Biasanya ketika kabar kehamilan seorang istri terdengar, suami akan bahagia. Memeluk istrinya penuh sayang dan rasa syukur. Namun rumah tangga Binar dan Nata tampaknya agak lain, karena setelah Binar tahu dirinya hamil, yang di dapat Nata malah ...
...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sudah dua hari aku tidak nafsu makan.
Bayangkan saja aku udah makan dengan nikmat, eh makanannya malah tidak betah di dalam perut dan memilih langsung keluar lagi dengan jalan muntah. Sia-sia.
Hari ini aku optimis, mencoba lagi untuk makan. Aku lapar, anaknya Mas Nata di dalam sana pasti juga lapar. Ora peduli sih, hanya ... sedikit kasihan.
Logika:Sama saja kan?
Aku:Diam aku bilang!
Mengabaikan ke-soktahuan logika, aku melarikan pandangan pada sepiring nasi dan tempe orak-arik beserta naget yang terhidang di depanku. Siapa yang masak? Ya akulah! Tidak ada pekerja rumah tangga di sini.
Aku mengunyah sambil menatap Mas Nata yang sedang duduk di hadapanku. Bulu mata lentiknya bergerak-gerak lembut fokus melihat ponsel. Mas Nata duduk di meja makan, tapi tidak makan.
Jadi, apa fungsi Mas Nata di sini sebenarnya?
Ini siang. Panas. Melihat wajah lempeng Mas Nata adalah perpaduan yang makin membuatku panas. Biasanya siang-siang begini Mas Nata masih kerja, tapi hari ini entah dengan alasan apa dia tidak berangkat kerja.
Cih, begini nih kalau dari embrio sudah menyebalkan. Disuruh stay di rumah, malah pergi kerja. Disuruh kerja, malah stay di rumah. Fix, Mas Nata pasti S2 memancing emosi. Gendeng!
Mas Nata sepertinya punya insting kalau aku sedang menggosipinya dalam hati. Terbukti dengan dia yang berhenti memainkan ponsel, meletakkan ponselnya di atas meja lalu duduk bersedekap.
"Mama mau dateng," katanya.
Biar aku jelaskan sedikit. Mama dan Papa berarti orang tua Mas Nata, Ibu dan Ayah berarti orang tuaku. Memang begitu panggilan kami.
"Hm, kapan?" Aku menyendok satu suapan lagi ke mulut.
"Udah di jalan."
Makananku langsung saja tersangkut di tenggorokan, reaksinya aku terbatuk-batuk sampai mukaku merah.
Mas Nata menyodorkan minum dengan wajah santai. Terkesan terlalu tenang untuk ukuran suami yang melihat istrinya tersedak. Walau aku mati tersedak, sepertinya Mas Nata hanya akan bilang, "Innailaihi wa innailaihi rojiiun" lalu mengurus pemakamanku. Begitu saja, tanpa haru-biru yang berlebihan.
Aku minum banyak-banyak. Menetralkan tersedakku. Ada dua, tersedak makanan dan juga tersedak kenyataan.
Tapi ogah aku diinjak-injak begini. Kalau bisa marah kenapa harus sabar?!
Aku menggebrak meja makan, hingga piring di atasnya sedikit bergetar. "Kenapa Mas baru bilang sekaranggg!"
Mas Nata mengibaskan tangan santai. "Lupa."
"MAS--"
Ting!
Mas Nata menoleh ke arah pintu, "Itu Mama."
Hidungku kembang-kempis. "Mas, itu namanya bukan udah di jalan, tapi udah di depan pintu!"
Dan aku belum mempersiapkan mental dan fisik menghadapi mertuaku.
Mas Natakampret!
___<(•_•)>___
Err ... sebenarnya mertuaku baik kok. Terlalu baik malah.
Lupakan tentang mempersiapkan mental dan fisik yang aku bilang tadi, akunya saja yang terlalu lebay.
Mama setiap kali bertamu ke rumah selalu membawakanku dan Mas Nata makanan atau kalau tidak sempat berkunjung, Mama biasanya menelponku, menanyakan kabar. Seperhatian itu. Bersyukur banget dapat mertua seperti ini. Bukan mertua di sinetron Indosiar. Hanya saja anaknya yang mirip-mirip suami Indosiar.
"Kamu udah makan sayang?" Mama Fera menata makanan yang dibawanya ke atas meja.
Aku menggeleng, walau sebenarnya pas Mama datang aku sedang makan. Mbok yo ... ngeliat makanan yang Mama bawa buanyak banget, aku jadi tidak tega. Mana makanannya ...
Gulai, rendang, opor, sate dengan bumbu kacang ...
Semua makanan yang aku sukai. Tapi dikondisiku sekarang ... melihatnya saja sudah membuatku pening, apalagi begitu kusendok hendak memakannya aku sukses termual-mual.
Mama menatapku penuh tanya. Aku tidak cukup kuat menahannya, tanpa menjawab pertanyaannya langsung berlalu ke toilet dapur, memuntahkan semua yang tersisa dalam perutku.
Mas Nata dan Mama menyusulku.
"Binar, kenapa?" tanya Mama sambil membantu memijit-mijit tengkukku. "Makanan Mama enggak enak ya?"
Aku menggeleng, tersenyum lemah. Rasanya tidak punya energi untuk berbicara.
Tapi reaksi itu malah membuat Mama makin khawatir, heboh menyuruh Mas Nata membawaku ke rumah sakit.
Mas Nata menengahi. "Binar enggak apa-apa, Ma. Cuma hamil."
Aku menatap Mas Nata, melotot. Mas Nata hanya mengangkat bahu santai.
Enteng sekali dia bilang cuma sedang aku yang mengalaminya tersiksa terjungkal-jungkal. Sekali kampret tetaplah kampret. Itulah Mas Nata.
"Oh ... hamil." Mama tampaknya belum sadar betul.
Sedetik ...
Dua detik ...
Tiga detik ...
Mama secepat kilat menoleh sampai aku takut lehernya patah. "HAH ... APA?! HAMIL?!"
Alamak!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jangan lupa vote dan komen jika menurutmu cerita ini seru. Jangan lupa follow Instagram nona_gerimis jika ingin mendapatkan spall-spill dari cerita ini.