Biasanya ketika kabar kehamilan seorang istri terdengar, suami akan bahagia. Memeluk istrinya penuh sayang dan rasa syukur. Namun rumah tangga Binar dan Nata tampaknya agak lain, karena setelah Binar tahu dirinya hamil, yang di dapat Nata malah ...
...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aku putuskan untuk memberi Mas Nata kesempatan kedua.
Dengan catatan, boleh tidak memaafkannya, boleh masih marah, asal jangan tolak kehadirannya dan juga usahanya. Oke, diterima.
Ngomong-ngomong membuktikan apa yang Mas Nata maksud? Menjelaskan bagaimana yang Mas Nata maksud?
Saat dia bilang ingin membuktikan, aku sebenarnya tidak terlalu mengerti. Baru setelah dia berkata, "Kamu boleh nanya semua hal yang buat kamu bingung selama ini.", aku baru mengerti arah pembicaraannya.
Apa kalian pikir setelah itu, aku ujuk-ujuk langsung memberondonginya dengan pertanyaan? Oh tentu tidak. Gengsi dong! Lagian kalau dia benar-benar pengen jelasin, pengen membuktikan diri, ya langsung jelasin ajalah. Tidak perlu segala aku yang harus nanya. Kan situ yang butuh.
Tapi Mas Nata tetaplah Mas Nata. Pasti dia tidak sadar akan kesalahannya.
Pagi itu, aku menghela napas untuk dua alasan. Yang pertama karena harus mengonsumsi vitamin prenatal yang diresepkan oleh dokter. Sesungguhnya aku dan obat adalah musuh bebuyutan. Mana dikonsumsinya 3 kali sehari lagi. Kampret! Alasan kedua aku menghela napas adalah karena capek melihat Mas Nata yang sedari tadi seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak ada satu pun suara yang keluar dari mulutnya.
Aku menatapnya datar dengan bibir terangkat ke atas.
"Binar, kamu enggak ada yang mau ditanyain?" Suara pertama yang keluar dari mulut Mas Nata pagi itu.
Aku bersandar nyaman di kepala ranjang rumah sakit sambil menonton TV. Nah loh udah santai banget tidak tuh? Seperti bukan orang sakit. Sebenarnya memang sudah tidak apa-apa sih, hanya saja masih perlu dirawat karena kepalaku masih sering berdenyut-denyut sedikit. Dikiitt banget. Kata dokternya aku masih pucat, lesu dan lemas.
"Aku sama Kirana dulu emang pernah pacaran pas jaman kuliah, lima tahun dan akhirnya aku berencana ajak dia nikah. Dia terima dan kelihatan mau sama aku juga waktu itu, tapi ternyata ... pas acara pernikahan, dia kabur dan tinggalin pesan kalau dia cinta sama aku, tapi untuk melangkah ke jenjang pernikahan dia belum siap. Kirana masih ingin bebas, masih ingin melanjutkan mimpi-mimpinya." Mas Nata tersenyum tipis. "Padahal aku enggak pernah bilang kalau nanti udah nikah, dia enggak boleh bebas, enggak boleh lanjutin mimpinya dan harus jadi ibu rumah tangga."
Pikiranku terbagi antara tontonan di depanku dan perkataan Mas Nata. Bagus kalau dia ada inisiatif menjelaskan, mbok yo ... harus banget gitu hal pertama yang dia jelaskan adalah tentang kisah cintanya bersama Kirana? Maksudnya apa sih? Mau pamer?
Aku mengibaskan tangan di depannya. "Mas, udah deh, aku enggak mau---"
"Tapi aku bersyukur." Mas Nata memotong ucapanku, menatapku lembut dan dengan senyum di wajahnya. "Aku bersyukur enggak sampai nikah sama Kirana, karena yang ditakdirkan untuk aku adalah kamu. Kalau aku terus sama Kirana, aku enggak akan pernah jalanin kehidupan pernikahan sama kamu dan aku enggak mau itu terjadi ...."