Biasanya ketika kabar kehamilan seorang istri terdengar, suami akan bahagia. Memeluk istrinya penuh sayang dan rasa syukur. Namun rumah tangga Binar dan Nata tampaknya agak lain, karena setelah Binar tahu dirinya hamil, yang di dapat Nata malah ...
...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ada satu perkataan Mas Nata yang aku sukai setelah Kirana pulang dari rumah kami.
Yaitu ....
"Jangan terlalu mikirin Kirana dan kelakuan enggak baiknya ke kamu ya? Jangan biarin dia menuhin ruang dalam pikiran kamu. Dia enggak pantes dapat tempat sebesar itu di hidup kamu. Yang boleh menuhin ruang itu cuma kebahagiaan dan orang-orang yang kamu sayangi. Orang-orang yang enggak baik, jangan ikut disimpan. Biarin mereka berlalu kayak angin lewat. Hidup kamu terlalu berharga untuk mikirin dia. Oke?"
Aku menjawab Mas Nata dengan anggukan dan pelukan.
Aku dapat pelajaran baru. Kalau orang jahat, jangan dibiarin masuk ke ruang dalam pikiran. Mereka tidak pantas.
Kepergian Kirana dari rumah kami beberapa hari lalu sama dengan berakhirnya urusan kami dengannya.
Setelah dibuat pusing oleh kegilaannya Kirana, akhirnya ada acara yang bisa membuatku rileks.
Acara apa? Acara 7 bulanan kehamilanku.
Kehamilanku berusia 7 bulan, artinya akan diadakan acara 7 bulanan. Kalau mau mengikuti upacara menurut adat jawa, ada beberapa tahapan acara. Di antaranya, sungkeman, siraman, pecah telur, memutus janur, brojolan, pecah kelapa, ganti busana, jualan cendol atau dawet dan makan rujak.
Namun, aku memilih yang simpel aja. Cukup potong tumpeng, doa bersama, membaca Al-Qur'an dan menyantuni anak yatim.
Yang kuundang pun cuma keluarga, teman dekat dan tetangga-tetangga dekat.
Maunya sih ngundang Jungkook juga, tapi dia datang tidak ya?
Untungnya orang tua kami tidak termasuk tipe orang tua yang menjunjung tinggi adat istiadat. Kalau iya, mereka pasti tidak akan setuju dan bakalan bilang, "Acara 7 bulanan harus dilakukan secara bertahap seperti biasanya, pamali kalau enggak, nanti anakmu kenapa-kenapa loh".
Pasti aku akan protes dan terjadilah cekcok yang tidak berkesudahan sampai nanti ujung-ujungnya tidak jadi melakukan acara ini.
Tamu selanjutnya yang datang ke rumah selain keluargaku adalah Bu Hesti, Bu Mia, Mbak Aira dan ada satu orang lagi yang kehadirannya janggal sekali di pagi-pagi begini. Orang itu adalah Aires.
Bu Hesti dan Bu Mia jelas langsung ke dapur membantu Mama, Ibu, Mbak Ratih dan Kak Friska yang sibuk memasak di sana. Mbak Aira dan aku tiap ada acara tugasnya selalu menghias tumpeng. Di acaraku sendiri pun, itulah yang kami lakukan.
Nah, si Aires ini mau ngapain? Mau ikut masak atau hias tumpeng? Dua-duanya terdengar tidak masuk akal untuk ia lakukan. Mending cuci piring aja enggak sih?
Jadilah Aires kerjaannya cuma duduk di antara aku dan Mbak Aira, kakaknya. Bengong sambil memperhatikan dengan saksama hiasan tumpeng yang kami buat.
"Mbak, aku baru tau loh, ternyata Aires ini adek kamu. Aku tau dia emang punya kakak, tapi dari dulu aku enggak pernah lihat. Pertama kali aku tau kalau kamu kakaknya, waktu dia jagain Zaki karena kamu keluar kota sama suamimu. Aku jadi mikir, mungkin Aires ini anak pungut, jadi enggak kamu akui sebagai adek," kataku.