Epilog

54.6K 2.6K 247
                                        

"Mama cuma minta kamu ketemu dia, terus kenalan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Mama cuma minta kamu ketemu dia, terus kenalan. Kalau setelah itu, kamu tetap enggak mau, ya udah, batal perjodohannya. Mama enggak maksa."

Begitu kata Mama.

Aku hanya perlu bertemu, berkenalan, lalu menolak perjodohan itu.

Aku dan perempuan itu sudah membuat janji temu di kafe Morning. Kafe yang sering Mama dan Papa kunjungi saat sekolah dulu. Kafe-nya masih sama walau sudah puluhan tahun.

Beberapa menit menunggu, tiba-tiba ada bocah perempuan yang menghampiri mejaku. Bocah itu mengenakan dress pink, bandol pink, anting pink, kalung pink, gelang pink dan sepatu kets pink.

Mataku penuh ke-pink-pinkan melihatnya.

"Kemeja biru tua, muka datar dan duduk sendiri. Kamu Arkanata Chandra anaknya Mama Fera? tanya bocah itu.

Aku mengernyit. Dari mana dia tahu namaku? Dari mana dia tahu nama Mama? Dan ... kenapa dia memanggil Mamaku dengan sebuatan Mama Fera?

Di tengah pertanyaan itu, aku tersadar sesuatu.

Dia ... yang tadinya aku kira bocah adalah anak teman Mama yang akan dikenalkan denganku.

Umurnya sudah 25 tahun, tapi wajah dan penampilannya seperti bocah kelas 6 SD.

"Diam berarti iya." Perempuan itu langsung duduk di hadapanku, lalu mengambil buku menu. Tidak ada canggung-canggungnya sama sekali.

"Udah pesen?" tanyanya.

Aku menggeleng.

"Ya udah, pesen yuk. Laper. Kalau laper, aku suka marah-marah." Tanpa menunggu anggukanku selesai, dia telah memanggil waiters untuk memesan. Menanyakan pula pesananku dengan santai.

Perempuan ini seperti tidak punya beban ....

Setelah pramusaji pergi, perempuan itu mengulurkan tangannya. "Nama aku Binar. Binar Mentari. Bisa dipanggil Binar, Bi atau Nar."

Perempuan itu-maksudnya, Binar-tersenyum. Senyumnya cerah seperti namanya.

Aku menerima uluran tangannya, berjabat tangan singkat tanpa menyebutkan namaku karena dia sudah tahu.

Masih dengan senyum, Binar menunjuk dirinya dan aku bergantian. "Kita dijodohin, ya?" Lalu menyengir. "Aku mau kok. Kamu ganteng."

Dia benar-benar seperti bocah. Gampang menerima sesuatu dan melihat seseorang hanya dari rupanya.

Aku agak shock setelah beberapa menit duduk bersamanya dengan segala tingkah uniknya.

Di pertemuan ini, kami hanya berkenalan, makan, lalu pulang. Aku menawarkan untuk mengantarnya dan lagi-lagi dia seperti bocah yang 'iya-iya' saja.

Selama perjalanan, Binar menatap ke luar. Saat kami melewati beberapa penjual kaki lima, ia mengalihkan tatapannya kepadaku. "Boleh singgah di situ enggak? Aku mau makan sate."

Mau makan sate setelah menghabiskan dua piring steak di kafe?

"Dilihat dari ekspresi kamu, kamu lagi gosipin aku, ya? Gosipin gini, 'Udah makan dua piring steak, pengen makan sate lagi.' Iyalah, enggak kenyang kalau belum makan nasi."

Dia menebaknya dengan sangat benar ....

"Boleh, ya?" Matanya berbinar-binar.

Aku mendapati diriku luluh akan tatapannya. Aku menghentikan mobilku di pinggir jalan, bahkan ikut masuk ke warung tenda bersamanya.

Tidak seperti di kafe, ia makan dengan anggun. Sedangkan di warung sate ini, Binar makan dengan lahap. Tidak peduli dengan image-nya di hadapanku.

"Oh iya, kamu mau kenal aku enggak?" tanyanya dengan bibir belepotan bumbu kacang.

"Udah tadi."

"Bedaaa. Tadi cuma nama, sekarang lebih ke kesukaan dan kebiasaanku."

Aku berdehem. "Terserah."

Binar tersenyum, lalu mulai menjelaskan tentang dirinya. "Aku suka jajan, aku suka shopping barang-barang lucu, aku suka tidur dan aku suka jalan-jalan sama teman-temanku. Sekarang tambah satu. Aku suka kamu."

Aku melongo di tempat. Bagaimana bisa ada perempuan sejujur ini? Jujur memang sesuatu yang baik, tapi terlalu jujur juga berbahaya bagi orang lain. Dapat menyebabkan serangan jantung.

Binar menjentikkan jarinya di depan wajahku. Aku yang sedari tadi melamun kini menoleh ke arahnya. "Dari tadi kamu diem mulu. Kamu mau apa enggak? Kalau mau, ayo. Kalau enggak mau, berarti kamu kurang beruntung, sih, karena enggak mau sama aku."

Another level of percaya diri.

Aku menatap Binar yang kini melanjutkan makannya. Kutatap intens, berniat mencari jawaban. Namun, yang muncul di kepalaku adalah senyumnya, cengirannya, ekspresi cerianya, kecerewetannya, kejujurannya, keunikannya dan kerandomannya.

Tidak ada sedikit pun alasan yang membuatku ingin menolak ....

Aku tidak punya pacar dan aku pun tidak sedang menyukai siapa-siapa, tapi aku ... tertarik untuk mengetahui lebih banyak tentang perempuan ini. Tertarik untuk hidup bersamanya.

"Ayo menikah. Aku mau jadi orang beruntung itu," balasku atas perkataannya tadi.

Binar menyengir. "Pinter!"

"Pilih cincin yang kamu mau dan pilih pernikahan yang kamu mau," kataku tanpa ekspresi. Memangnya aku harus berekspresi apa?

Binar mengernyit. "Eh, tapi kamu suka enggak sama aku?"

"Aku enggak tau, tapi aku tertarik," jawabku.

Binar melongo, memegang kepalanya, terlihat pusing. "Agak membingungkan, tapi ya udahlah, jalanin aja dulu."

Binar mengulurkan tangannya lagi ke arahku. Aku dengan bingung menyambut uluran tangannya.

"Ayo nikah dan mari kita saling jatuh cinta," katanya dengan riang.

Ternyata perkiraan awalku salah. Aku tidak hanya bertemu, berkenalan, lalu menolaknya, melainkan aku bertemu, berkenalan dan berakhir menerima perjodohan ini.

Untuk pertama kalinya setelah beberapa tahun sendiri, aku kembali memikirkan seorang perempuan.

Kali ini, perempuan itu melengket membandel di pikiranku.

Jangan lupa vote dan komen jika menurutmu cerita ini seru

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jangan lupa vote dan komen jika
menurutmu cerita ini seru.
Jangan lupa follow Instagram
nona_gerimis jika ingin mendapatkan
spall-spill dari cerita ini.









Binarrr, maloee ih baru kencan pertama udah makan dua piring 😭😭😭 Mana bilang suka lagi😭 Pelan-pelan dong. Gak ada canggung-canggungnya 🗿

Nata sampe shik shak shok tuh🤣🤣

Bisa dibilang Nata ini menikah karena penasaran awalnya, tapi lama-lama jatuh cinta beneran uwaseeekk 🤣

Kemelut Rumah Tangga Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang