[15] He's Out of Your League

581 61 1
                                        

Lift asrama lantai bawah terbuka

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Lift asrama lantai bawah terbuka. Dua murid yang menenteng tas di punggung mulai melangkahkan kakinya.

"Oke, ini gila, tapi kayaknya gue harus ngasih tau lo."

Pintu lift perlahan menyatu. Mendengar kalimat bermakna tanya barusan, Khalil yang presensinya berada di belakang punggung Alodya sontak menautkan alis setelah berbalik badan.

"Apa? Jarang banget lo ngucap kalimat kayak barusan."

Bersamaan dengan terbukanya mulut Alodya, jarak 3 senti yang dimiliki kedua pintu lift otomatis terhenti. Ada sesuatu yang menahan mereka. Sesuatu seperti ... jari?

Detik berikutnya, pintu itu terbuka kembali. Dua penghuni secara naluri menanti seseorang di balik pintu. Setiap bagian anggota tubuh yang ditutupi plester, atribut lengkap dengan almamater, dan satu benda yang membedakan antara murid penerima jabatan tertinggi dengan pelajar biasa; tag hitam bertuliskan OSIS di lengan kiri.

Kini Khalil tak memilikinya lagi. Sementara si pengguna tag hitam mulai melangkah dan berpijak kaki di antara dua penghuni sebelumnya. Menekan tombol bertuliskan angka enam, lift otomatis naik.

"Tadi lo mau bilang apa?" tanya Khalil agak mencondongkan badan ke depan guna melihat lawan bicara secara jelas.

Alih-alih mengeluarkan sepatah kalimat, Alodya menjawab dengan gerakan isyarat. "Nanti aja. Lo gak paham situasi sekarang, apa?" Kira-kira terjemahannya seperti itu.

Khalil kembali ke posisi semula. Berdehem pelan, ia berbicara lagi. Namun kali ini tujuannya dengan penghuni lain.

"Selamat udah jadi Ketua OSIS."

Merasa kalimat tersebut ditujukan untuknya, William menoleh sebentar. "Thanks." Ia menjawab dengan raut datar.

"Lo jadi ketos... apa salah satu alasannya buat jalanin misi?" Pertanyaan kedua diajukan oleh Alodya.

Kini William menoleh ke arah kiri, tetapi dengan durasi yang lama.

"Ya, karena di mata gue, lo bukan tipe yang sukarela join organisasi apalagi ini jabatan tertinggi," jelasnya, "jangan jawab kalo ngerasa gak perlu."

William menggeleng. "Sorry gak ngasih tahu soal ini."

Satu-satunya gadis di ruangan itu terdiam sebentar. Jujur saja, ia sedikit terkesan dengan pemikiran William yang tak biasa. Seperti melawan zona nyaman untuk meraih kekuasaan dan entah bagaimana caranya ia bahkan membuat salah satu guru berada dalam satu kubu bersamanya. Yang Alodya herankan lagi, ia merasa tersihir dengan perkataan William perihal mengajaknya untuk menjalin kerja sama.

"Apa yang bakal lo lakuin habis ini?" Alodya siap untuk mendengar rencana gila yang diciptakan otak William.

Namun, selama kedua orang di depan saling berdialog, Khalil diam-diam mendengar dan menyatukan korelasi dari inti yang ditangkap. Ia menyela dengan sebuah kalimat tanya.

"Ini apa ada hubungannya sama kepsek?"

Dua pasang mata melirik si pemilik iris hitam legam.

Masih belum puas, Khalil mengajukan teori lain. "Gue gak tahu apa yang kalian bicarain, tentang misi atau apalah itu, tapi gue rasa kejadian janggal di sekolah ini saling berhubungan. Dan seandainya beneran, petunjuk yang bakalan kita terima tiap Minggu bisa jadi ngemudahin kita buat cari tahu pelakunya."

William manggut-manggut. Menyilangkan tangan di dada, ia berbicara pada Alodya tanpa melirik. "Kalo gue rekrut satu orang lagi, lo keberatan?"

Seolah tahu siapa yang dibicarakan, Alodya menjawab cepat. "Why not?"

Pintu lift terbuka. William berjalan duluan, diikuti dua orang di belakang meski tujuan mereka sebelumnya bukan di lantai enam.

"Lo gabung sama kami buat jalanin misi," ucapnya selepas berbalik badan. "Ini bukan misi biasa, makanya gue pilih orang-orang yang gak biasa."

"Al, lo juga tahu tentang ini?"

"Belum lama." Alodya jawab seadanya.

"Oke. Gue ikut kalo Alodya juga ikut," putusnya tanpa pikir panjang.

Sempat memandang sinis walau sebentar, si peraih gelar Ketua OSIS mengalihkan pembicaraan setelah mengirim fail lewat private chat. "Buka. Gue ada misi khusus buat lo."

Sedetik setelahnya, nada dering dan jendela notifikasi dari William muncul secara bersamaan. Meski bingung, tetap saja rasa penasaran membuat jari refleks membukanya.

"Apa isinya?"

Suara perempuan menggema penuh tanya perlahan memudar seiring pikiran yang mensugesti untuk fokus pada permasalahan utama. Baik itu raut yang membentuk sebuah amarah, dentuman jantung yang begitu kencang, si pengirim fail menarik satu sudut bibir karena sesuai prediksinya.

"Lo udah tahu harus ngapain, kan?" William menunduk sedikit untuk melihat wajah Khalil.

Selepas menelisik setiap kata yang tertera pada layar, ia menatap William penuh keraguan. "Gak mudah nyari informasi kayak gini. Jujur aja, lo dapet dari mana?"

"Ada. Dikasih tahu sama anggota misi yang lain."

"Siapa?" Khalil makin penasaran.

"Konteks 'siapa' yang lo tanyain sekarang gak penting, Kak. Kalo butuh bantuan chat gue aja."

"Dih, sok misterius banget. Tapi kalo gue butuhnya sama anggota misi lain gimana?"

William berdecak. Ia memutar kedua bahu Khalil dan mendorongnya menuju lift. "Lo jangan ngeselin, ah. Sana pergi."

Langkah Khalil mengikuti dorongan super kuat hingga bertapak di tempat tujuan. Ia berbalik. Mengabaikan William, matanya menyorot lurus pada satu gadis cantik di belakang. Geraknya masih sama. Garis senyum yang diterbitkan Khalil mencipta dua lekuk pada pipi, lalu ia lemparkan ransel itu dan mendarat sempurna di pelukan Alodya.

"Titip, ya. Nanti gue ceritain tentang petualangan hari ini."

Alodya terdiam sebentar, sebelum perlahan tersenyum. Dianggukan kepalanya seraya merekatkan ransel di pelukan. "Stay safe, Khal."

Entah bagaimana, sebagian oksigen terasa masuk secara paksa ke dalam tenggorokan. William terbatuk-batuk.







DEXTERCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang