Biasanya ketika kabar kehamilan seorang istri terdengar, suami akan bahagia. Memeluk istrinya penuh sayang dan rasa syukur. Namun rumah tangga Binar dan Nata tampaknya agak lain, karena setelah Binar tahu dirinya hamil, yang di dapat Nata malah ...
...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kalau kamu terlalu lama tidur, kamu harus siap dengan kemungkinan sakit kepala. Kalau kamu terlalu lama duduk, kamu harus siap dengan kemungkinan punggung pegal-pegal. Kalau kamu terlalu lama berdiri di tengah hujan, kamu harus siap dengan kemungkinan sakit. 1 dan 2 aku pernah mengalaminya dan ke-3 aku sedang mengalaminya.
Sakitnya ada dua, sakit demam dan sakit hati.
"Nar, ada Nata."
Aku bahkan tidak terlalu mendengarkan ucapan Bang Bryan, sibuk menyedot-nyedot ingus yang meler dan batuk-batuk tak tertahankan.
"Istrimu lagi sakit, Nata. Enggak usah pulang dulu aja apa gimana?"
"Aku yang bakal ngerawatnya di rumah."
"Yaudah silakan dibawa, jangan dimarahin ya, dia manja kalau lagi sakit."
Mas Nata mengangguk.
Aku sebenarnya masih malas dengan Mas Nata, tapi merepotkan Bang Bryan dan Mbak Ratih lama-lama juga tidak enak. Dia memang abangku, tapi setelah dia menikah, rasanya sudah berbeda. Jadi pilihanku cuma menerima pulang bersama Mas Nata.
"Biar aku bantuin." Mas Nata hendak memegang lenganku berniat membantuku berjalan.
Aku menjauh, menatapnya sinis sebelum menjatuhkan tubuhku ke samping, ke arah Bang Bryan, secara tiba-tiba.
"Heh untung refleks-ku bagus, kalau enggak, udah gelinding kamu di lantai. Mau dipapah kok enggak bilang-bilang dulu."
Aku tidak membalas gerutuan Bang Bryan. Kutarik lengannya untuk menahan tubuhku yang sempoyongan.
Bang Bryan menatapku dan Mas Nata bergantian, tidak mengatakan apa-apa, tapi aku yakin dia tahu kami sedang ada masalah.
Saking bermasalahnya, suasana di mobil pun sangat hening. Kalau Mas Nata diam itu wajar karena biasanya dia memang diam. Tapi kalau aku diam itu baru tidak wajar karena artinya aku sedang marah.
Diam tanpa ada kesibukan lain. Aku tidak bermain ponsel karena kepalaku pusing. Yang kulakukan adalah bersandar pada kursi mobil menghadap jendela.
"Aku mau ke rumah Ibu," kataku pelan dan datar.
Mas Nata menoleh, menatap tajam tanda tidak setuju. "Binar, kalau ada yang salah dibicarakan, jangan kabur."
Alisku mengernyit dalam. "Aku kan cuma ke rumah Ibu, kamu tau tempatnya. Kalau aku pengen kabur, langsung aja ke Korea sekalian, biar enggak nanggung-nanggung."