Pernyataan kelima siswa yang dicurigai sebagai pelaku pembunuhan peringkat satu paralel membuat penyelesaian kasus menjadi makin rumit. Pasalnya, mereka mengaku kehilangan ingatan pada saat kasus berlangsung.
Kelimanya bersepakat untuk menuntaskan k...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
* * *
Kekacauan di sekolah sudah mulai redup karena hampir mendekati jam pulang. Para murid di lobi langsung menyapa saat melihat William yang sudah terlebih dahulu menenteng ransel dan sang ketua menyapa balik pada rakyatnya selagi langkahnya menuju tangga.
Sungguh, William belum terbiasa dengan perubahan ini. Tapi memang, sih, ini merupakan keinginannya sendiri untuk dikenal banyak orang.
Salah seorang di sana berkata, "Sebagian nilai siswa udah berhasil jatuh di bawah KKM."
Langkah William terhenti. "Kerja bagus kalian semua. Bimbingan belajar buat mempersiapkan UAS diadakan besok sepulang sekolah. Kalian diusahakan hadir, ya. Kami bakal bantu."
Semua serentak bertepuk tangan disertai ucapan terima kasih. William balas dengan senyum, kemudian melanjutkan langkahnya melewati tangga untuk mencapai lantai kedua.
Sepasang kaki itu berhenti di satu titik yang tak banyak orang-orang lewat. Melirik ke satu ruang, sorotnya berhasil mengunci satu sosok yang menjadi alasan dirinya menempati tempat ini. Sebelum William sempat mengalihkan pandangan, Luna sudah lebih dulu menghampirinya.
"Gimana situasi di ruang guru?" tanya William tanpa basa-basi.
Luna menyender di tembok sambil menghela napas panjang. Oh, rupanya ia hari ini mengenakan pakaian formal yang seragam dengan para pengajar. "Sesuai perkiraan lo, chaos banget. Guru-guru ikutan menggila di kantor. Yah, tapi mereka belum tahu kalau semua kekacauan ini berasal dari lo, William. Gue udah susah payah cerita kronologi palsu ke mereka. Untuk saat ini, sih, percaya-percaya aja."
William manggut-manggut paham. "Gue ada rencana besok mau kilas ulang materi buat nyiapin UAS ke semua angkatan. Ya, tentunya, bukan gue aja."
"Oh, sama temen-temen?"
Raut William tampak berpikir, lalu pikirannya teringat mereka. "Maksud lo Alodya, Gema, Khalil, Liz? Yang kemarin?"
Luna tertawa. "Iya, siapa lagi? Setahu gue, lo gaulnya cuma sama mereka."
Ah, benar juga.
Membahas tentang itu, William jadi terpikirkan sesuatu. Selama ini, namanya belum pernah absen dari peringkat pertama tiap jenjang sekolah. Memenangi berbagai macam lomba dan olimpiade. Membuat namanya dikenal orang-orang akan kegeniusannya. Tetapi, apakah William—sekali saja—pernah mengenal orang sebagaimana orang mengenal dirinya?
Orang-orang di sekeliling William memang punya kapasitas otak yang serupa dengannya. Lihatlah Alodya, dia terkenal atas sikap yang gigih dan cerdas. Juga lihatlah Gema, dia mahir di segala bidang.
Tapi, bedanya, mereka punya teman.
Menurut KBBI, teman itu adalah orang yang bersama-sama bekerja. Jadi, kalau merujuk pengertian KBBI, orang yang tadi disebut William itu sudah jelas temannya. Namun, cuma sebatas partner saja. Toh, definisi 'teman' menurut kamus dan menurut masyarakat sudah jauh berbeda. Meski begitu, William sadar keberadaan dirinya di lingkaran pertemanan itu hanya sebuah kebetulan (kalau saja dirinya tidak lewat ruang akademi pasti tidak akan sampai sejauh ini) dan, jujur, William sama sekali tidak tahu latar belakang dan bagaimana isi pikiran mereka. Yah, layaknya sebagai teman pada umumnya. Coba tanyakan soal hal yang disukai atau kebiasaan lelaki itu—selain penyakitnya, tentu—pasti mereka tak bisa jawab.