30 Juli, 2022
"Liz, kayaknya mereka besok bakal mulai lagi. Aplikasi Couple Tracker masih ada, kan? Tolong pantau lokasi aku, ya. Hope we can meet again, really. Love u."
Di minimarket dekat sekolah dengan mata sembab, jaket gelembung cokelat gelap oversize, dan topi hitam dengan rambut yang diikat seperti penari balet. Itu tiga deskripsi yang tepat untuk menggambarkan Liz sore ini. Tangannya masih pura-pura memilih barang di etalase, sedangkan tatapannya terus tertuju pada Virgi yang terlihat sedang menunggu seseorang.
Begitu matanya menangkap William di pintu masuk, adrenalin langsung mengalir deras dalam pembuluh darah. Virgi dan William secara natural berpindah posisi di etalase paling pojok, juga Liz yang perlahan-lahan mendekati mereka hingga berhenti di belakang etalase dekat keduanya.
"Tenang aja, lo nggak bakal mati."
Itu suara William. Dia berucap setengah berbisik. Sepertinya percakapan sudah berlangsung beberapa menit lalu seiring Liz mendekati mereka.
"Gue udah minta maaf soal kejadian dulu. Kali ini tolong biarin gue, Will."
Dada Liz serasa ditusuk mendengar Virgi yang melirih.
"Mau lo minta maaf miliaran kali pun, bokap gue bakal tetep jalanin rencananya."
Terdapat jeda lima detik.
"Lo butuh apa lagi dari gue?"
Amarahnya naik ketika mendengar itu, tetapi William berhasil menahan. "Satu, penyakit gue belum sembuh total. Dua, kesalahan lo belum dihukum jera. Bokap gue nggak akan biarin lo mati. Dia mau lihat lo hidup dengan penderitaan." Perkataan William pelan, tetapi terdengar serius. Virgi sampai tidak bisa mengucap sepatah kata pun.
William menatap arlojinya. Sisa tiga menit lagi. "Gue mau lo keluar dari sini dalam 40 detik. Jangan berani buat kabur."
Tanpa sempat menatap William, Virgi berbalik badan lalu berjalan dengan tempo pelan mengikuti lagu RnB di speaker toko. Ada segenggam botol minum di tangannya. Lantas barang itu ia biarkan diambil alih kasir untuk scan barcode. Harga sudah tertera. Uang tunai berjumlah pas sudah diterima kasir. Detik ke-25, Virgi melewati pintu keluar. Langkah kakinya berjalan tidak beraturan seraya menengok kanan-kiri. Siapa pun yang di sana akan mengira kalau orang ini pasti habis mencuri, padahal hatinya gugup setengah mati.
Di teras minimarket, ada yang sama gugupnya. Liz membaur duduk bersama tongkrongan tak dikenal di teras kursi depan. Ia menggunakan titelnya sebagai aktris dan dengan mudah berkamuflase. Pandangannya tak luput dari ponsel genggam yang menampilkan lokasi terkini Virgi dari aplikasi Couple Tracker. Sepersekon detik kemudian, kecepatan lokasinya menjadi tiga kali lebih cepat. Mustahil dia bisa berlari sekencang itu, kecuali jika aksi penculikan menggunakan mobil baru saja dimulai.
Liz sudah memastikan keberadaan William benar-benar lenyap. Salah satu teman tongkrongan bilang bahwa lelaki itu sudah pergi ke arah kanan, yang mana masih searah dengan Virgi. Liz masih mempertahankan posisinya untuk menunggu ikon kecil itu berhenti bergerak. Nihil, lokasi Virgi malah berputar-putar melewati jalan yang sama. Sesekali mengarah ke jalur lain untuk meminimalisasi kecurigaan. Liz sampai berspekulasi kalau aplikasinya eror.
Namun spekulasi itu tidak bertahan lama. Lokasi Virgi berbalik arah mendekati posisi Liz berdiam diri dengan rute yang jarang dilalui pengendara. Ikon itu terus berjalan melewati gedung sekolah, lalu kecepatannya terhenti di lokasi yang membuat alis Liz mengernyit sesaat.
Rumah Sakit Intellegend.
"Gue cabut dulu, ya. Makasih udah biarin gue join."
Dari sekian lokasi penculikan, Rumah Sakit yayasan sekolah menjadi opsi terakhir yang diprediksi otak Liz. Kecepatan kayuhan sepedanya hampir menyaingi atlet internasional hingga ia sampai dengan cepat di depan gedung lokasi tujuan. Sepedanya diparkirkan sembarang arah. For God's sake, pikiran Liz seiring berjalan hanya diisi sumpah serapah pada tokoh paling menjijikan selama ia menjalani perannya. Dan tokoh itu menjejakkan kakinya di gedung ini. Gedung hasil suntikan dana ayahnya sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
DEXTER
Misterio / SuspensoPernyataan kelima siswa yang dicurigai sebagai pelaku pembunuhan peringkat satu paralel membuat penyelesaian kasus menjadi makin rumit. Pasalnya, mereka mengaku kehilangan ingatan pada saat kasus berlangsung. Kelimanya bersepakat untuk menuntaskan k...
