Setelah 7 bulan menjalin cinta, kini tiba waktunya untuk meresmikan hubungan sepasang kekasih yang saling mendamba tersebut.
Lagu pernikahan mengalun mengiringi setiap langkah pelan sang pengantin wanita. Gaun putihnya menyapu lantai, menutup kaki cantiknya. Sebuah buket bunga berwarna-warni dipeluk erat di pelukannya, menyembunyikan sedikit kegugupan yang dirasakan. Bahu polosnya bersinar di bawah lampu kristal gedung pernikahan megah tersebut. Senyum manis menghiasi wajah cantik yang sudah dipoles hingga membuatnya menjadi jelmaan bidadari. Tiara di sanggulnya menyilaukan mata sang pengantin pria yang berdiri dengan penuh ketidak sabaran untuk menyambut sang pengantin tercinta.
Adit yang sudah memakai tuxedo pengantin berwarna putih berusaha menahan dirinya agar tidak berlari ke arah Selina yang berjalan sangat pelan ke arahnya. Ingin rasanya pengantin pria yang memakai sarung tangan putih itu bergegas untuk menggendong pengantin dambaannya dan kemudian menyelesaikan prosesi pernikahan sesegera mungkin.
"Ma! Pa!" Di tengah kekhusyukan suasana pernikahan, sebuah suara lucu terdengar.
Viona menggerakkan tubuh gembulnya di pangkuan abang pertamanya. Gadis kecil yang memakai gaun putih dan rangkaian bunga warna-warni di kepalanya itu ingin bergegas menuju mama dan papa yang mengabaikannya di altar.
"Iya adek, sabar ya. Mama dan papa sebentar lagi selesai," ujar Radit sabar sambil menghaluskan rambut keriting sang adik yang berantakan akibat gerakannya.
Cup!
Rian mengecup pipi gembul sang adik. "Mama lagi sibuk, sebentar lagi bakalan selesai. Adek sama abang-abang dulu ya?" tambah Rian sambil tersenyum.
"Iya adek, bentar lagi kita bakalan tinggal serumah loh setelah ini selesai. Adek pasti udah gak sabar juga kan kaya abang?" Ujar Rendi yang duduk di sebelah kiri Radit dengan bersemangat.
Entah mengerti atau tidak, tapi setelah ditenangkan oleh para abang, Viona jadi berhenti bergerak dan terus mengamati altar bersama abang-abang dan tamu undangan.
Namun tanpa di sadari keempat bocah yang duduk satu meja itu, sebenarnya para tamu undangan sering melirik mereka secara sadar atau tidak sadar.
Ketiga bocah tampan itu memakai tuxedo putih yang merupakan versi mini dari sang papa, sedangkan gadis kecil yang duduk di pangkuan anak laki-laki paling besar terlihat sangat lucu dengan gaun putih tanpa lengan dan rangkaian bunga di rambut keritingnya.
Semua tamu undangan tentu saja tau siapa mereka. Ketiga laki-laki kecil itu adalah putra-putra Aditya Hermawan dari istri pertamanya, dan salah satu dari mereka akan mewarisi kerajaan bisnis Hermawan kelak. Sedangkan satu-satunya gadis kecil di sana adalah anak perempuan yang di bawa istri baru tuan Aditya.
Semua orang mengetahui tentang berita ini dan mereka berspekulasi kalau hubungan anak-anak Aditya dengan adik tirinya tidaklah baik. Namun, ternyata mereka salah. Melihat kedekatan anak-anak saat ini, apalagi saat ketiga anak laki-laki itu bergantian mencium pipi gembul gadis kecil itu, semua orang tau kalau gosip itu pasti salah.
Kembali ke pengantin. Selina akhirnya sudah berdiri di depan Adit. Senyum cantik menghiasi wajahnya. Mata bulat wanita itu berkaca-kaca saat berhadapan dengan wajah bahagia Adit. Momen ketika dia melihat senyum lebar di wajah dingin pria itu, saat itu juga dia tau bahwa pernikahannya kali ini akan baik-baik saja.
Setelah bertukar cincin, acara selanjutnya adalah berciuman. Adit berbalik sejenak untuk melihat anak-anaknya yang melihat dari bawah panggung. Pria tampan dengan rambut disugar ke belakang itu mengedipkan kedua matanya, yang artinya jelas yaitu menyuruh mereka tutup mata.
Ketiga bocah itu mengangguk patuh dan buru-buru menutup mata mereka. Radit juga menutup mata Viona yang tidak mengerti dengan tangan kecilnya.
