Pernyataan kelima siswa yang dicurigai sebagai pelaku pembunuhan peringkat satu paralel membuat penyelesaian kasus menjadi makin rumit. Pasalnya, mereka mengaku kehilangan ingatan pada saat kasus berlangsung.
Kelimanya bersepakat untuk menuntaskan k...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Karena kalian semua setuju, gue udah resmi keluarin Satria dari organisasi kita."
Bahaya jika terlihat oleh keramaian. Setelah selesainya jam pelajaran, di kamar asrama masing-masing, seluruh anggota membuat keramaiannya sendiri lewat video call group.
Arga menurunkan sedikit volume laptopnya sebab tiap pengguna bersorak atas keputusan yang ia buat. Bersender pada punggung kursi, pandangan Arga menyorot satu wajah di sudut layar yang terlihat jelas bahwa terdapat amarah dalam rautnya. Serentak, anggota lain pun mengikuti.
"Ada kata-kata terakhir?"
"Awas aja. Lo semua pasti nyesel udah ngeluarin gue!"
Sang tokoh utama keluar paksa dari panggilan. Kini panggilan grup itu hanya tersisa 13, termasuk dirinya—si pahlawan yang menyebabkan terciptanya peraturan tentang pengurangan nilai.
Tepatnya semua usai ketika mantan Ketua OSIS itu perlahan memunculkan warna aslinya, dan tentu saja, organisasi mereka tidak butuh pemimpin seperti itu. Segala kuasa resmi dilimpahkan pada Arga, yang bahkan tidak perlu dibahas oleh mereka. Sebab semuanya sudah tertanam pola pikir serupa.
"Oke, Ar, lo mau lanjutin organisasi ini tetep jalan?" tanya salah satu anggota dalam layar.
"Gue rasa iya."
"Walaupun aturan semester ini udah berubah?"
"Gue tinggal bikin kebijakan baru," jawabnya enteng.
"Kebijakan baru?"
"Gini, gue gak bisa ngebantu soalnya masih diskors, jadi harapan gue cuma kalian. Dengerin baik-baik, jangan nanya dulu," Jeda sebentar, "gimanapun caranya, kalian harus bikin semua nilai siswa—"
Ada sebuah distraksi berupa ketukan pintu. Arga mengisyaratkan mereka untuk diam, lalu mengintip ke celah untuk memeriksa seseorang di baliknya.
Pintu kamar dibuka. Arga hanya memunculkan sebagian badan. "Ada apa?" tanyanya malas.
"Oh, hai! Lo pastinya tahu gue, kan?" Khalil menyapa canggung.
Arga membalas dengan anggukan. "Lo yang nanya-nanya ke gue soal Virgi. Mau apa ke sini?"
"Gue boleh... masuk?"
Hampir menutup pintu, Khalil refleks menahan. "Ini tentang Satria."
Tekanan dari dalam jadi otomatis mengendur. Pintu terbuka sepenuhnya.
"Tunggu bentar."
Setelah mematikan laptop, pintu itu terbuka lebar. "Masuk."
Tidak ada yang aneh dari kamar Arga. Sama seperti tata letak ketika kamar baru saja dibangun, bedanya hanya terdapat setumpuk buku, laptop, dan stiker perguruan tinggi unggulan se-Indonesia di atas meja belajar.