Biasanya ketika kabar kehamilan seorang istri terdengar, suami akan bahagia. Memeluk istrinya penuh sayang dan rasa syukur. Namun rumah tangga Binar dan Nata tampaknya agak lain, karena setelah Binar tahu dirinya hamil, yang di dapat Nata malah ...
...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Setelah pertengkaran malam itu, paginya, aku ke rumah Ibuku, membawa tas berukuran sedang yang kuisi beberapa baju dan skincare. Bajuku ada di sini, tapi aku rasa sudah tidak muat karena perut dan berat badanku yang bertambah ukurannya.
Ibu dan Ayah yang melihatku datang sambil membawa tas, kaget dan keheranan. Untungnya aku punya alasan.
"Acara nikahan Kak Friska sebentar lagi, jadi aku mau nginep di sini. Aku udah minta izin, udah di izinin sama Mas Nata."
Bohong.
Tapi tidak sepenuhnya bohong juga sih.
Malam pertengkaran kami kemarin, aku masih menginap di rumah itu, tidur di kamar tamu. Saat pagi tiba, barulah aku bangun, membuatkan Mas Nata sarapan, lalu menuliskan stickynotes untuknya.
Aku ke rumah Ibu. Jangan nyusulin, kasih aku waktu.
Binar.
Ya sebenarnya kepedean sekali aku menulis begitu, padahal Mas Nata belum tentu peduli kalau aku pergi atau tidak.
Oke, kembali ke awal.
Aku tidak bohong kalau aku sudah izin, tapi masalah diizinkan atau tidaknya, aku tidak tahu, karena sewaktu aku mengendap-endap mengambil bajuku di kamar subuh tadi, Mas Nata masih tertidur.
Mbok yo, aku tidak perlu izinnya. Kali ini kelakuannya sudah tidak bisa aku maafkan. Aku rasanya sudah terlalu muak dengan sikapnya.
Tidak apa-apa kan, kalau aku sakit hati karena Mas Nata?
Di tempat kaburku ini, selain bengong, aku punya beberapa kegiatan lain.
1. Merecoki Ibu dan Ayah.
Malam saat waktunya tidur, aku mengetuk pintu kamar kedua orang tuaku itu, menyelonong masuk, lalu mengambil tempat di tengah-tengah.
"Ngapain sih, Binar? Sempit nih Ibu gara-gara kamu. Kembali ke kamar sana," protes Ibu sambil menampar bokongku.
Aku cemberut, menyamping ke arah Ayahku, memeluknya erat. Ayah hanya tertawa, lalu balas memelukku, menepuk-nepuk punggungku seperti saat aku kecil.
Aku tidak menyuarakannya. Hanya semakin mengeratkan pelukanku.
"Kamu selalu nyariin Ayahmu aja, selalu kangen sama Ayahmu aja, enggak pernah sama Ibu, padahal Ibu juga orang tua kamu!" Dari belakang suara sendu bercampur omelan Ibu terdengar.