36. Akibat Adek Gak Nurut 🪫

8.2K 537 42
                                        

Pagi hari, di depan gerbang megah Hermawan High School, berhenti sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam mengkilat.

Di dalam mobil, Adit dengan lembut mengusap kepala putri kecilnya. "Dek. Nanti jangan lari-lari ya, di dalam sekolah aja. Papa udah denger lho dari wali kelas adek kalau adek bolos kemarin. Papa gak bilang mama. Tapi lain kali gak boleh lagi ya?" Nasihat Adit sambil menatap putrinya dengan sayang.

Viona nyengir saat tau bahwa Adit telah mengetahui perihal dia bolos dari sekolah kemarin.

"Iya pa. Adek masuk ke sekolah dulu ya pa?" Sela Viona yang tidak ingin Adit kembali membahas masalah bolosnya  kemarin.

"Iya. Nih jajan kamu," ujar Adit sambil menyerahkan 5 uang kertas berwarna merah.

"Thank you pa. Adek masuk dulu. Bye papa!" Pamit Viona sebelum membuka pintu mobil. Gadis kecil itu juga melambaikan tangan mungilnya ke arah Adit.

"Bye adek!" Sahut Adit sambil balas melambaikan tangan.

Pria itu tersenyum lembut saat melihat putrinya yang selalu bertingkah imut itu. Adit bahkan merasa lucu ketika membayangkan gadis kecilnya berusaha bolos sekolah hanya karena ingin makan chicken katsu.

Selina be like: Imut dari mana?! Bandel itu namanya!

Setelah Viona keluar dari mobil, Adit pun melajukan mobilnya menuju perusahaan.

Setelah Adit pergi, Viona berjalan bersama kerumunan siswa menuju gedung kelasnya.

"Pagi kak Vio," sapa Allen yang telah berhasil menyusul Viona.

"Eh. Pagi Allen," jawab Viona lembut. Gadis itu berjalan bersama Allen menyusuri jalan setapak menuju kelas.

"Kelas kamu di gedung sebelah lho," tunjuk Viona ke gedung di seberang gedung kelas 2.

"He he he. Sebenarnya aku mau kasih ini ke kakak," kata Allen sambil menundukkan kepalanya seraya menyerahkan sebuah kantong berlogo toko sandwich terkenal kepada Viona.

"Buat kakak?" Tanya Viona heran, namun jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat dari biasanya.

"Iya kak. Ini enak lho kak," tambah Allen saat khawatir Viona akan menolak sandwich pemberiannya.

Viona tersenyum saat melihat kegugupan Allen. "Iya kakak terima. Makasih ya," ucap Viona dengan senyum lembut terukir di bibirnya. Gadis itu kemudian mengambil paper bag berwarna hijau itu dari tangan Allen.

Allen tersenyum cerah saat melihat Viona menerima pemberiannya. Senyumannya begitu lebar hingga membuat kedua gigi depannya terlihat.

Melihat tingkah lucu Allen, Viona pun ikut tertawa.

Keduanya saling bertatapan dengan binar bahagia di mata masing-masing. Namun, setelah sejenak bertemu pandang dengan Allen, Viona segera memalingkan wajahnya.

"Kakak duluan ya Len. Bye," pamit Viona yang langsung pergi, meninggalkan Allen yang hanya bisa melambaikan tangannya ke arah punggung kecil Viona yang semakin menjauh.

Remaja itu tersenyum tidak berdaya sebelum pergi ke arah gedung tempat kelasnya berada.

Setelah pelajaran pertama selesai, kelas Viona menunggu lama namun guru pelajaran kedua tidak juga masuk.

"Ini gurunya masuk gak sih?" Keluh siswi yang duduk di belakang Viona.

"Gak tau. Kok lama banget ya? Ngantuk nih gue," sahut siswi yang lain.

Viona juga merasa bosan. Pelajaran selanjutnya adalah olahraga, sehingga banyak siswa yang menantinya. Termasuk Viona, yang ingin melepas penat setelah 2 jam bergelut dengan Kimia.

Saat mereka sedang menerka-nerka keberadaan guru olahraga, Faiz masuk dari luar.

"Tolong perhatian semua. Tadi gue dikasih tau sama pak kepsek kalau pak Bram sedang berhalangan hadir. Kita disuruh belajar mandiri sampai jam istirahat. Pak kepsek cuma minta kita buat jangan berisik," ujar Faiz dari podium.

Mendengar kabar kalau mereka mendapat jamkos, sebagian siswa langsung mengeluarkan alat permainan, sementara yang lain segera merebahkan kepala mereka di atas meja untuk tidur.

Viona sedang tidak ingin bermain ataupun tidur, lebih lagi belajar. Gadis cantik dengan rambut panjang digerai itu tiba-tiba ingin minum teh susu boba yang dijual di depan sekolah.

Viona menimbang kemungkinan keluar dari sekolah, tapi gadis kecil itu langsung menggelengkan kepalanya karena mereka tidak diizinkan keluar dari sekolah saat jam pelajaran masih berlangsung.

Terlebih lagi tadi Adit sudah mewanti-wanti kalau dia tidak boleh nakal lagi.

Ha!

Gadis itu merebahkan kepalanya di atas meja, merenungkan nasibnya yang sungguh tidak beruntung hari ini.

Viona kemudian memalingkan wajahnya ke arah pintu kelas. Ingin rasanya gadis itu keluar dan membeli minuman yang diinginkannya.

Gadis kecil itu memasukkan kepalanya ke dalam lengkungan lengannya. Mencoba menghilangkan hasrat untuk minum teh susu.

Tapi belum sampai 2 menit, Viona tiba-tiba bangkit dari kursinya. Gadis itu sudah bertekad kalau dia harus berhasil minum boba sekarang.

"Faiz.." panggil Viona pada Faiz yang sedang mengerjakan makalah olimpiade matematika.

Remaja tampan itu mengangkat kepalanya dan menatap teman sedari TK nya itu.

"Gue izin ke toilet ya," bohong Viona. Gadis kecil itu sebenarnya sudah berencana untuk minum boba langsung di tokonya.

"Ehm."

Setelah mendapatkan izin dari Faiz, Viona bagai ayam kecil yang baru dibebaskan dari kandang.

Gadis cantik itu dengan semangat membara berjalan menuju gerbang. Sampai di belakang pohon ketapang yang besar dan rimbun, Viona menyembunyikan tubuh kecilnya, ingin mengintai pos satpam di samping gerbang.

Sepertinya keberuntungan sedang berpihak kepada Viona, satu-satunya pos satpam di sekolah itu sedang kosong. Entah kemana satpam yang seharusnya berjaga.

"Yes!" Pekik Viona dalam hati.

Viona kemudian langsung berlari melewati pos satpam, sebelum akhirnya berhasil keluar dari gerbang sekolah.

Gadis kecil itu tersenyum lebar dengan kemenangannya. Setelah itu, Viona berjalan lebih jauh ke depan hingga sampai di pinggir jalan raya yang memisahkan dirinya dan toko minuman.

Viona menoleh ke kiri dan ke kanan untuk memastikan jalanan kosong sebelum menyebrang ke toko boba yang terletak tepat di seberang jalan.

Saat sudah yakin jalanan sepi, Viona pun langsung menyeberang.

Namun naas, saat Viona sudah setengah jalan, sebuah truk yang melaju dengan kecepatan tinggi tiba-tiba muncul dari tikungan di ujung jalan.

Sopir truk yang kaget saat melihat seorang siswi yang sedang menyeberang jalan juga segera membunyikan klakson dan menekan rem. Tapi kecepatan truk yang terlalu cepat membuat semua usahanya sia-sia.

Viona yang sudah setengah jalan juga dikejutkan oleh bunyi klakson truk yang datang tiba-tiba. Sebelum gadis itu sempat beraksi, tubuh kecilnya sudah dihantam oleh sebuah kekuatan besar hingga membuatnya terpental 1 meter jauhnya.

Hal terakhir yang diingat Viona adalah rasa sakit yang menerjang seluruh bagian tubuhnya dan perasaan lengket dari cairan gelap yang mengalir menutupi pandangannya. Bau amis darah menjadi aroma terakhir yang diciumnya sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.









Viona (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang