakin lebar. Orangtua dan ketiga abang yang duduk di sampingnya juga tersenyum bahagia.
Hari ini Viona akhirnya lulus dari salah satu universitas terbuka terbaik di dunia. UT bernama Reich University ini adalah universitas kenamaan asal German yang dijuluki School for Angles. Hal ini dikarenakan ada 3 hal yang harus dipenuhi agar bisa masuk ke universitas ini, yaitu pengetahuan, karya, dan uang.
Mereka hanya menerima pelajar yang memenuhi tiga kriteria di atas. Namun, hal baiknya adalah mereka akan memanjakan pelajar mereka hingga ke tingkat dewa.
Mereka bebas memilih profesor dari negara mana saja, jadwal kuliah sesuka hati, bebas memilih classroom language yang mereka mau, hingga jumlah mata kuliah yang ingin diambil.
Fasilitas yang ditawarkan UT ini sangat sesuai untuk keadaan Viona saat itu. Setelah mengikuti homeschooling SMA hingga selesai dari tempat tidur, gadis itu kemudian melanjutkan untuk tes UT ini.
Gadis itu memilih jurusan management. Karena di keluarganya, prospek jurusan itu terbuka lebar untuknya. Dia bebas memilih ingin bekerja di perusahaan mana saja dan di posisi apa.
Bahkan, Radit pernah berkata, "Adek kerja di perusahaan abang aja, jadi CEO. Nanti abang jadi sekretaris adek. Adek mau apa tinggal nyuruh abang." Sebelum akhirnya dimarahi Adit yang tidak terima putranya itu melangkahinya.
Setelah acara wisuda usai, gadis cantik itu tidak sabar untuk melihat keluarganya.
Menghadapi wajah bahagia keluarganya, Viona tidak kuasa menahan diri untuk segera menghampiri mereka. Sebenarnya gadis itu ingin segera berlari, namun sayang keadaan tidak mengizinkan.
"Mama!" Panggil gadis kecil itu setelah berhasil bersarang di pelukan lembut mamanya.
Selina tersenyum lebar seraya membalas pelukan gadis kecil itu. Wanita itu tersenyum sambil mengelus punggung kecil putrinya.
"Selamat sayang. Adek hebat banget!" Puji Selina.
Viona mengangguk penuh semangat di pelukan mamanya, ikut merasa bangga pada dirinya sendiri.
Setelah memeluk Selina, Viona kemudian beralih memeluk Adit.
Adit memandangi putrinya dengan sayang. Rasa bangga membanjiri hatinya ketika membayangkan putri kecilnya telah berhasil melalui semua rintangan yang sempat menorehkan bekas di kehidupan sempurnanya.
Viona tersenyum manis ke arah papanya. Mata bulatnya melengkung menjadi bulan sabit. Wajah manisnya menjadi 1000 kali lipat lebih cantik. Ditambah dengan daging yang berhasil ditambahkan setelah rehabilitasi membuatnya memiliki jenis kelucuan yang tidak sesuai usianya.
Tubuh mungil gadis kecil itu menubruk pelukan murah hati pria itu. Meski bukan papa kandung, tapi bagi Viona Adit adalah langit yang menyelimuti tubuh kecilnya dan memberikannya kehidupan terbaik yang bisa dia bayangkan.
"Papa.." bisik gadis kecil itu di dada bidang Adit.
Adit juga tersenyum bahagia sambil mengeratkan pelukannya di tubuh kecil putrinya.
"Selamat ya sayang atas kelulusannya. Papa bangga banget sama adek," ucap Adit dengan suara lembut.
Viona tertawa bahagia sambil bermanja-manja di pelukan Adit seperti kucing kecil.
Adit juga memanjakan putrinya, tidak marah ketika gadis itu mengacak-acak kemejanya. Pria itu justru ikut tertawa sambil sesekali mengecup pelipis putrinya yang terlihat dari bawah topi.
Di saat papa dan putrinya sedang bermesraan, terdapat 3 pasang mata menatap yang mereka dengan cemburu.
"Udah dong dek. Lama amat! Ini abang belum lho~"
"E-euh dek. Abang udah nunggu lho ini~"
"Adek gitu ya? Mentang-mentang ada papa, abang-abangnya dianggurin~"
Adit mendengus ke arah ketiga suara sumbang di sana. Pria itu jadi memikirkan negara Afrika mana yang tepat untuk mengirim ketiga putranya yang selalu menganggu waktu hangat papa dan putri mereka.
Mendengar suara masam ketiga abangnya, Viona segera melepaskan pelukan hangat papanya.
"Hehehe adek ke abang dulu ya pa~" pinta gadis itu dengan suara imut.
Cup!
Adit mengecup pipi putih putrinya sebelum mengangguk dengan senyum lembut di wajahnya.
Setelah dari papa, Viona menghampiri ketiga abangnya satu persatu.
"Abang!" Serunya ke arah Radit.
Radit tertawa bahagia sambil membuka tangannya lebar-lebar untuk menyambut pelukan penuh kasih adik kesayangannya.
Viona juga tidak mengecewakan abang pertamanya. Gadis kecil dengan patuh menyandarkan pipinya di bahu lebar Radit. Menikmati pelukan hangat abang kesayangannya.
"Selamat ya dek! Abang bahagia banget hari ini. Adek abang hebat banget," puji Radit. Tangan besarnya tidak berhenti mengelus punggung kurus adik kecilnya.
Viona tersenyum bahagia. "Adek juga bangga sama diri sendiri bang," sombongnya. Hidung mungilnya terangkat tinggi hingga membuat Radit tidak kuasa menahan tawanya.
Setelah itu Viona beralih memeluk kedua abangnya yang lain. Mereka juga memelum gadis kecil itu dan mengungkapkan betapa bangganya mereka kepada gadis kecil itu.
Untuk merayakan hari bahagia ini, mereka sepakat untuk makan siang mewah di luar. Adit mengajak keluarganya ke restauran barat termewah di kota New York yang harga per hidangannya tidak kurang dari 150 $.
Sesampainya di sana, mereka berjalan dengan sangat pelan mengikuti pelayan menuju meja yang sudah mereka pesan. Sangat pelan hingga membuat pelayan yang membawa mereka sering menoleh ke belakang dengan heran. Namun, mereka tidak peduli dan diam-diam memperhatikan Viona karena khawatir gadis kecil itu merasa tidak nyaman.
Mereka di bawa ke sebuah ruangan khusus yang telah dipesan Adit.
"Selamat ya dek karena jadi lulusan terbaik," ujar Rian sambil mendentingkan gelas anggurnya dengan gelas berisi jus strawberry milik Viona.
Rian tidak melebih-lebihkan, Viona lebih baik dari mahasiswa manapun yang pernah dia ajar. Tidak hanya lulus dari universitas bergengsi, adiknya juga berhasil lulus dalam waktu 2 tahun. Dia sudah melihat sendiri perjuangan adiknya mengejar kuliah di sela-sela semua perawatan yang harus dia jalani. Adiknya sangat hebat. Wanita terbaik kedua setelah mamanya.
Setelah selesai makan malam, Adit dan keluarganya memutuskan untuk pulang dan melanjutkan perayaan kelulusan Viona dengan liburan ke Yunani besok.
Di saat mereka sedang melintasi area pintu keluar, seorang pria tampan berjas hitam berjalan masuk dari pintu lain yang hanya dibatasi kaca tipis dari mereka.
Viona memandangi pria itu dengan keraguan besar di mata bulatnya. Namun, hal yang mengejutkan adalah, pria tampan itu juga berhenti dan melihat ke arah Viona dengan emosi aneh di mata gelapnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Viona (END)
Novela JuvenilBagaimana jadinya kehidupan Viona, seorang gadis kecil yang hanya hidup bersama sang mama tiba-tiba punya papa baru dan 3 abang tiri? akankah hidupnya lebih bahagia atau justru makin pelik? Dan bagaimana kehidupan gadis cantik itu ketika cinta datan...
