Pernyataan kelima siswa yang dicurigai sebagai pelaku pembunuhan peringkat satu paralel membuat penyelesaian kasus menjadi makin rumit. Pasalnya, mereka mengaku kehilangan ingatan pada saat kasus berlangsung.
Kelimanya bersepakat untuk menuntaskan k...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Langkah Gema menapaki anak tangga menuju atap rumah sakit, diiringi suara gemerincing gantungan kunci yang menggantung di tas hitamnya. Cahaya temaram dari lampu lorong memantulkan bayangan samar di dinding, menambah kesan misterius di tempat yang sudah senyap sejak matahari terbenam.
Rumah sakit ini bukan fasilitas medis umum. Dibangun khusus untuk siswa SMA Intellegend, luas dan kelengkapannya jauh dari standar rumah sakit pada umumnya. Jam operasionalnya pun tak lazim—tutup menjelang malam dan dibuka saat fajar menyingsing.
Rumor di kalangan siswa menyebutkan bahwa rumah sakit ini mendapat suntikan dana dari keluarga ayah Liz yang asli Belanda. Itulah sebabnya interiornya dipenuhi dengan sentuhan arsitektur klasik khas Eropa—jendela-jendela besar dengan rangka kayu putih, langit-langit tinggi yang dihiasi molding elegan, serta lantai marmer dingin yang memantulkan cahaya redup dari lampu gantung. Namun, modernisasi tetap dilakukan di beberapa titik, seperti pemasangan kunci biometrik di ruang-ruang tertentu. Sisanya hanya mengandalkan kunci biasa seperti pintu atap.
Cklek.
Dua pintu besi terbuka. Udara malam mengalir bebas, membawa aroma khas beton basah yang mungkin berasal dari sisa hujan siang tadi. Atap ini bukan sekadar tempat kosong—di ujungnya terdapat kursi besi tua yang berkarat, cukup untuk dua orang dengan meja kayu bundar di depannya. Cat meja sudah memudar dan warnanya hampir menyerupai rambut cokelat Gema. Dari sini, ia bisa melihat sebagian gedung sekolah di kejauhan. Siluet bangunannya berdiri tegak di bawah langit gelap.
Gema duduk sembari mengeluarkan laptop dan flash disk dari tasnya, lalu menyalakan perangkat dengan cekatan. Cahaya layar laptop menjadi satu-satunya sumber terang di tempat ini, menciptakan kontras dengan sekeliling yang remang-remang.
Begitu sistem siap, ia menekan tombol PTT di walkie-talkie dan berbicara dengan suara tegas.
"Tim, cek posisi. Gue aman. Proses hacking dimulai."
Di ruang CCTV, Alodya dan William memperhatikan layar yang menampilkan gambar Gema dari sudut atas. Monitor-monitor di ruangan itu berjejer rapi, menampilkan berbagai sudut rumah sakit yang nyaris kosong. Alodya menekan tombol, suaranya terdengar jelas di telinga Gema.
"CCTV aktif. Total ada empat satpam dibagi dua per lantai. Koridor barat lantai 3, sisanya di lantai 2 deket tangga utama."
Khalil menyusul. "Gue udah di posisi. Lantai bawah, menuju tangga utama. Jebakan siap dipasang. Over."
Liz, yang berada di area generator, melaporkan dengan nada santai. "Generator aman, tinggal nunggu kode."
Gema menarik napas, jemarinya sudah bersiap di atas keyboard.
"Oke, jalan. Gue mulai bobol server. Over and out."
* * *
Dengan kabel nilon transparan dan sebuah gunting di kedua telapak tangannya, Khalil memutuskan untuk memasang jebakan di koridor dekat tangga utama. Selain itu, di ujung tangga, terdapat rak besi besar yang tampak sudah lama tidak dipindahkan. Ini merupakan sudut paling strategis untuk menumbangkan dua orang sekaligus.