Melihat anak-anak yang patuh, Aditpun mengangguk puas. Setelah itu dia kembali menghadap pengantin wanitanya yang terkekeh lucu karenanya. Adit tersenyum tidak berdaya dan perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri.
Cup!
Tepuk tangan menggema kala pasangan suami-isteri itu berciuman. Adit terus melumat bibir lembut itu hingga sebuah kepalan tangan kecil memukul dadanya, menyuruhnya berhenti. Aditpun mengentikan ciumannya di tengah sorak-sorai penonton yang menonton ciuman panas CEO perusahaan bernilai ratusan triliun tersebut.
Selina menunduk malu di pelukan Adit yang sudah resmi menjadi suaminya. Senyum bahagia di wajahnya tidak bisa disembunyikan. Rasanya sangat bahagia karena bisa memberikan keluarga lengkap untuk putrinya bersama pria yang mencintai mereka.
Setelah prosesi pernikahan selesai, Radit dan adik-adiknya diundang naik panggung untuk acara berfoto bersama.
Radit menggendong Viona sambil menuntun kedua adiknya naik.
"Ma!" Panggil Viona saat sudah berada di depan sang mama. Tangan mungilnya berusaha menggapai Selina.
Selina tersenyum lembut sambil mengambil alih Viona dari gendongan Radit. Selina tersenyum ke arah Radit dan adik-adiknya. Wanita itu kemudian mengulurkan tangannya dan mengelus rambut ketiga bocah itu secara bergantian. "Terimakasih ya abang-abang sudah menjaga adek," ucap Selina dengan suara lembut.
Rian tersenyum senang karena perhatian keibuan Selina yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. "Iya ma, adek anteng banget kok," ujar Rian yang berhasil membuat Selina dan Adit tertawa bahagia.
Selesai mengatur posisi yang tepat, mereka berenam pun mengambil foto pertama mereka di hari bahagia ini. Selina menggendong Viona di tengah, Adit berdiri disamping Selina dengan sebelah tangan memegang pinggang ramping istrinya, dan ketiga laki-laki kecil itu berdiri di depan mama dan papa mereka. Foto berkualitas tinggi pun berhasil diambil dengan model yang memiliki kecantikan dan ketampanan di atas rata-rata.
Selesai acara pernikahan yang berlangsung lancar hingga akhir acara, malam itu juga Selina dan Adit membawa keempat anak-anak mereka ikut mereka berbulan madu ke Swiss.
"Anak papa cantik banget," puji Adit yang terus mendusel-duselkan hidungnya di perut Viona yang diangkatnya tinggi-tinggi. Pria itu tidak bisa berhenti menciumi gadis kecil yang didandani sangat lucu oleh ibunya, mengabaikan tatapan kesal putra-putranya yang juga ingin bermain dengan adik mereka.
Viona yang "diterbangkan" oleh sang papa tidak berhenti tertawa. Bayi kecil berpakaian jumpsuit kelinci merah muda dengan kedua telinga panjang yang terus bergerak mengikuti gerakannya itu tertawa hingga kedua gigi putih depannya terlihat.
"Pa! Pa!" Seru gadis itu seakan menyuruh sang papa untuk mengangkatnya lebih tinggi.
"Iya sayang," jawab Adit sambil mengangkat tangannya lebih tinggi. Villa mewah di tengah gunung milik Adit itu terlihat ramai dengan oceh bayi dan suara protes para bocah laki-laki.
"Udah ah mas, adek udah harus tidur sekarang. Kalau mas ajak main terus nanti malam bisa ngompol dia," sela Selina yang datang bersama botol susu bayi di tangannya.
"Abang-abang juga minum susu gih, udah mama buantakan di dapur," lanjut Selina kepada putra-putranya.
"Siap mama," ujar ketiga anak kecil itu kompak dan berjalan ke dapur mengikuti instruksi Selina.
Dari momen Selina sampai di ruang keluarga, Adit tidak berhenti menatap Selina. Wanita itu terlihat sangat cantik dengan piama merahnya.
"Yang, hari ini adek tidur bareng abang-abangnya aja ya!"
[Finally anak-anaknya author ada yang nikah juga🤧]
KAMU SEDANG MEMBACA
Viona (END)
Novela JuvenilBagaimana jadinya kehidupan Viona, seorang gadis kecil yang hanya hidup bersama sang mama tiba-tiba punya papa baru dan 3 abang tiri? akankah hidupnya lebih bahagia atau justru makin pelik? Dan bagaimana kehidupan gadis cantik itu ketika cinta datan...
