Biasanya ketika kabar kehamilan seorang istri terdengar, suami akan bahagia. Memeluk istrinya penuh sayang dan rasa syukur. Namun rumah tangga Binar dan Nata tampaknya agak lain, karena setelah Binar tahu dirinya hamil, yang di dapat Nata malah ...
...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kalau kalian berpikir menikah itu enak, tidak perlu stres kerja lagi, tidak perlu galau mikirin jodohmu sudah sampai mana ya, kok tidak datang-datang? Dan kamu berpikir, dengan menikah hidupmu akan menjadi ATM--Aman-tenang-menyenangkan.
Kalian sungguh salah besar!
Menikah itu bisa jadi penambah masalah, lebih-lebih kalau dapat suami modelan Mas Nata. Hilihhh esmosi jiwa!
Pagi-pagi aku wajib bangun buatin sarapan buat Mas Nata. Nasi goreng. Makanan simpel dan penyelamat kami para manusia-manusia mager. Mas Nata mah tidak pilih-pilih, dia makan apa aja. Tetapi aku belum puas dengan itu.
Aku menatap Mas Nata yang sudah selesai dengan sarapannya. "Mas ada yang kelupaan?"
Mas Nata malah memeriksa saku celananya, menggeleng. "Enggak."
Aku memejamkan mata. Ishbukan itu yang aku maksud.
Tapi Mas Nata tampaknya tidak peduli, dia malah langsung berangkat kerja. Sisa aku di sini yang membersihkan bekas makannya sambil bermonolog sendiri.
"Makasih ya sayang, makanannya enak banget." Monolog pertama.
"Makasih ya udah bela-belain bangun pagi buat bikinin aku sarapan." Monolog kedua.
Apa bilang gitu aja sesusah itu?! Dasar suami durhaka! Lama-lama aku kutuk Mas Nata jadi nasi goreng!
Orangnya sudah pergi, jejaknya masih ada. Orangnya suka bikin emosi, jejaknya pun sama. Tahu apa? Kekacauan. Aku menatap bekas gelas kopi yang tercetak di atas meja. Hasil karya Mas Nata karena malas pakai piring pengalas. Padahal mulutku ada kali sampai berbusa menyuruhnya kalau minum kopi tuh pakain piring pengalas agar tidak kotor, Mas Nata cuma jawab 'iya' ujung-ujungnya tetap melakukan apa yang ingin dia lakukan.
Lama menatapnya aku memilih membersihkannya. Mencucinya bersama piring-piring kotor.
Keluar dapur aku ganti tugas dengan menyapu lantai dan sekaligus mengepelnya. Naik ke atas, ke kamarku dan Mas Nata aku di hadapkan dengan baju-baju Mas Nata yang menggantung di belakang pintu, sebagiannya disangkutin di bahu sofa dan sebagiannya lagi tercecer di dekat keranjang cucian.
Alamak puyeng!
Kenapa laki-laki suka sekali begini? Baju kalau sudah dipakai itu disimpan di keranjang cucian. Kotor. Perlu dicuci. Kenapa pakai digantung-gantung lagi? Siapa juga yang mau liat baju kotor sampai dipajang-pajang? Dan siapa juga yang sudi cium-cium aroma kecut keringat yang nempel di sana?