Pernyataan kelima siswa yang dicurigai sebagai pelaku pembunuhan peringkat satu paralel membuat penyelesaian kasus menjadi makin rumit. Pasalnya, mereka mengaku kehilangan ingatan pada saat kasus berlangsung.
Kelimanya bersepakat untuk menuntaskan k...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Keempat anggota berbalut jas dokter duduk mengelilingi ranjang William dengan raut prihatin. Luna yang sebelumnya menemani William, kini pamit guna memberi waktu untuk mereka.
"Karena kalian semua udah lengkap, gue mau ngaku," celetuk William menatap satu per satu. Kepalanya ia tolehkan ke kanan dan pandangan semuanya tertuju pada luka yang ditutup dengan kapas di belakang telinga kiri.
"Selama ini, gue disadap pake GPS sama ayah," akunya sambil meraba kapas, sesekali mengernyit kesakitan.
Sontak mereka terperangah dan mendekat kepada William dengan spontan.
Baru saja yang lain hendak melontar tanya, Alodya sudah lebih dulu di urutan pertama. Menatap tepat di kedua manik William. Mengintimidasi. "Ayah lo Pak Hendra, kan?"
Raut yang ditanya masih datar. Kadar adrenalinnya tidak berpacu sama sekali setelah otaknya memproses pertanyaan itu. Namun, teman-teman yang lain sudah tahu jawaban pastinya. Respons berupa diam itu sudah membuat mereka yakin.
William akhirnya sudah memantapkan untuk memberi mereka kebenaran yang lain. "Gue yakin pertanyaan kalian bukan cuma itu. Makanya, gue nyuruh kalian ke sini buat ngasih tahu semuanya. Jangan ada yang motong sebelum gue kasih instruksi."
Hening. Keempat siswa yang mengelilingi lelaki itu mau tak mau harus menurut.
William menghirup napas panjang. "Mulai dari GPS ini. Ayah strict parah sama gue. Tiap pulang ngajar selalu mukul. Luka-luka yang gue tutup plester itu gara-gara ayah. Cuma karena gue sebelumnya gak bisa ngerasa sakit, gue jadi kayak batu. GPS yang dipasang tanpa sepengetahuan gue pun baru nyadar waktu dirawat buat nyembuhin penyakit ini.
"Terus, gue yang ngirim surat anonim. Surat-surat yang kalian terima, petunjuk-petunjuk yang kalian pecahin—itu semua gue yang bikin. Inisial D. Dexter, artinya pengguna tangan kanan. Kalian semua lihatnya gue nulis pake tangan kiri, padahal sebenernya gue bukan kidal. Ini semua karena gue pengin mulihin ingatan kalian sedikit-sedikit pake bantuan petunjuk itu. Surat di mading juga gue yang sengaja tempelin biar orang-orang gak lupa sama kasus Virgi. Tentunya gue gak tahu gimana persisnya Virgi dibunuh—ya, itu cuma ngarang.
"Soal manekin, gue yang bikin sekaligus ngirim ke kepala sekolah. Apesnya, Gema sama Khalil yang lebih dulu nemuin manekin itu. Gue kirim sebagai tanda peringatan karena pihak sekolah ikut andil sama terbunuhnya ibu. Meski beliau meninggal pas lahirin gue, sebelumnya mereka bikin eksperimen buat nyembuhin penyakit CIPA yang sekarang lagi diuji ke gue. Gue juga pura-pura diculik biar ingatan kalian pulih tentang penculikan Virgi," jelasnya. William mendongak dan bertemu tatap dengan orang-orang di sekitarnya.
Dia kira, akan banyak tatapan marah dan tidak suka setelah pernyataan panjang lebar barusan. Tetapi, ia tidak menemukannya dari tiap muka mana pun. William terkejut dan sedikit bingung. Mungkin seperti Liz yang mencelos, juga Khalil dan Gema yang terperanjat. Yah, itu reaksi yang normal.