[09] Newton's Third Law: Action & Reaction

649 68 8
                                        

"Dia belum ngeluarin sifat aslinya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


"Dia belum ngeluarin sifat aslinya." Kepalan tangan William berlapis sarung tinju merah hampir mengenai rahang penantang. Belum sampai sedetik, lawan menangkis. Bertemu dalam satu tatap dengan dua kepalan tangan melindungi leher kiri-kanan.

"Misi kedua," sahut Luna dengan napas terengah-engah. "Gue harus mancing Liz buat nunjukin watak aslinya, kan?"

Dua pasang pijakan kaki di atas ring berlangsung selama 5 menit. Bisa ditebak, tidak mungkin sparing ini didasari atas kemauan William. Tubuh area sensitif sudah dihujani tonjokan bertubi-tubi oleh si pemukul. Tanpa ampun. Meski begitu, William tidak merasakan sakit.

"Ada trauma yang ngebuat watak palsunya di panggung jadi kebawa ke dunia nyata." Lirikan mata lelaki itu terjun ke bawah tanpa mengubah posisi.

Dan Luna memanfaatkan momen lengah tersebut. "Oh, ya?" Tonjokan terakhir datang menghujam perut William. Wajahnya luar biasa terperangah bersamaan dengan suara erangan satu oktaf sebagai respons atas rasa sakit. Mendadak, pikiran keduanya terkoneksi satu sama lain.

"Lun, gue...."

Masih William yang sama yang 7 menit lalu menjadi samsak pukulan tinju si guru magang. Air muka datar, tidak bersuara, seolah sarafnya mati. Hanya saja di detik ini, sebuah perbedaan besar menjadi alasan keduanya tidak bisa berkutik. Air muka kesakitan, suara erangan yang hanya terdengar satu oktaf, layaknya aliran listrik di seluruh tubuh berfungsi kembali dengan normal.

Masih meraba area tonjokan tadi, tubuh William mematung karena sinyal otak dari neuron baru pertama kali menerima sinyal asing yang entah kenapa terasa... sakit. Seolah ada bagian dari tubuh yang membantu refleksnya dari rangsangan berbahaya. Dan momen ini terjadi untuk yang pertama kalinya.

"William, hei! Denger! Lo udah bisa ngerasain tonjokan gue?"

Suara itu dalam otaknya lama-lama makin memudar seiring penglihatan yang terasa kabur dan akhirnya lenyap begitu saja di udara. Detik berikutnya, tubuh itu ambruk. Matanya terpejam.

"LIAM!"

Luna berteriak sebelum kepala William terjatuh. Begitu berhasil ditumpu, tubuh itu sudah tertangkup di balik punggung si guru magang. Berdiri dengan susah payah, melewati jaring-jaring pembatas dengan berbagai kemungkinan bergerumul di pikiran.

Momentum pertama sudah terealisasi. Begitu momentum kedua datang, Luna yakin pikirannya akan dipenuhi setumpuk ekspektasi. Semoga.

*
*
*

"Persetan, anjing, ah. Attention span gue udah nurun. Ogah banget harus nunggu lagi." Dada Gema naik-turun. Tensinya sudah level maksimal. "Dia ngelakuin apaan, sih, sampe kena hukuman dijemur 3 jam?"

"Mana gue tau," sahut Khalil tak acuh. Sebagai refleks ketika merasa bosan, ia menumpu dagunya di telapak tangan kanan. "Daripada buang waktu, ikut gue ke ruang OSIS."

DEXTERTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang