Pernyataan kelima siswa yang dicurigai sebagai pelaku pembunuhan peringkat satu paralel membuat penyelesaian kasus menjadi makin rumit. Pasalnya, mereka mengaku kehilangan ingatan pada saat kasus berlangsung.
Kelimanya bersepakat untuk menuntaskan k...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Sial. Kita bener-bener sial." Suara Khalil, terdengar frustrasi. Dua pasang mata melihat langsung di balik layar monitor menyaksikan kejadian barusan. Dari jarak sejauh ini, mereka mustahil menanyakan secara detail apa yang terjadi di menit lalu.
"They know, right?" William bertanya melalui walkie-talkie tanpa melepas pandangan dari layar monitor.
Jari telunjuk diketuk-ketuk pada salah satu bagian dari walkie-talkie, menanti di seberang sana untuk memberi jawaban, sesekali melirik Alodya yang tergambar panik di seluruh wajahnya.
Lima detik, belum ada jawaban. Suara dari alat komunikasi tersampaikan dari Gema dan Liz terkait konteks pertanyaan ini, tetapi masih sama. Belum ada jawaban dari Khalil. Kedua anggota di ruang CCTV kembali melihat layar monitor paling bawah—yang sejak tadi mereka perhatikan, dan, Khalil membuat gerakan di sana tanpa suara.
Ia mengangkat kedua tangannya—telapak terbuka, seimbang, mengangkat setinggi dada. Seperti ada gerakan mulut, tetapi kurang jelas karena kualitas CCTV buruk. Namun, mereka terus mengamati gerakan tangan selanjutnya. Tangannya bergerak maju-mundur, pelan dan terkendali, seperti seseorang yang baru tahu kalau mereka diawasi.
Gerakan itu selesai pada hitungan kedua kali. Mereka tertegun sejenak.
"Bahasa isyarat." Ini kesimpulan yang pertama kali muncul di otak Alodya. "Khalil pake bahasa isyarat, yang artinya ... hati-hati."
Degup jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. "They know, Liam. Pihak sekolah udah tahu rencana kita, padahal kita udah mastiin rencana ini tersusun tanpa celah! Bahkan kita baru jalanin tahap pertama ...."
Sementara si lawan bicara tampak tidak goyah dan deru napasnya netral. Berbagai strategi mungkin sudah tersusun rapi di kepalanya. Kembali ke realitas, tangan William meraih tangan kiri Alodya. Atmosfer di sana mendadak beku.
Gadis itu mematung.
"Lo tahu nggak alasan gue milih lo buat mantau di ruang CCTV?" tanya William.
Tidak ada jawaban. Alodya di detik itu masih hilang akal.
"Karena gue percaya sama lo," lanjutnya melepas genggaman. "dan sekarang kita pisah."
"Tiba-tiba banget???" Alodya terkejut bukan main. "Dalam konteks apa?"
"Gue ada rencana lain yang harus dilakuin sendiri. Anggap aja ini plan B."
"Tapi—"
Suara Alodya tertahan di udara. Ini William. Ketua OSIS, peringkat satu paralel di kelas 11, dikenal karena titel genius—yah meskipun Alodya juga sama, tetapi sudah pasti rencananya dipikirkan matang-matang. Apalagi orang yang ia perangi adalah ayahnya sendiri.
"Gue titip ruangan ini sama lo. Tolong, ya, Al." William mengucap kalimat terakhir selepas berdiri. Lengkungan kurva tergambar di bibirnya, lalu ia berbalik mencapai gagang pintu.