Setelah keluar dari kamar rawat inap Viona, Adit berjalan menuju lift untuk menemui dokter Aman di lantai 5.
Tidak butuh waktu lama, lift segera tiba. Adit masuk ke dalam lift yang kebetulan sedang sepi itu.
Adit bersandar di dinding lift sambil menatap nomor lantai dengan pandangan kosong. Pikirannya berkelana mengingat kondisi putrinya yang masih belum jelas.
Adit menghela nafas berat. Pria itu memejamkan matanya sambil memijat pelipisnya yang berdenyut. Hari ini adalah hari terberat dalam 45 tahun hidupnya.
Ting!
Lift berhenti di lantai 5. Alif keluar dan menyusuri lorong menuju ruangan dokter Aman.
Sesampainya di depan ruangan, Adit mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk setelah mendapat izin dari dokter.
Adit menyapa dokter dan langsung masuk ke dalam ruangan untuk mengetahui kondisi Viona yang sebenarnya.
Dokter Aman tersenyum saat melihat pria berwajah datar itu. Melihat wajahnya yang seperti ini, orang-orang tidak akan tau betapa menyedihkannya pria ini ketika menangis di depan ruang operasi tadi.
"Mari duduk pak," ujar dokter sambil menyuruh Adit duduk di kursi di depannya.
Adit mengangguk dan duduk di kursi yang ditunjuk dokter. Siap mendengar penjelasan dokter mengenai kondisi putri kecilnya.
"Saya akan langsung ke intinya saja. Luka luar Viona telah berhasil kami obati saat operasi tadi, tapi sayangnya kami tidak dapat berbuat banyak mengenai luka dalam yang diderita putri bapak."
Adit mengangkat kepalanya karena kaget dengan ucapan dokter. Bibirnya menjadi kelu dan tangannya gemetar. Pikirannya kosong dan nafasnya menjadi berat.
Melihat keadaan Adit yang seperti ini, dokter Aman segera berusaha menenangkan pria itu.
"Begini pak. Posisi Viona jatuh saat kecelakaan terlalu memberatkan tubuh bagian bawahnya. Yang paling terkena dampaknya adalah bagian pinggul. Karena terbentur dengan aspal, pinggul Viona patah hingga menyebabkan melemahnya saraf sensorik di bagian bawah tubuh.
Dampak dari hal ini adalah Viona tidak bisa berjalan dan menjalani kehidupan normal seperti dulu," ujar dokter.
Adit merasa seluruh tubuhnya hancur berkeping-keping. Pria itu memejamkan matanya yang memanas. Adit berusaha menenangkan diri agar dapat memikirkan solusi yang tepat untuk masalah ini.
"Apa... Ini permanen dok?" Tanya Adit setelah dirinya sedikit lebih tenang.
"Kalau mau diobati di negara ini mungkin iya. Tapi kalau bapak bersedia, bapak dapat memindahkan Viona untuk menerima perawatan di Amerika. Karena di negara ini belum ada rumah sakit yang mempunyai alat yang sesuai untuk mengobati kasus putri bapak. Bapak pasti tahu karena bapak juga memiliki rumah sakit.
Namun, meskipun sudah diobati di Amerika Putri bapak masih tidak bisa beraktivitas seperti dulu. Viona tidak boleh terlalu lelah dan berlari setelah pulih. Juga, ada saat-saat tertentu di mana rasa sakitnya akan kembali sehingga Viona tidak dapat berjalan.
Meski begitu, saya kira hasil ini sudah sangat baik. Karena di sini bahkan kemungkinan untuk kembali berjalan adalah 0%," jelas dokter dengan serius.
Adit juga setuju dengan yang dikatakan dokter. Selain itu, pindah ke Amerika bukanlah hal yang sulit baginya. Asalkan Viona dapat sembuh, maka dia akan baik-baik saja dengan apapun.
"Baik dok. Saya sudah membuat keputusan. Tolong bantu transfer Viona ke rumah sakit Amerika," ucap Adit tegas.
"Baik. Saya akan infokan lebih lanjut mengenai jadwal kepindahan Viona," ujar dokter.
KAMU SEDANG MEMBACA
Viona (END)
Teen FictionBagaimana jadinya kehidupan Viona, seorang gadis kecil yang hanya hidup bersama sang mama tiba-tiba punya papa baru dan 3 abang tiri? akankah hidupnya lebih bahagia atau justru makin pelik? Dan bagaimana kehidupan gadis cantik itu ketika cinta datan...
