1 Juli, 2020
"Reliza Reiss Anastasia. Panggilannya Liz. Betul?"
Keheningan ruang konseling hanya diusik oleh percakapan dua arah antara Pak Hendra dengan siswi baru yang masih memakai seragam putih-biru di hadapannya.
Gadis rambut pirang dengan muka pucat tanpa riasan itu mengangguk. "Betul, Pak."
"Imigran asing campuran darah Indonesia-Belanda, tanpa orang tua, dengan skor tes masuk di bawah rata-rata. Kamu penasaran kenapa saya loloskan kamu di sekolah ini, Reliza?" tanya Pak Hendra yang menerima raut kebingungan dari lawan bicaranya.
"Tidak tahu, Pak."
"Ambisi." Ia menjawab pertanyaannya sendiri. Mata tajam itu menusuk kornea Reliza dengan lembut. "Kamu punya ambisi untuk jadi aktris besar."
Dada Liz bergemuruh. Kegagalan, balas dendam, motivasi. Sorot pandang Liz berubah. Perlahan ia mulai mengerti konteks yang Pak Hendra bicarakan.
"Sekolah ini punya koneksi. Kalau kamu ikut kerja sama saya, masa depanmu bisa langsung diangkat ke panggung nasional atau bahkan di tanah kelahiranmu, Belanda."
Tanah kelahiran. Jika motivasi Liz diibaratkan seperti piramida, pulang menuju tanah kelahiran berada di puncak teratas. Keinginannya untuk menjadi aktris besar pun ia pertaruhkan demi bisa beranjak kembali ke sana. Namun, kini ia bisa mendapatkan keduanya dengan mudah. Ini merupakan kesempatan emas.
Pak Hendra melanjutkan kalimatnya yang belum usai. "Kalau kamu tetap pertahankan impianmu tanpa privilege, kejadian memalukan di panggung dulu akan terulang lagi. Kamu sekarang bisa manfaatkan saya dan sekolah ini dengan menjadi aktor di dunia nyata."
Kepercayaan dirinya jatuh. Sorot mata Liz berubah lagi. Pria ini sudah ikut campur dengan masa lalunya. Pak Hendra menangkap perubahan itu dengan menyunggingkan senyum seolah keputusannya dalam memilih aktris sudah tepat.
Meskipun gemetar, Liz berusaha tetap tenang. "Kalau saya menolak?"
Pak Hendra masih mempertahankan senyumnya. "Saya cukup yakin kamu akan tetap mengambil peran ini."
Liz memperhatikan kalau pria ini mempunyai level ketenangan yang lain. Ritme detak jantungnya naik satu kali lipat tiap saat kedua pasang matanya berkontak. Entah itu karena takut, atau ... sisi lain dari dirinya mengartikan perasaan ini sebagai tantangan yang mengasyikkan.
"Cukup ikuti script saya, kamu mulai di semester kedua. Kalau kamu berhasil, saya pastikan setelah lulus kamu akan mendapat identitas baru di Belanda."
*
*
*
Hari pertamanya sebagai aktris dimulai. Dibanding dengan penampilan ketika bersama Pak Hendra di semester lalu, kali ini Liz merias dirinya dengan sempurna. Makeup tipis dengan nuansa merah muda, bandana biru langit yang melingkari lehernya, serta ia jadikan rambutnya semakin panjang dan bergelombang. Para murid yang berlalu-lalang di perpustakaan sekolah itu secara otomatis memfokuskan matanya pada kecantikan Liz seiring gadis itu duduk di meja belajar yang tak jauh dari arah dia berjalan.
Buku paket Matematika Peminatan ia simpan di meja dan membuka halaman secara asal. Targetnya adalah lelaki di sebelah yang memakai AirPods sembari mencatat. Liz memulai aksinya dengan menyentuh lengan pemuda itu.
Iris mereka bertemu. Liz membuat lengkungan kurva di bibir merah mudanya. Pandangan lelaki itu terkunci, lalu tanpa sadar melepas sepasang AirPods dan memberi perhatian penuh pada gadis cantik di sebelahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
DEXTER
Mistério / SuspensePernyataan kelima siswa yang dicurigai sebagai pelaku pembunuhan peringkat satu paralel membuat penyelesaian kasus menjadi makin rumit. Pasalnya, mereka mengaku kehilangan ingatan pada saat kasus berlangsung. Kelimanya bersepakat untuk menuntaskan k...
